Dua hari yang lalu saya diajak (lebih tepatnya minta diajak) beberapa rekan yang punya kegiatan di Trenggalek untuk ikut serta dalam rombongan. Tidak ada kepentingan penting untuk saya berada dalam rombongan ini, kecuali postur saya yang dianggap pas untuk disertakan menjadi bagian tim penagihan sebuah proyek IT
Sementara saya sendiri sebenarnya cuma butuh udara segar, barangkali sambil ikut “jalan-jalan” ke Trenggalek, otak saya bisa lebih “fresh”, punya lebih banyak ide untuk pekerjaan-pekerjaan saya selanjutnya. Maklum, bisingnya Surabaya sering membuat saya buntu ide, kehilangan mood, kurang bergairah, lemah, letih, lesu, loyo, lho… lho… lho, kok kayak iklan obat kuwat
Sama seperti umumnya kota-kota di Jawa, Trenggalek sebenarnya tidak jauh berbeda. Pusat kota ditandai dengan landmark berupa alun-alun, di dekat alun-alun berdiri gagah Masjid utama, dan disekelilingnya berdiri berbagai bangunan instansi pemerintahan, khas kota Jawa.
Tetapi ada beberapa hal yang mungkin tidak selalu ditemui bahkan di kota Jawa sekalipun. Saya terkejut ketika seorang kawan memberi tahu bahwa tidak ada transportasi angkutan umum di dalam kota Trenggalek, sehingga kendaraan utama di dalam kota adalah Becak. Tetapi setelah berkeliling saya jadi mafhum, Trenggalek mungkin tidak butuh angkutan umum dalam kota karena memang wilayahnya tidak terlalu luas, dan kemana-mana mudah dijangkau bahkan jalan kaki sekalipun.
Kota ini dikelilingi oleh bukit (bukit atau gunung ya ?), sementara di balik gundukan-gundukan bukit itu tersimpan potensi wisata pantai yang luar biasa. Kemarin kami juga menyempatkan mampir di salah satu Pantai (baca: Prigi), tetapi berhubung baru sampai di pantai pada malam hari, maka tidak ada gambar yang bisa kita ambil (maklum semuanya mengandalkan kamera hengpon
). Kami hanya menyaksikan geliat ratusan nelayan yang bersiap menantang ombak pantai selatan yang terkenal “horror”
Satu hal yang mesti anda waspadai di Trenggalek adalah … makanannya. Lho?. Entah karena disana cabe murah, atau memang lidah dan lambung masyarakatnya lebih tebal, tetapi makanan apapun selalu pedas dan cenderung bersantan, Huh haaaah !!!. Atau barangkali kami serombongan saja yang memang tidak terbiasa makan makanan pedas ala ‘Nggalek? Bisa jadi. Yang jelas kami berlima bolak-balik bergantian buka tutup pintu kamar mandi, Byorrrr!!!
Satu lagi. Jika anda berniat mencari jodoh (jodoh tetap, bukan jodoh temporer apalagi jodoh pasca bayar) di Trenggalek, tempat ini bisa menjadi referensi utama. Di daerah yang bernama Munjungan -katanya- wanitanya terkenal cantik-cantik dan putih-putih. Benarkah? sayang saya tidak sempat kesana, mungkin lain kali. Ah, sayang saya sudah keburu punya … Plakkk !!!! Eh… oh, siapa yang nampar saya.
Tetapi hati-hati, saya diingatkan seorang warga bahwa jangan pernah mempermainkan wanita Trenggalek, bisa-bisa kita tidak akan pernah bisa pulang. Lho kok bisa? Menurut cerita bapak ini, jika wanita Trenggalek sudah merasa dipermainkan kemudian dendam, maka orang yang mempermainkan akan selalu menanggung malu seumur hidupnya, karena sekuat apapun dia mengikat atau memegangi celananya, maka celana itu akan selalu melorot. Alamaaaaak !!!! Ngeriii !!!!
Anda Percaya??? Tanya saja pada Bocah Asli Trenggalek ini
***
Reportase Perjalanan
Trenggalek yang tenang di lingkaran perbukitan.
Masjid Jami’ Trenggalek. (Difoto saat gelisah memutuskan Jumatan gak, Jumatan gak)
Karena saya beriman, maka saya putuskan untuk Jumatan meskipun sebenarnya saya dapat fasilitas dan dispensasi untuk tidak melaksanakannya. XKH beriman kan ???*
*Foto diambil sesaat setelah selesai Sholat Jumat
Nah, kalau yang ini asli saya baru tahu. Bahwa selain mencari nafkah di industri musik nasional. Maia dan Dhani ternyata punya bisnis angkutan juga. Apakah ini termasuk gono-gini yang diperebutkan??? Mbuh, gak ngurusi Dhani cuk !!! *
*Foto Truk diambil di daerah Peterongan, Jombang (kotanya para Kyai)
November 7th, 2008 at 11:39 pm
Enaknya jalan jalan ya Mas…..
Bisa liat ini itu…
Salam Kenal
November 8th, 2008 at 12:01 am
wong galek punya aji-ajian kathok melorot…. hehe… jangan macem2! eh kowe dari alun2 ke barat 500m wis tekan omahku. lek ak melu tak jak andok pecel khas trenggalek kowe, ora ajak2 tapine kowe.. arep budhal ae lagek omong…. hihi..
November 8th, 2008 at 1:58 am
itu satu-satunya kota yang belum pernah saya singgahi selama di jawa timur kekeke
November 8th, 2008 at 3:38 am
yi, nek wis ngerti kabar pastine yang cantik2 dan putih2, kabari aku ya…..
November 8th, 2008 at 4:11 am
wah saya blom pernah jalan2 ke sini..
November 8th, 2008 at 5:52 am
gadis rantau datang bawa obat kuat nih. biar gak lemah, lesu, letih, loyo. sekalian juga aku bawain obat gosok untuk panu,kadas,kurap,gatal gatal,jamur kulit.*hue..he..tambah kaco deh gw*
btw, lain kali aku mbok yo diajak jalan jalan kesono…
November 8th, 2008 at 7:35 am
nggak yakin pedes sebelum nyoba makanannya itu!
wkeekek!
November 8th, 2008 at 10:32 am
wetzzzzzzzzzzz jangan lupakan ole2 yah mas
November 8th, 2008 at 10:55 am
wek… masjidnya kok apik?
November 8th, 2008 at 11:21 am
Trenggalek? Itu daerah asal-usul nenek moyang saya. Nenek dari pihak Ibu saya aslinya dari Trenggalek, tapi sudah merantau ke Sumatera sejak tahun 30-40-an, sedangkan nenek dari Ibu saya juga punya saudara di Trenggalek. Sayangnya saya malah belum pernah ke sana. Kapan ya???
November 8th, 2008 at 1:06 pm
kapan2 ajak dong pak… klo mo jalan2..
November 8th, 2008 at 2:17 pm
oleh2 khas sana apa mas ??
November 8th, 2008 at 3:34 pm
saya pernah ke sana th 96-an.
kotanya panas-nya minta ampyunn… padahal dia kota lembah, dikelilingi gunung kok panas ya???
November 8th, 2008 at 5:27 pm
koq saya gak di ajak mas?
November 8th, 2008 at 11:09 pm
wes,,jalan mulu mas,,,lagi tajir ya!!!
November 9th, 2008 at 4:46 am
Sampai segitunya mitos di sana ya Pak. Tapi kepercayaan seperti itu sepertinya ada di banyak daerah ya.
November 9th, 2008 at 8:13 am
Kurang siji kang yang harus diwaspadai saat kita berkunjung ke trenggalek…yaitu manusia lugu ning njelehi si nabi blogger Anang…hahahaha…aku ditantang kon motret de’e ning digawe ben dadi bagus lha mbok emoh, potograper kan bukan Tuhan…coba sampeyan gawe vektor raine cah kae, rak malah dadi abstrak mengko..huahahaha..sori Nang….
November 9th, 2008 at 11:01 am
trenggalek???
November 9th, 2008 at 7:29 pm
Perjalanan seru!
*jadi ngeri sama perempuan trenggalek… itu beneran nggak Yi??
**Yi!… mbok aku ngaji gawe gambar vektor… tutoriale ada nggak???
November 9th, 2008 at 7:32 pm
Gawe gambar vektor angel rak Yi???
November 10th, 2008 at 1:38 am
Wah, jadi pengen ke Munjungan, Trenggalek.
Yo, kapan-kapan wisata kuline.. eh wisata fotografi ke sana..:)
November 10th, 2008 at 10:30 am
waduh, saya belum pernah ke trenggalek, mas ardy. infonya menarik, terutama tentang ceweknya, haks. ternyata mas ardy jadi pengamat kehidupan cewek juga, nih, kekeke … mengembangkan kepekaan, ya, mas?
November 10th, 2008 at 10:31 am
mengesankan perjalanannya euy..btw eank g jd “debt collector”?…heheheh
Btw kapan2 mampir ahh
November 10th, 2008 at 1:30 pm
Trenggalek kerep kebanjiran. Ra mutu. Apik Tulungagung.
November 11th, 2008 at 5:08 pm
Mbok aku dioleh-olehi sing kinyis-kinyis ngono lho…
November 12th, 2008 at 9:57 am
munjungan rumah teman saya tuh, punya janji maen kesana tapi belum sempat sampai sekarang, coba klo dulu teman saya bilang cewek munjungan cantik-cantik, bakal tak bela-belain maen ke sana
November 12th, 2008 at 9:33 pm
[...] berbagai cara pandang dan pelbagai klaim nya, mendapati pencerahan dari sentilan sentilan nasihat Kang Mantan Kyai,pelbagai gaya berfikir sang dosen muda Kyai slamet,keberanian sikap dari kang epat ,kehalusan [...]
November 13th, 2008 at 7:30 am
[...] malam ini saya benar-benar kapok lombok, dimulai dengan cabai Trenggalek, kemudian acara ulang tahun TPC yang hingar bingar, datang sambil menahan maag yang meradang, [...]
November 13th, 2008 at 10:01 am
saya sudah pernah ke trenggalek mas. diajak teman.
tapi bukan ke kotanya, tapi ke trenggalek pedalaman.
Katanya ada proyek besar. berangkat dari jakarta dg penuh harap. lha.. ternyata cuma mau diprospek buat jadi downline.
November 13th, 2008 at 12:31 pm
Kalau ada waktu, coba juga Pacitan, Mas…
Pasti masakannya juga tidak kalah pedes dengan Trenggalek…
Kayaknya dua kota itu adalah kota penghasil cabe…
November 13th, 2008 at 8:30 pm
wah dadi kelingan dak jaman semono waktu aku baru barunya dapat tugas muter muter dan sekaligus menyaksikan ke unikan pekerjaan lapangan pertama di trenggalek hahahaha
December 14th, 2008 at 3:41 am
[...] apa lagi di Trenggalek? Ah, tidak ada. Kami hanya melanjutkan perjalanan kami yang pertama. Tidak ada yang istimewa, kecuali saya yang mengalami kejenuhan akut karena tidak ada sesuatu yang [...]
December 31st, 2008 at 10:24 am
hoo.. cerita soal “jangan mempermainkan wanit daerah –silakan diisi sendiri–” memang menarik. hampir tiap daerah ada..
mungkin karena memang semacam “peringatan” agar kita tidak seenaknya mempermainkan wanit ya, cak?
October 23rd, 2009 at 5:33 pm
alon2 ngalor kurang lueh 1 km ndeso ngares, neng ngares enek tempat seng asyik di gae pacaran, alah poko’e sampean tak jamin gak gelem muleh, salam cah ngares
January 16th, 2010 at 12:58 pm
wiihh,,,lo kesana q di ajak ya……hehehe,,,q kan g mau ilang di nggalek,,untuk ke 2x nya,,,,,huhuhu..(*_*),,takyut,,,,,,,biar q apal jln nya trenggalek,,,di ajakin jalan2 ya kang….ho..ho…ho