Seorang kawan pernah mengalami kecelakaan cukup parah, dia terjatuh dari motor yang dikendarainya dengan kecepatan tinggi. Gundukan pasir bekas perbaikan jalan menjadi penyebab kendaraannya oleng dan celaka. Ketika itu, motor yang baru beberapa bulan dibelinya hancur tak berbentuk, sementara dia sendiri mengalami luka yang cukup serius. Lecet, sobek, dan bocor disana sini. Tetapi yang paling menyakitkan dari semua luka itu adalah mengetahui bahwa tak seorangpun menolongnya meskipun banyak orang berkerumun menyaksikan dia “berakrobat”, apalagi kemudian ada seorang bapak yang nyeletuk sadis, “Gak popo, cak!!! Durung sepiruo iku, koen isih slamet, wingi ono seng ndase remuk nang kono” (terjemah: “Tidak apa-apa, pak!!! Lukamu belum seberapa, kemarin ada yang remuk kepalanya disebelah sana”).
Dalam kondisi normal, ucapan si bapak iseng -yang keterlaluan- itu mungkin (sekali lagi: mungkin) bisa ditoleransi sebagai gurauan. Tetapi dalam situasi seperti yang saya gambarkan diatas, sesungguhnya kalimat itu sama sekali tak perlu keluar dari mulut makhluk -yang katanya- manusia tersebut. Lebih-lebih setelah “menyumpah” seperti itu, si bapak iseng kemudian ngeloyor menuju warung diseberang jalan dan memesan makanan tanpa memberi pertolongan sedikitpun kepada kawan saya yang hanya bisa dongkol campur tak berdaya. Entah dari batu neraka level mana hati si bapak tadi terbuat. ![]()
Cerita berbeda saya alami sendiri ketika suatu petang Vegawati mendadak tak bisa saya kendalikan akibat lalai mewaspadai jalanan yang licin selepas hujan. Singkat kata, saya -dan istri- mendarat dengan sukses di landasan aspal depan Balai Pemuda Surabaya yang lalu lintasnya selalu padat. Beruntung, kami tak mengalami luka serius, kecuali harus memijatkan diri esok harinya.
Kecelakaan barangkali adalah hiburan, setidaknya jika kerumunan orang dan animonya yang menjadi ukuran. Dalam hiruk pikuk itu orang boleh berteriak histeris atau berbisik miris, tetapi yang sering terjadi orang lebih memilih menonton daripada menolong, alibi yang sering dipakai adalah karena tidak ingin terlibat dalam kemungkinan berlarut-larutnya penanganan hukum kecelakaan tersebut. Lihat saja ketika kecelakaan terjadi di jalan raya yang padat, tak jarang jalanan menjadi macet bukan karena kecelakaannya, tetapi karena pengguna jalan yang memperlambat kecepatan kendaraannya demi menyaksikan “hiburan” di jalanan metropolis itu. Kalau ini benar, jelas menyedihkan.
Kembali ke kisah saya. Sesaat setelah berhasil menepikan Vegawati yang sempat macet roda depannya karena peleg-nya bengkok, beberapa orang mengerumuni saya termasuk dua orang polisi yang kebetulan sedang bertugas di tempat itu. Seorang ibu menyodorkan susu dalam kemasan kotak (bukan dalam kemasan khusus) sambil berkata, “Diombe disik mas, cik gak kaget” (terjemah: “Diminum dulu mas, biar tidak kaget”). Cuma sekotak kecil susu yang saya teguk bersama istri, tetapi dampaknya mampu membuat luka di badan saya (dan istri) menjadi lebih ringan, dan yang terpenting, saya merasa diperlakukan sebagai manusia. Juga dua polisi muda yang berinisiatif memanggilkan becak untuk mengangkut saya, istri dan Vegawati menuju bengkel terdekat. Sayang, bahkan hingga hari ini saya belum sempat mengucapkan terimakasih kepada orang-orang baik tersebut. Mungkin suatu hari, atau jika tidak, biar Tuhan saja yang kelak membalasnya. ![]()
Ketika seseorang tengah tertimpa musibah, pertolongan sekecil apapun akan berarti besar bagi mereka. Janganlah memberi komentar apalagi mengejek (seperti yang dilakukan oleh si bapak iseng sadis kepada teman saya) jika memang tidak berniat menolong, diam sepertinya lebih manusiawi. Meskipun akan tetap lebih manusiawi jika kita memberi pertolongan, seremeh apapun.
May 16th, 2009 at 8:30 am
kasus pertama: orang males nolong karena dia pecicilan, naik motor dengan kecepatan tinggi
kasus vegawati: orang simpatik karena ada korban perempuan, apalagi berboncengan sama suaminya, apagi di jalan pemuda yang padat, jelas ndak pecicilan.
kesimpulan: beda kasus beda perlakuan
May 16th, 2009 at 8:32 am
Wah Empati sudah hilang rupanya
May 16th, 2009 at 8:32 am
lha biasa lek wong jowo, keakehan untung. matanya buta 1 aja dibilang untung karena gak dua2nya
May 16th, 2009 at 8:34 am
Jaman akhir… orang untuk menolong aja dah lebih banyak pake berhitung profit dulu.. walah2
May 16th, 2009 at 8:41 am
@deteksi: kecepatan tinggi tidak berarti ngebut yang pecicilan dul (idiot).
@ajengkol: empati itu empal ati ya bu dokter???
@mbahsangkil: tumben komenmu pinter mbah (lmao)
@novianto: makane nek nulung aku ra sah mikir profit. tak gembosi kene malahan (lmao)
May 16th, 2009 at 9:10 am
Itulah indonesia
May 16th, 2009 at 9:15 am
Seharusnya memang kita memberikan pertolongan meski orang tersebut musibahnya karenaulahnya sendiri. kalau tidak mau menolong lebih baik pergi tidak usah kasih komentar yang nyeleneh.
May 16th, 2009 at 9:16 am
Aku juga paling tidak suka, udah gak mau nolong .. eh malah komentar yang bukan pada tempatnya.
May 16th, 2009 at 9:38 am
wong surobojo cen do ayan,
bojone koncoku kecelakaan kok malah dinengne wae, ora ditulungi blass sampe sejam,
padahal kondisine beturan kepala dan bocor… untung tanggane liwat, trus ditulungi, nek ora opo ra yo isoh mati ngenggon…
May 16th, 2009 at 9:41 am
Sepakat dengan deteksi.
Di kampungku malah di srampang watu kalo kecepatan tinggi seperti itu. Lain ladang lain belalang, lain daerah lain pula adat istiadatnya. Jangan di anggap sama
May 16th, 2009 at 9:46 am
ncen angel memprediksi kebaikkan seseorang, apalagi disebabkan oleh musibah.
May 16th, 2009 at 9:48 am
@ciwir: yoh, tapi ojo diantem roto kabeh wong suroboyo ngunu paklik (doh)
@gajah: kecepatan tinggi yang wajar dijalan raya mas, bukan ngebut dengan kecepatan tinggi dijalan kampung (doh)
May 16th, 2009 at 10:04 am
suatu sore anakku pulang terengah-engah, ketika kutanya darimana, jawabnya; “habis nontok kecelakaan”… (doh)
May 16th, 2009 at 10:07 am
eh, ada pula yang suka nonton pengajian lho! hihihi
May 16th, 2009 at 11:04 am
Alhamdulillah ga apa2..
didunia masih banyak orang yang baik hati kang
May 16th, 2009 at 11:06 am
@azaxs: betul zax. and that’s the point !!!
May 16th, 2009 at 12:27 pm
(doh) wong cilik ae wis mikir pragmatis .. ono untung rugine gak.
kegagalan pendidikan sosial/agama atau karena hukum Indonesia sing nganeh-anehi.
Koncoku baik2 nulung wong kecelakaan… malah disuruh jd saksi.. urusan mbek pulisi Ujung2nya duit …wakakaka
May 16th, 2009 at 12:45 pm
memang sepertinya di negeri indosiasat ini sudah tidak ada lagi rasa kemanusiaan
May 16th, 2009 at 1:16 pm
cerita yang sama terjadi pada temenku, ketika jatuh di keputi, petugasnya cuman ngurusin sepeda motornya doang, temanku yang jatuh itu baru ditolong ketika teman yang lain datang
May 16th, 2009 at 2:31 pm
Ditinjau dari hukum sebab akibat, barangkali teman panjenengan sebelumnya pernah begitu. Pas ada orang jungkir balik, eh cuma ngelihat aja trus bablas.
Hehehe, suudzon ya.
Lha pas sampean yang mengalami musibah, ada aja malaikat penolong.
Khan sampean sudah terkenal luas di dunia blogging kalau panjang tangan eh ringan tangan.
Hehehe, utang duite cak !
Ditinjau dari dunia pergosipan, ini merupakan aplikasi dari konsep 555, mung nonton 5 menit trus ngowos nang tanggane 55 menit…………..nang kono mau ono wong njungkel, sirahe penceng, sepedane dst dst. Biar tambah gayeng n meyakinkan biasanya ditambah bumbu penyedap berupa opini, fiksi dll.
Penonton yang gak mau menolong itu siapa tahu itu seorang blogger.
Dia harus cepat cepat pergi biar dapat segera memposting apa yang dia lihat…………..hehehe.
May 16th, 2009 at 5:19 pm
duh, q dah knagen nich……….
akhirnya bisa ol n ngoment punya mas ardy lagi……..
May 16th, 2009 at 6:18 pm
ndang pulih mas,
memang kadang jalanan itu sangat anonymously, dan semua dianggap kalo jatuh karena ulah dan salahnya sendiri…
prasangka seperti itulah yang menjadikan kurangnya respon terhadap kejadian kecelakaan, namun tentunya masih banyak orang baik yang masih mau menyisihkan waktu dan tenaganya untuk menolong orang lain yang kena musibah…
May 16th, 2009 at 10:46 pm
biasanya orang tak mau nolong karena malas berurusan dengan polisi, dijadikan saksi dll….
May 16th, 2009 at 11:08 pm
Yo semoga ae gak kecelakaan maneh cak…
mesakne bojo, lek awakmu rapopo..
May 17th, 2009 at 2:26 am
betul, lebih baik diam kalu tidak ada niatan untuk menolong
May 17th, 2009 at 6:09 am
wes gak pa2 ta kang…???
sama anaknya juga…???
wes smg slamet terus gak ada apa2…
May 17th, 2009 at 10:11 am
innalillah w alhamdulillah….
**tambahi po?**
May 17th, 2009 at 11:11 am
apa karena indonesia kurang hiburan yang live ya pak?
May 18th, 2009 at 3:02 am
Wis, mugo2 ora maneh…
May 18th, 2009 at 5:57 am
Aku bisa merasakan apa yang kau rasakan, Cak
Tapi menurutku ini bukan soal kemauan menolong atau menonton tapi lebih ke refleks orang-orang yang ada di sekitar.
Ingat lho, masyarakat kita itu sedang ada di masa peralihan. Ada yang sudah modern dan ada pula yang tradisional. Mereka yang sudah modern barangkali memiliki refleks yang langsung menolong, namun mereka yang tradisional, refleksnya untuk melihat Vegawatimu saja sudah ‘nggumunan’ apalagi melihat Vegawatimu yang kinclong itu meluncur di aspal, refleks mereka barangkali bilang “Wah, bisa meluncur juga di aspal” … dan bukannya “Aduh kasihan XKH, kutolong ah”
Begitu..:)
May 18th, 2009 at 8:05 am
duh, sayangnya Qga bisa ikut merasakannya nih mas, gimana dong……….
May 18th, 2009 at 8:16 am
pengalaman yang sama juga saya alami, tapi saya berada dalam kondisi pertama dimana tak satupun orang menghampiri kami (bersama istri) yang jatuh dari sepeda karena jalan yang menurun tajam.
padahal saat itu istri sedang hamil 5 bulan.
May 18th, 2009 at 2:27 pm
injih kang, diriku setuju kok sama dirimu, nek kasus e pecicilan paling tak tulung tapi tak omeli, bonus deh gyahayaa
sing luwih parah, nonton sisan nyopet jian kebangeten
May 18th, 2009 at 3:50 pm
mungkin karena di indonesia banyak orang yang stress jadi apa aja jd tontonan..
May 18th, 2009 at 9:10 pm
barang siapa suka menolong maka dia akan ditolong juga begitulah kira kira hukumnya yah maas
May 18th, 2009 at 10:14 pm
mas ardy seperti mengingatkan kecelakaan yang menimpa saya sekitar 7 tahun yang lalu. antara sadar dan tidak, saya masih inget diberi seteguk air. duh, ternyata memang benar, sekecil apa pun bantuan, akan memberikan dorongan moral kepada korban. semoga lekas fresh, mas.
May 19th, 2009 at 7:31 pm
Terkadang sebuah musibah dijadikan berkah bagi sebagian orang.
Adik saya pernah jadi korban kecelakaan (sampai meninggal). Uang hasil jerih payahnya berbulan2 + surat kendaraan lenyap entah kemana.
Akibatnya klaim asuransi & urusan polisi nyaris gagal. Beruntung arsip di kantor polisi bisa dilacak.
May 23rd, 2009 at 7:53 am
Jek urip peno? Wis ayo syukuran, mangan-mangan! Mulane ta, sholat!
May 25th, 2009 at 1:50 pm
Saya juga pernah hendak menolong orang yang kecelakaan motor karena menabrak median jalan. Ia pun menggelepar, berdarah-darah, dan nyaris mati. Ketika aku hendak menolong,seorang lelaki bilang, “Biarin aja, orang mabok! Dari mulutnya bau minuman! Biar mati sekalian.” Sungguh sadis!
May 27th, 2009 at 8:59 am
betul mas..orang sekarang sudah malas menolong apalagi jika g kenal..pasti pura2 tidak tahu n acuh..bener kata mas..orang g mau ikut2 ribut n kena hukum2 sgala..