…
If I die tomorrow
I’d be allright because I believe
That after were gone
The spirit carries on…
Anda tahu berapa banyak manusia yang datang dan pergi, menuju dan meninggalkan kehidupan di planet ini? Jika anda mau tahu, cobalah anda tengok sebentar ke jendela sebelah ini. Saya menemukannya dari bookmark saudara saya, sebuah situs atraktif yang memuat simulasi data jumlah manusia yang lahir dan meninggal dari seluruh penjuru bumi. Selain itu, situs ini dilengkapi dengan visualisasi emisi gas berbahaya (CO2) berlatar belakang hamparan peta dunia, dipercantik efek-efek visual yang cool, membuat keseluruhan tampilan situs ini semakin menarik dan layak untuk dikunjungi kembali.
Data yang disajikan (birth rate dan tingkat emisi CO2) -diklaim- berasal dari sumber-sumber yang terpercaya, tetapi meski demikian animasi penunjang data (termasuk nilai data) yang ditampilkan -menurut saya- bukan kondisi realtime, karena ketika koneksi internet saya terputus, data penduduk yang lahir dan meninggal terus bertambah. Nah ???
Mengabaikan kejanggalan data itu, anda akan melihat betapa kematian bisa datang di Jakarta, Bali, Yerusalem, Kabul, Mosul, Sao Paulo, Madrid, New York, atau dimanapun. Malaikat maut bisa terbang menghampiri kita dari samping, atas, bawah, bahkan mengancam tepat di depan hidung kita. Tak ada yang bisa mencegah. Kematian juga bisa datang dengan berbagai macam cara, Izroil tak pernah kehabisan “kreativitas” untuk “menghabisi” wujud wadag kita. Dia bisa datang secara “personal” ketika kita sedang sendirian diatas tempat tidur, bisa pula secara “massal” lewat perantaraan muntahan gunung berapi, guncangan bumi, atau sesekali sapuan tsunami. Apapun dan bagaimanapun itu, kematian sejatinya tak harus selalu ditangisi, meskipun dia sering kali pergi meninggalkan duka, air mata, warisan, juga dendam yang meradang.
Tanyakan tentang kematian kepada Amrozi. Tanyakan berapa luas petak surga yang dia dapatkan untuk setiap potong kaki dan tangan yang bisa dia lepaskan dari badan orang-orang kafir. Tanyakan berapa banyak bidadari yang akan menemaninya untuk setiap hati yang dia hancurkan. Jangan pula lupa tanyakan, apakah “hanya” itu yang dia kejar. Tanya terus sampai kita mendengar jawaban dari bibirnya yang selalu menyungging senyum, jawaban selain teriakan “Allahu Akbar”.
Barangkali Amrozi tidak perlu menjawab satupun pertanyaan kita yang -pasti- tak akan mampu menjangkau dan memahami frame berfikir seorang mujahid. Toh, selama ini -dia merasa- tidak ada yang salah dengan dirinya. Dia sudah “bahagia” dengan hidup yang menjadi pilihannya, sebagaimana dia akan tetap “bahagia” menjemput kematian dengan cara yang menjadi pilihannya pula.
Data di breathingearth mungkin tidak shahih, mungkin juga tidak representatif, atau bahkan keliru sama sekali. Arti kematian juga mungkin akan sangat berbeda bagi Amrozi, anda, atau saya, tetapi toh kita akan mati juga. Biarlah, biarlah kematian tetap menjadi misteri. Sementara saya sendiri meyakini apa yang sering diucapkan Cak Nun dalam berbagai acara binaannya, bahwa kita hidup di dunia ini cuma mampir ngombe (numpang minum) untuk kemudian melanjutkan perjalanan. Jadi, adakah yang mau ngajak saya “ngombe” ???
***
Kalau ada yang ngajak saya “ngombe”, mari sambil menikmati lagu kematian dari Drim Titer ini …
Where did we come from?
Why are we here?
Where do we go when we die?
What lies beyond And what lay before?
Is anything certain in life?They say, life is too short,
The here and the now
And you’re only given one shot
But could there be more,
Have I lived before, Or could this be all that weve got?If I die tomorrow
I’d be allright because I believe
That after were gone
The spirit carries onI used to be frightened of dying
I used to think death was the end
But that was before Im not scared anymore
I know that my soul will transcendI may never find all the answers
I may never understand why
I may never prove What I know to be true
But I know that I still have to try
…
November 1st, 2008 at 2:14 am
Kematian hanyalah tidur panjang, demikian kata bit G. Ade
November 1st, 2008 at 2:52 am
Meski sudah bersetatus mantan, ternyata ilmunya masih ada dan bisa diambil berkahnya
November 1st, 2008 at 4:24 am
Allahu Akbar
November 1st, 2008 at 6:11 am
Ngombe – ngombe dimana kita malam ini pak kyai ?? :-p
November 1st, 2008 at 7:31 am
mesti siap mati!
November 1st, 2008 at 8:13 am
Saya sangat menyukai kalimat di bawah ini:
Tanyakan tentang kematian kepada Amrozi. Tanyakan berapa luas petak surga yang dia dapatkan untuk setiap potong kaki dan tangan yang bisa dia lepaskan dari badan orang-orang kafir. Tanyakan berapa banyak bidadari yang akan menemaninya untuk setiap hati yang dia hancurkan. Jangan pula lupa tanyakan, apakah “hanya” itu yang dia kejar. Tanya terus sampai kita mendengar jawaban dari bibirnya yang selalu menyungging senyum, jawaban selain teriakan “Allahu Akbar”.
Duh, betul-betul mengoyak kesadaran akan arti hidup!
November 1st, 2008 at 9:59 am
toss! jangan pernah ada sadar diantara kita!
*cleguk….
November 1st, 2008 at 10:28 am
toak, toak, mana toaknya!!!!!
***sakaw***
November 1st, 2008 at 11:18 am
mengingatkan betapa deketnya kita dengan kematian dan betapa jauhnya kta terhadap sang pencipta
November 1st, 2008 at 4:53 pm
yah itulah keadilan tuhan mas
November 1st, 2008 at 10:00 pm
Lagune pancen masuk banget neng ati.
Mati itu kan sudah ditentukan Gusti Allah, sing penting awakke dewe akeh ndonga, mugi2 dipundut pas wayah sing apik, ora pas kebak dosa.
Btw, kae lho wes ditunggu kyai Slamet neng pos ronda, ngajak ngombe jare, wekekeke
November 3rd, 2008 at 11:19 am
Sudahlah XKH, ga usah mikirin Amrozi…
Sudah jelas pula bahwa malaikat maut itu bertangan sejuta, ga usah dibahas lagi!
*mari saya temani minum mensyen dan congyang saja!
November 5th, 2008 at 7:01 am
Spirit Carries On bikin merinding…
Tapi sepertinya lebih bikin merinding liat situs yang menampilkan jumlah CO2…
Hidup ini makin lama kok makin susah dan makin tidak sehat…
November 8th, 2008 at 10:09 pm
mari menikmati lapen jogja bersama satu album “mengenang tayangan memori”
November 9th, 2008 at 12:30 am
sepakat dengan Ahmad, petikan quote mu sangat menyentuh..Mengonyak pencaharian manusia yang tak pernah tahu rahasiaNya.
Btw : Nggak Vektor Amrozi ??
November 9th, 2008 at 1:03 am
Urusan surga atau neraka adalah di tangan-Nya. Bukan hak manusia untuk membicarakan atau menganalisisnya. Wallahualam.
November 9th, 2008 at 11:40 am
Saya jauh lebih suka Drim Titer daripada Amrozi
Seandainya Amrozi dkk bikin band, mungkin aliran yg paling cocok adalah Brutal Death Metal, dan lirik lagunya adalah tentang pembunuhan secara brutal
November 13th, 2008 at 7:58 pm
yah sebegitu lah cara pandang setiap insan berbeda ya mas begitu pula dengan cara mati
lawas gak minum mas hehehe
December 13th, 2008 at 6:06 am
save to my Bookmarks