Dalam hikayat kuno diberitakan bahwa sebuah peradaban besar selalu tersusun atas dua pilar utama. Umara (Pemerintah) sebagai penjaga kebijakan, dan Ulama (Cendekiawan) sebagai penjaga kebajikan. Mereka selalu digambarkan bersinergi memastikan sebuah peradaban tetap beradab. Benarkah?
Berkunjunglah ke sebuah negeri yang katanya penggalan surga, negeri dimana kebahagiaan hanya bisa dirasakan sepenggal-penggal, dimana kepercayaan seringkali dipenggal oleh pengkhianatan, negeri yang tak pernah benar-benar menjadi surga kecuali bagi sepenggal penguasanya. Negeri yang berada jauh di penggalan imajinasi kita.
Kebijakan adalah pencabutan subsidi bensin. Kebijakan adalah pengumuman kenaikan harga minyak tanah. Kebijakan adalah bujukan beralih ke elpiji. Kebijakan adalah kemudian elpiji dilangkakan, sementara minyak tanah semakin tak terbeli. Kebijakan adalah alasan-alasan. Kebijakan adalah tindakan sadar untuk tak henti-hentinya menyengsarakan kaum paria, memiskinkan kaum miskin. Kebijakan adalah pembinasaan.
Kebajikan adalah keberanian mem-porno-kan perempuan di jalan-jalan, tetapi acuh kepada media yang menyebarkan kemesuman. Kebajikan adalah keberanian mengharamkan rokok, tetapi tak mampu berbuat apa-apa untuk menolak “sumbangan” besar pabrik rokok. Kebajikan adalah fatwa bahwa golput itu haram, sementara tak pernah terdengar fatwa -misalnya- miskin itu haram, bodoh itu haram, lemah syahwat tafsir itu haram, atau lain-lain yang lebih pantas diharamkan. Kebajikan adalah pesanan. Kebajikan adalah kenaifan.
Beruntunglah negeri yang Umara-nya kemaruk dan Ulama-nya keblinger itu jauh dari tempat kita tinggal, sehingga tak ada alasan bagi kita untuk ambil pusing atas segala keresahan dan kegelisahan di negeri penggalan surga itu. Atau jangan-jangan saya keliru ???
December 15th, 2008 at 10:26 am
berhubung PERTAMAX dan ELPIJI langka. PERTAMAX saya pakai sendiri
December 15th, 2008 at 11:13 am
Nahh itu dia mas, takut e sampean keliru !! ???
heuhehe ..
slm knl
December 15th, 2008 at 12:19 pm
Sepertinya aku tinggal di negeri itu
Horai, bensin mudhun, langsung ngisi full tank!
December 15th, 2008 at 1:20 pm
kwakakakak… ayo kaosnya diterbitkan. saya siap mendapatkan kiriman pertama
December 15th, 2008 at 2:35 pm
saya kok ndak yakin kalau kebijakan umara’ dan kebajikan ulama’ seperti itu jauh dari negeri kita, mas ardy, hehehe … bahkan sudah include, hiks.
memang rewpot hidup di sebuah negeri penggalan surga. hanya mereka yang kebetulan berada dalam lingkaran kekuasaan saja yang dapat surganya.
December 15th, 2008 at 2:39 pm
Ngeri banget kalao kebijakan didasarkan sebuah pesanan!!!
December 15th, 2008 at 4:44 pm
golput haram…?
wah baru sekarang mau difatwain, padahal dah dari kemarin2, aku golput, berarti belum dosa kemarin.
Maaf, salam kenal.
December 15th, 2008 at 5:44 pm
saya goltam.. golongan hitam… golongan kulit hitam
December 15th, 2008 at 5:59 pm
lha, tapi piye coba…wong pijet iku enak je…bukan begitu kang? ;;)
hahaha….. *nyungsep*
December 15th, 2008 at 6:25 pm
mereka itu mikirnya uda pake dubur bukan lagi pake dengkul
December 15th, 2008 at 8:35 pm
sekarang apa2 serba mahal,mau kencing di WC umum aja mahal juga,hehehe…
December 15th, 2008 at 9:37 pm
Bisnis baru yuk. Kaos! Desain plesetanmu mak nyus kuwi!
December 15th, 2008 at 11:47 pm
Adalah sebuah perampasan hak asasi ketika menikmati kemolekan miyabi menjadi dipersulit dengan hukum buatan manusi…ahhh dancooooookkkk…untng wes nyetok akeh…hehehehe
December 16th, 2008 at 2:58 am
tapi itu persepsinya mantan kyai.. kalo persepsi saya malah benar lho…
hhohoho…
tapi emang ada yg perlu diperbaiki dalam sistem kenegaraan dan sistem keulamaan..
sampean sih udah jadi mantan.. coba masih tetap jadi kyai.. bisa keblinger kayak kyai slamet dah
December 16th, 2008 at 6:05 am
@perempuan: oh saya keliru ya ??








@Dony Alfan: wah negerimu jauh dong ???
@det: kaos?? ah ide bagus. ada yg mo jadi investor
@sawali tuhusetya: iya pak kita dapat penggalannya. penguasa dapat surganya
@Qizink: apalagi jika kebijakan dan kebajikan sekaligus
@antokoe: iya kemaren belom haram
@Anang: podo
@Epat: kok moro2 jeblus pijet ???
@gajah_pesing: ooo. otaknya pindah di dubur ya
@langitjiwa: bisnis yg gak ada matinya tuh mas. lha kok malah jeblus wc umum ???
@Kyai slamet: dadi investor???
@Tukang Nggunem: miyabi belum pernah diharamkan keknya
@aRuL: anda beda dengan pendapat saya??? ya monggo. yg penting kapan2 kita bisa rukun mabok bareng .. hehehe
December 16th, 2008 at 10:53 am
Hah,.. atokah saiya salah lahir di negeri penggalan surga itu…
December 16th, 2008 at 11:09 am
Huahahaha….. nanti kalau sampeyan bikin “Majelis Mantan Kyai” saya juga bikin deh… “Majelis Kyai Abangan”….
December 16th, 2008 at 12:09 pm
pengen tuh om maen2 kesan..dimana tuh, pake paspor g? pake visa g?
December 16th, 2008 at 4:34 pm
mudah-mudahan negeri kita gak kayak negeri penggalan surga…
December 16th, 2008 at 7:08 pm
Dan spora-spora kemunafikan tumbuh subur, menjelma menjadi jamur parasit…PANUUU!!! MALUUUUU!!!!
December 17th, 2008 at 1:43 am
Betul kyai sampeyan keliru…
December 17th, 2008 at 3:14 am
klo melihat postingan nya ga’ cocok title blog ini dengan nama ” blog mantan kyai”
lebih cocok lagi ” kyai ngeblog “
December 17th, 2008 at 3:23 am
njenengan itu lho… ada saja. tapi percayalah, keadaan masih bisa diperbaiki.
December 17th, 2008 at 3:28 am
Iyo, nek digawe kawos, aku gelem tuku kuwi. Tapi nek dienggo neng mesjid aman ra yo?
December 17th, 2008 at 3:31 am
@Wongbagoes: unfortunately yes



@Yari NK: ok pak yari nanti kita berkolaborasi
@Nyante Aza Lae: kagak pake
@anderwedz: amin
@suhadinet: hidup pak suhadi !!!
@syamsu: nah. betul kok keliru ???
@budi tarihoran: saya capek bikin fatwa. makanya pensiun
@paman tyo: betul paman. kita harus optimis. eh tapi itu bukan negeri kita lho paman .. kekekeke
December 17th, 2008 at 9:54 am
Mudah-mudahan Anda tidak keliru, Mas…
December 17th, 2008 at 7:55 pm
mudah mudahan kyai yang keblinger segera menjadi Almarhum ……
Negeri penggalan itu tinggal ceritakah yang bukan mengharamkan namun menhamankan…..
buat aku semakin peduli kang
bangkitkan aku dari egosentrisku….
Tolong kang
December 29th, 2008 at 7:46 am
hayo pilih Minyak tanah itu Haram atau LPG itu Haram.
Seharusnya BPPT di bawah naungan Majelis Ulamak, bagaimana para ulamak itu bisa memberikan fatwa kalau mereka buta thd perkembangan teknologi.
Maksud saya, bagaimana mereka ulamak bisa memberikan pertimbangan dari sudut pandang agama terhadap hal – hal yang mereka tidak mengetahuinya??? Akhirnya dipaksakan -disetir oleh yg berkuasa- saja dan menjadi fatwa ngawur awur-awuran seawur-awurnya.