1 November 2008 • Ketertarikan, Keyakinan, Pelampiasan, Penerawangan, Renungan • ardyansah

If I die tomorrow
I’d be allright because I believe
That after were gone
The spirit carries on

blog mantan kiai, blog mantan santri, blog santri, blog demokrasi, blog indonesia, blog pemikiran, blog perenungan, blog imajinasi, blog mantan kyai, blog kyai, blog islam, blog islam-indonesia, blog menulis, blog non-doktrin, blog desain grafis, blog keragaman, blog indonesia, blog jawa timur, blog tuban, blog surabaya, blog kejawen, blog merdeka, blog sampah, blog kyai tuban, blog kyai surabaya, blog kyai indonesia, blog kiaiAnda tahu berapa banyak manusia yang datang dan pergi, menuju dan meninggalkan kehidupan di planet ini? Jika anda mau tahu, cobalah anda tengok sebentar ke jendela sebelah ini. Saya menemukannya dari bookmark saudara saya, sebuah situs atraktif yang memuat simulasi data jumlah manusia yang lahir dan meninggal dari seluruh penjuru bumi. Selain itu, situs ini dilengkapi dengan visualisasi emisi gas berbahaya (CO2) berlatar belakang hamparan peta dunia, dipercantik efek-efek visual yang cool, membuat keseluruhan tampilan situs ini semakin menarik dan layak untuk dikunjungi kembali.

Data yang disajikan (birth rate dan tingkat emisi CO2) -diklaim- berasal dari sumber-sumber yang terpercaya, tetapi meski demikian animasi penunjang data (termasuk nilai data) yang ditampilkan -menurut saya- bukan kondisi realtime, karena ketika koneksi internet saya terputus, data penduduk yang lahir dan meninggal terus bertambah. Nah ???

Mengabaikan kejanggalan data itu, anda akan melihat betapa kematian bisa datang di Jakarta, Bali, Yerusalem, Kabul, Mosul, Sao Paulo, Madrid, New York, atau dimanapun. Malaikat maut bisa terbang menghampiri kita dari samping, atas, bawah, bahkan mengancam tepat di depan hidung kita. Tak ada yang bisa mencegah. Kematian juga bisa datang dengan berbagai macam cara, Izroil tak pernah kehabisan “kreativitas” untuk “menghabisi” wujud wadag kita. Dia bisa datang secara “personal” ketika kita sedang sendirian diatas tempat tidur, bisa pula secara “massal” lewat perantaraan muntahan gunung berapi, guncangan bumi, atau sesekali sapuan tsunami. Apapun dan bagaimanapun itu, kematian sejatinya tak harus selalu ditangisi, meskipun dia sering kali pergi meninggalkan duka, air mata, warisan, juga dendam yang meradang.

Tanyakan tentang kematian kepada Amrozi. Tanyakan berapa luas petak surga yang dia dapatkan untuk setiap potong kaki dan tangan yang bisa dia lepaskan dari badan orang-orang kafir. Tanyakan berapa banyak bidadari yang akan menemaninya untuk setiap hati yang dia hancurkan. Jangan pula lupa tanyakan, apakah “hanya” itu yang dia kejar. Tanya terus sampai kita mendengar jawaban dari bibirnya yang selalu menyungging senyum, jawaban selain teriakan “Allahu Akbar”.

Barangkali Amrozi tidak perlu menjawab satupun pertanyaan kita yang -pasti- tak akan mampu menjangkau dan memahami frame berfikir seorang mujahid. Toh, selama ini -dia merasa- tidak ada yang salah dengan dirinya. Dia sudah “bahagia” dengan hidup yang menjadi pilihannya, sebagaimana dia akan tetap “bahagia” menjemput kematian dengan cara yang menjadi pilihannya pula.

Data di breathingearth mungkin tidak shahih, mungkin juga tidak representatif, atau bahkan keliru sama sekali. Arti kematian juga mungkin akan sangat berbeda bagi Amrozi, anda, atau saya, tetapi toh kita akan mati juga. Biarlah, biarlah kematian tetap menjadi misteri. Sementara saya sendiri meyakini apa yang sering diucapkan Cak Nun dalam berbagai acara binaannya, bahwa kita hidup di dunia ini cuma mampir ngombe (numpang minum) untuk kemudian melanjutkan perjalanan. Jadi, adakah yang mau ngajak saya “ngombe” ??? :D

***

Kalau ada yang ngajak saya “ngombe”, mari sambil menikmati lagu kematian dari Drim Titer ini …

Where did we come from?
Why are we here?
Where do we go when we die?
What lies beyond And what lay before?
Is anything certain in life?

They say, life is too short,
The here and the now
And you’re only given one shot
But could there be more,
Have I lived before, Or could this be all that weve got?

If I die tomorrow
I’d be allright because I believe
That after were gone
The spirit carries on

I used to be frightened of dying
I used to think death was the end
But that was before Im not scared anymore
I know that my soul will transcend

I may never find all the answers
I may never understand why
I may never prove What I know to be true
But I know that I still have to try

{ 19 Comments } to Simulasi Kematian

  1. GG

    Kematian hanyalah tidur panjang, demikian kata bit G. Ade

  2. adipati kademangan

    Meski sudah bersetatus mantan, ternyata ilmunya masih ada dan bisa diambil berkahnya

  3. Ersis Warmansyah Abbas

    Allahu Akbar

  4. syamsu

    Ngombe – ngombe dimana kita malam ini pak kyai ?? :-p

  5. trendy

    mesti siap mati!

  6. Ahmad

    Saya sangat menyukai kalimat di bawah ini:

    Tanyakan tentang kematian kepada Amrozi. Tanyakan berapa luas petak surga yang dia dapatkan untuk setiap potong kaki dan tangan yang bisa dia lepaskan dari badan orang-orang kafir. Tanyakan berapa banyak bidadari yang akan menemaninya untuk setiap hati yang dia hancurkan. Jangan pula lupa tanyakan, apakah “hanya” itu yang dia kejar. Tanya terus sampai kita mendengar jawaban dari bibirnya yang selalu menyungging senyum, jawaban selain teriakan “Allahu Akbar”.

    Duh, betul-betul mengoyak kesadaran akan arti hidup!

  7. Epat

    toss! jangan pernah ada sadar diantara kita!
    *cleguk….

  8. kyai slamet

    toak, toak, mana toaknya!!!!!
    ***sakaw***

  9. mochal

    mengingatkan betapa deketnya kita dengan kematian dan betapa jauhnya kta terhadap sang pencipta

  10. Gelandangan

    yah itulah keadilan tuhan mas

  11. Dony Alfan

    Lagune pancen masuk banget neng ati.
    Mati itu kan sudah ditentukan Gusti Allah, sing penting awakke dewe akeh ndonga, mugi2 dipundut pas wayah sing apik, ora pas kebak dosa.

    Btw, kae lho wes ditunggu kyai Slamet neng pos ronda, ngajak ngombe jare, wekekeke

  12. Andy MSE

    Sudahlah XKH, ga usah mikirin Amrozi…
    Sudah jelas pula bahwa malaikat maut itu bertangan sejuta, ga usah dibahas lagi!
    *mari saya temani minum mensyen dan congyang saja!

  13. sapimoto

    Spirit Carries On bikin merinding…
    Tapi sepertinya lebih bikin merinding liat situs yang menampilkan jumlah CO2…
    Hidup ini makin lama kok makin susah dan makin tidak sehat… :)

  14. leksa

    mari menikmati lapen jogja bersama satu album “mengenang tayangan memori”
    :D

  15. Iman Brotoseno

    sepakat dengan Ahmad, petikan quote mu sangat menyentuh..Mengonyak pencaharian manusia yang tak pernah tahu rahasiaNya.

    Btw : Nggak Vektor Amrozi ??

  16. galih

    Urusan surga atau neraka adalah di tangan-Nya. Bukan hak manusia untuk membicarakan atau menganalisisnya. Wallahualam.

  17. Kyai Hansen

    Saya jauh lebih suka Drim Titer daripada Amrozi
    Seandainya Amrozi dkk bikin band, mungkin aliran yg paling cocok adalah Brutal Death Metal, dan lirik lagunya adalah tentang pembunuhan secara brutal

  18. genthokelir

    yah sebegitu lah cara pandang setiap insan berbeda ya mas begitu pula dengan cara mati
    lawas gak minum mas hehehe

  19. alex

    save to my Bookmarks ;)

Leave a Reply


1 June 2010 • Pekerjaan • ardyansah

Ketika mendengar “canting”, orang pasti terpikir perangkat mungil berbentuk cawan dengan pegangan dan ujung “pena” yang biasa digunakan oleh seniman batik untuk menggores dan memberi sentuhan akhir untuk karya-karyanya. Canting adalah simbol kesadaran untuk berkarya. Kecil, bersahaja, tetapi sangat besar peranannya. Barangkali filosofi inilah yang mendasari Derry Sunarso, sutradara rendah hati yang karyanya banyak terinspirasi kemegahan [...][...]

26 January 2010 • Ketertarikan, Pekerjaan, Penuturan • ardyansah

Menulis, -menurut saya- dalam banyak hal tak jauh berbeda dari mendesain. Sama-sama merancang, sama-sama mengandalkan ide sebagai ruh, sama-sama bekerja dengan imajinasi (dan atau fantasi), sama-sama membutuhkan kreativitas untuk mengemasnya menjadi sebuah entitas karya,  juga yang pasti sama-sama tak mudah mengerjakannya. Estetika dalam desain bisa dinilai dari bentuk, komposisi, warna, dan elemen-elemen visual lainnya. [...][...]