Sebut saja namanya Nurkasan. Wajahnya jauh dari tampan (jauh banget bahkan), tetapi pemuda desa ini memiliki tubuh yang kukuh, liat, tangkas, dan lincah. Khas desa.
Sebenarnya tak terlalu mengherankan jika dia memiliki postur yang hiper-atletis semacam itu, ritme kehidupan pedesaan yang belum tersentuh berbagai fasilitas mengharuskannya “terjebak” dalam pola latihan fisik yang -bagi saya- berat, konsisten dan tanpa ampun.
Otot lengan yang menonjol mengular itu barangkali didapatkannya dari rutinitas berjalan kaki mengangkut air dari sumur desa menuju rumahnya melewati pematang dan setapak yang kurang lebih berjarak 1 km, setiap hari. Torso yang tegap dan masif itu mungkin adalah berkah dari kegiatannya bergelut dengan sapi dan kambing yang menjadi peliharaannya. Sementara kedua kakinya yang kuat dan cepat itu bisa jadi terlatih oleh sepeda yang harus dikayuhnya tiap pagi untuk sampai ke sekolahnya di kota yang berjarak kurang lebih 30km dari rumahnya, sekolahku juga.
Ya, Nurkasan adalah salah satu bagian penting dari kelasku ketika itu. Dibalik tongkrongan fisiknya yang kaku dan keras ternyata kekuatan otaknya tetap terpancar cemerlang, terutama di bidang matematika dan yang berbau hitung-hitungan. Maka tak mengejutkan jika kelak dia diterima kuliah di salah satu PTN di Surabaya.
Di kota, pemuda yang semasa SMA juga dijuluki Ninja Boy -karena kebiasaannya telat dan menyelinap dengan cara memanjat pagar sekolah- ini melanjutkan kebiasaannya bekerja keras. Dia tetap berjuang untuk kehidupannya, seperti yang sudah-sudah. Suatu kali dia berbisik, “Sobat, suatu saat aku harus pergi ke negeri para ninja”.
Sejak berpisah dari SMA, saya sudah tak terlalu banyak mendengar kabar darinya. Hal terakhir (baca: terkonyol) yang saya ingat bersamanya adalah ketika suatu hari saya dan beberapa orang kawan membungkus diri dengan sprei putih kemudian berdiri mematung di jendela kamar kos si Nurkasan yang tak berkorden, sementara seorang kawan lain yang telah bersiap dengan api, melakukan berbagai macam cara untuk mengepulkan asap dari bawah jendela kamar Nurkasan yang temaram, kami benar-benar mirip pocong yang baru bangkit dari kubur. Nurkasan yang malam itu benar-benar sukses kami kerjai, hanya bisa terperanjat dan masygul sambil berkali-kali berteriak, “Allahu Akbar!!! Allahu Akbar!!!“.
Well, life goes on. Hidup terus berjalan bersama kejutan-kejutannya. Anak petani yang selalu optimis dan tak pernah mengeluh itu perlahan tapi pasti, satu demi satu, berhasil memunguti apa yang telah dipecahkan dari tempurung impiannya. Keberaniannya bermimpi membawanya selangkah demi selangkah ke tanah harapan yang dulu seperti tak masuk akal ketika diucapkan oleh seorang gembala seperti dia. Kuliah, bekerja di Jakarta pada sebuah PMA, dan yang terakhir, ditunjuk oleh perusahaan tempatnya bekerja untuk melanjutkan studi di Jepang, adalah jawaban atas dedikasinya pada hidup yang diamanahkan kepadanya.
Selamat melanjutkan perjuanganmu, sobat. Prestasimu adalah kebanggaanku, iri dengkiku juga. Jangan pernah berpikir Jepang adalah akhir perjalananmu, jangan hiraukan godaan si Ozawa, Aoi, Sugisaki, Ayukawa, Azhari Azumi dan teman-temannya yang jarang pakai baju itu. Aku percaya kau sekuat dulu ketika menolak ajakan “mojok” si Tinuk dan dan si Mlenuk yang bohai itu, kau masih ingat kan? Berjuanglah!!! Ojo Ngisin-ngisini Wong Tuban!!! Ganbatte Kudasai!!!
***
Tulisan ini dibikin dengan penuh rekayasa untuk mengenang seorang sahabat, teman sekelas, sekamar, seranjang, sepiring, segelas, serius, setawa, sejarah …
April 13th, 2009 at 11:19 pm
wahahaha cukuplah mantankyai ini saja yang ngisin2i wong sak tuban mergo melepas kekyaiannya
April 13th, 2009 at 11:27 pm
kapan nih xkh nyusul
April 13th, 2009 at 11:29 pm
hehe… lek bali aja lali bawa oleh2 dari jepang… opo ae wes..
April 13th, 2009 at 11:35 pm
lo bos, aku yo pernah menggembala kambing dan sapi. tapi kok gak pinter yo…..opo maneh soal matematika (ini jelas karena gurune)
April 14th, 2009 at 12:02 am
Seperti cerita di Laskar Pelangi saja. Mimpi adalah kunci
April 14th, 2009 at 12:03 am
jangan kaget di negeri seribu goyang, semoga tidak kaget menikmatinya….
April 14th, 2009 at 12:03 am
Selamat berjuang!
April 14th, 2009 at 12:42 am
Bwakakakkak!! ceritanya lengkap, kemasan cerita ringan dengan garis merah sejarah dan persahabatan dengan ujung titian perjuangan gapai cita2. Apik pol!
April 14th, 2009 at 1:19 am
Apakah Tinuk dan Mlenuk godaannya sebesar Takako Kitahara atau Megumi Ishikawa?
April 14th, 2009 at 2:46 am
Hahahaaha, postingannya segar!
Aku ketawa ngekek di atas WC waktu mbaca cara sampeyan nakut2in Nurkasan.
Terimakasih postingannya, menghibur dan mbikin boker saya pagi ini lancar jaya!
April 14th, 2009 at 3:40 am
kapan BUDHAl nang JEPANG????
Mantan Kyai Ngisin-ngisini Wong Tuban wong tuban pisan ternyata…..
ckckckckckck……
April 14th, 2009 at 9:21 am
Bener deteksi, cukup seorang, yo kowe wae sing ngisin ngisini alias aib gawe Tuban…
April 14th, 2009 at 9:44 am
ganbate kudasai….
kui artine opo to?
April 14th, 2009 at 9:58 am
Waduh,kenapa dimana-mana saya nemuin nama Miyabi yach?
April 14th, 2009 at 10:42 am
selamat berjuang
April 14th, 2009 at 11:47 am
selamat berjuang di negeri orang!!
April 14th, 2009 at 2:13 pm
untung bukan mantankyai yg ke jepang … lek mantan kyai yg kejepang dijamin pulang bawa cerita tentang si ozawa … huekekeke
wis setuju ma det, cukup mantan kyai yg ngisin2i wong sa tuban
April 14th, 2009 at 3:54 pm
@det+novianti+arai: masak sih aku ngisin2i??? perasaan nggak deh .. kekeke

@Anang: klepon jepang gelem bos??
@zenteguh: mosok karena gurune pilih kasih ya .. hihihi
@senoaji: tapi iki jelas. lanang (doh)
@Lee: mlenuk itu cewek terbohai. (mungkin) gak jauh beda rasanya sama dua nama yang kamu sebut
@DV: jo lali cebok pokoke mas .. kekeke
@gajah_pesing: ganbatte kudasai=jangute kudisen
April 14th, 2009 at 7:43 pm
aku terharu dg postinganmu kang…
untunge dudu awakmu sing ning jepang…dijamin ora menimba ilmu malah menimba miyabi
April 14th, 2009 at 8:09 pm
# cebong ipiet : wkwkwkw…. ada2 saja..
kok bukan mantan kyai yang kejepang..
jadi kiyai dijepang gitu hahah
April 14th, 2009 at 9:40 pm
Halah… crito awake dewe… Sampeyan Nurkasan to???
April 14th, 2009 at 11:06 pm
selamat berjuang Nurkasan!
hehe..
April 15th, 2009 at 12:18 am
mulih ra nggawa miyabi bakal dihajar bareng2… (angry)
April 15th, 2009 at 3:31 am
@cebongipiet: apane miyabi seng ditimba bong??

@Andy MSE: halah, postinganku ora diwoco iki mesti
@ciwir: menghajar miyabi bareng2? g*ngb*ng? huehehehe
April 15th, 2009 at 3:50 am
Rugi cak, jauh2 ke jepang ndak nyambangi Miyabi. (k)
April 15th, 2009 at 4:03 am
Sangar tenan nurkasan kuwi… iso gak aku koyok ngunu yo……
April 15th, 2009 at 8:37 am
dan, omongono kancamu iku. nek wis entuk kerjo nang luar negeri, ga usah mbalik. rugi cak…
April 15th, 2009 at 12:20 pm
wah ke jepang bisa ketemu miyabi dkk nu (dance)
April 15th, 2009 at 2:31 pm
Walah iki hoax! Nurkasan kok skrinsyute Miyabi?
April 16th, 2009 at 2:26 pm
Hihihi. Meski salut dan haru, tapi aku tetap saja ngakak kepingkel-pingkel mocone. Diamput tenan Sampeyan kuwi. Iso wae nggawe cerito koyok ngene.
Nurkasan… Nurkasan… Bejo tenan.
April 16th, 2009 at 2:32 pm
Semoga nggak seperti kisahnya Surti dan Tejo.
April 16th, 2009 at 2:56 pm
wah, selamat buat nurkasan, meski ndesa, tapi dia sudah benar2 sukses mewujudkan impian2anya yang serba mengejutkan. ini profil pemuda desa yang benar2 layak diikuti jejaknya. semoga ber-ending manis.
April 16th, 2009 at 6:11 pm
Tulisaneeee apiiiik cuuukkkkk…
April 16th, 2009 at 7:52 pm
semoga dia gak hanya ketemu miyabi, tapi juga tsubasa…
April 17th, 2009 at 6:22 am
aku njaluk miyabi sak keranjang mas…
btw, miyabi kuwi opo toh?? kucing persia??? hahhahahahaha
April 17th, 2009 at 10:55 pm
pakde titipke salamku nggo sakura yo..
May 10th, 2009 at 2:03 am
Eh, sing iki tibake yo wis komen