16 May 2009 • Keganjilan, Keindonesiaan, Keluhan, Penuturan, Renungan • ardyansah

spdSeorang kawan pernah mengalami kecelakaan cukup parah, dia terjatuh dari motor yang dikendarainya dengan kecepatan tinggi. Gundukan pasir bekas perbaikan jalan menjadi penyebab kendaraannya oleng dan celaka. Ketika itu, motor yang baru beberapa bulan dibelinya hancur tak berbentuk, sementara dia sendiri mengalami luka yang cukup serius. Lecet, sobek, dan bocor disana sini. Tetapi yang paling menyakitkan dari semua luka itu adalah mengetahui bahwa tak seorangpun menolongnya meskipun banyak orang berkerumun menyaksikan dia “berakrobat”, apalagi kemudian ada seorang bapak yang nyeletuk sadis, “Gak popo, cak!!! Durung sepiruo iku, koen isih slamet, wingi ono seng ndase remuk nang kono” (terjemah: “Tidak apa-apa, pak!!! Lukamu belum seberapa, kemarin ada yang remuk kepalanya disebelah sana”).

Dalam kondisi normal, ucapan si bapak iseng -yang keterlaluan- itu mungkin (sekali lagi: mungkin) bisa ditoleransi sebagai gurauan. Tetapi dalam situasi seperti yang saya gambarkan diatas, sesungguhnya kalimat itu sama sekali tak perlu keluar dari mulut makhluk -yang katanya- manusia tersebut. Lebih-lebih setelah “menyumpah” seperti itu, si bapak iseng kemudian ngeloyor menuju warung diseberang jalan dan memesan makanan tanpa memberi pertolongan sedikitpun kepada kawan saya yang hanya bisa dongkol campur tak berdaya. Entah dari batu neraka level mana hati si bapak tadi terbuat. :(

Cerita berbeda saya alami sendiri ketika suatu petang Vegawati mendadak tak bisa saya kendalikan akibat lalai mewaspadai jalanan yang licin selepas hujan. Singkat kata, saya -dan istri- mendarat dengan sukses di landasan aspal depan Balai Pemuda Surabaya yang lalu lintasnya selalu padat. Beruntung, kami tak mengalami luka serius, kecuali harus memijatkan diri esok harinya.

Kecelakaan barangkali adalah hiburan, setidaknya jika kerumunan orang dan animonya yang menjadi ukuran. Dalam hiruk pikuk itu orang boleh berteriak histeris atau berbisik miris, tetapi yang sering terjadi orang lebih memilih menonton daripada menolong, alibi yang sering dipakai adalah karena tidak ingin terlibat dalam kemungkinan berlarut-larutnya penanganan hukum kecelakaan tersebut. Lihat saja ketika kecelakaan terjadi di jalan raya yang padat, tak jarang jalanan menjadi macet bukan karena kecelakaannya, tetapi karena pengguna jalan yang memperlambat kecepatan kendaraannya demi menyaksikan “hiburan” di jalanan metropolis itu. Kalau ini benar, jelas menyedihkan.

Kembali ke kisah saya. Sesaat setelah berhasil menepikan Vegawati yang sempat macet roda depannya karena peleg-nya bengkok, beberapa orang mengerumuni saya termasuk dua orang polisi yang kebetulan sedang bertugas di tempat itu. Seorang ibu menyodorkan susu dalam kemasan kotak (bukan dalam kemasan khusus) sambil berkata, “Diombe disik mas, cik gak kaget” (terjemah: “Diminum dulu mas, biar tidak kaget”). Cuma sekotak kecil susu  yang saya teguk bersama istri, tetapi dampaknya mampu membuat luka di badan saya (dan istri) menjadi lebih ringan, dan yang terpenting, saya merasa diperlakukan sebagai manusia. Juga dua polisi muda yang berinisiatif memanggilkan becak untuk mengangkut saya, istri dan Vegawati menuju bengkel terdekat. Sayang, bahkan hingga hari ini saya belum sempat mengucapkan terimakasih kepada orang-orang baik tersebut. Mungkin suatu hari, atau jika tidak, biar Tuhan saja yang kelak membalasnya. :D

Ketika seseorang tengah tertimpa musibah, pertolongan sekecil apapun akan berarti besar bagi mereka. Janganlah memberi komentar apalagi mengejek (seperti yang dilakukan oleh si bapak iseng sadis kepada teman saya) jika memang tidak berniat menolong, diam sepertinya lebih manusiawi. Meskipun akan tetap lebih manusiawi jika kita memberi pertolongan, seremeh apapun.

{ 40 Comments } to Mestinya Ditolong, Bukan Ditonton!!!

  1. deteksi

    kasus pertama: orang males nolong karena dia pecicilan, naik motor dengan kecepatan tinggi

    kasus vegawati: orang simpatik karena ada korban perempuan, apalagi berboncengan sama suaminya, apagi di jalan pemuda yang padat, jelas ndak pecicilan.

    kesimpulan: beda kasus beda perlakuan

  2. ajengkol

    Wah Empati sudah hilang rupanya

  3. mbah sangkil

    lha biasa lek wong jowo, keakehan untung. matanya buta 1 aja dibilang untung karena gak dua2nya

  4. Novianto

    Jaman akhir… orang untuk menolong aja dah lebih banyak pake berhitung profit dulu.. walah2

  5. mantan kyai

    @deteksi: kecepatan tinggi tidak berarti ngebut yang pecicilan dul (idiot).
    @ajengkol: empati itu empal ati ya bu dokter??? :D
    @mbahsangkil: tumben komenmu pinter mbah (lmao)
    @novianto: makane nek nulung aku ra sah mikir profit. tak gembosi kene malahan (lmao)

  6. luxsman

    Itulah indonesia

  7. afrianti takaful

    Seharusnya memang kita memberikan pertolongan meski orang tersebut musibahnya karenaulahnya sendiri. kalau tidak mau menolong lebih baik pergi tidak usah kasih komentar yang nyeleneh.

  8. Cah Sholihah

    Aku juga paling tidak suka, udah gak mau nolong .. eh malah komentar yang bukan pada tempatnya.

  9. ciwir

    wong surobojo cen do ayan,
    bojone koncoku kecelakaan kok malah dinengne wae, ora ditulungi blass sampe sejam,
    padahal kondisine beturan kepala dan bocor… untung tanggane liwat, trus ditulungi, nek ora opo ra yo isoh mati ngenggon…

  10. gajah_pesing

    Sepakat dengan deteksi.
    Di kampungku malah di srampang watu kalo kecepatan tinggi seperti itu. Lain ladang lain belalang, lain daerah lain pula adat istiadatnya. Jangan di anggap sama

  11. senoaji

    ncen angel memprediksi kebaikkan seseorang, apalagi disebabkan oleh musibah.

  12. mantan kyai

    @ciwir: yoh, tapi ojo diantem roto kabeh wong suroboyo ngunu paklik (doh)
    @gajah: kecepatan tinggi yang wajar dijalan raya mas, bukan ngebut dengan kecepatan tinggi dijalan kampung (doh)

  13. Andy MSE

    suatu sore anakku pulang terengah-engah, ketika kutanya darimana, jawabnya; “habis nontok kecelakaan”… (doh)

  14. Andy MSE

    eh, ada pula yang suka nonton pengajian lho! hihihi

  15. azaxs

    Alhamdulillah ga apa2..

    didunia masih banyak orang yang baik hati kang :)

  16. mantan kyai

    @azaxs: betul zax. and that’s the point !!! ;)

  17. xitalho

    (doh) wong cilik ae wis mikir pragmatis .. ono untung rugine gak.

    kegagalan pendidikan sosial/agama atau karena hukum Indonesia sing nganeh-anehi.
    Koncoku baik2 nulung wong kecelakaan… malah disuruh jd saksi.. urusan mbek pulisi Ujung2nya duit …wakakaka

  18. meylya

    memang sepertinya di negeri indosiasat ini sudah tidak ada lagi rasa kemanusiaan

  19. ciput mardianto

    cerita yang sama terjadi pada temenku, ketika jatuh di keputi, petugasnya cuman ngurusin sepeda motornya doang, temanku yang jatuh itu baru ditolong ketika teman yang lain datang

  20. mudz069

    Ditinjau dari hukum sebab akibat, barangkali teman panjenengan sebelumnya pernah begitu. Pas ada orang jungkir balik, eh cuma ngelihat aja trus bablas.
    Hehehe, suudzon ya.

    Lha pas sampean yang mengalami musibah, ada aja malaikat penolong.
    Khan sampean sudah terkenal luas di dunia blogging kalau panjang tangan eh ringan tangan.
    Hehehe, utang duite cak !

    Ditinjau dari dunia pergosipan, ini merupakan aplikasi dari konsep 555, mung nonton 5 menit trus ngowos nang tanggane 55 menit…………..nang kono mau ono wong njungkel, sirahe penceng, sepedane dst dst. Biar tambah gayeng n meyakinkan biasanya ditambah bumbu penyedap berupa opini, fiksi dll.

    Penonton yang gak mau menolong itu siapa tahu itu seorang blogger.
    Dia harus cepat cepat pergi biar dapat segera memposting apa yang dia lihat…………..hehehe.

  21. dloen

    duh, q dah knagen nich……….
    akhirnya bisa ol n ngoment punya mas ardy lagi……..

  22. suryaden

    ndang pulih mas,
    memang kadang jalanan itu sangat anonymously, dan semua dianggap kalo jatuh karena ulah dan salahnya sendiri…

    prasangka seperti itulah yang menjadikan kurangnya respon terhadap kejadian kecelakaan, namun tentunya masih banyak orang baik yang masih mau menyisihkan waktu dan tenaganya untuk menolong orang lain yang kena musibah…

  23. joe

    biasanya orang tak mau nolong karena malas berurusan dengan polisi, dijadikan saksi dll….

  24. Wongbagoes

    Yo semoga ae gak kecelakaan maneh cak…

    mesakne bojo, lek awakmu rapopo.. :lol:

  25. arifudin

    betul, lebih baik diam kalu tidak ada niatan untuk menolong ;)

  26. fithraw

    wes gak pa2 ta kang…???
    sama anaknya juga…???
    wes smg slamet terus gak ada apa2… :mrgreen:

  27. denologis

    innalillah w alhamdulillah….

    **tambahi po?**

  28. suwung

    apa karena indonesia kurang hiburan yang live ya pak?

  29. Dony Alfan

    Wis, mugo2 ora maneh…

  30. DV

    Aku bisa merasakan apa yang kau rasakan, Cak :)
    Tapi menurutku ini bukan soal kemauan menolong atau menonton tapi lebih ke refleks orang-orang yang ada di sekitar.

    Ingat lho, masyarakat kita itu sedang ada di masa peralihan. Ada yang sudah modern dan ada pula yang tradisional. Mereka yang sudah modern barangkali memiliki refleks yang langsung menolong, namun mereka yang tradisional, refleksnya untuk melihat Vegawatimu saja sudah ‘nggumunan’ apalagi melihat Vegawatimu yang kinclong itu meluncur di aspal, refleks mereka barangkali bilang “Wah, bisa meluncur juga di aspal” … dan bukannya “Aduh kasihan XKH, kutolong ah”

    Begitu..:)

  31. dloen

    duh, sayangnya Qga bisa ikut merasakannya nih mas, gimana dong……….

  32. novi

    pengalaman yang sama juga saya alami, tapi saya berada dalam kondisi pertama dimana tak satupun orang menghampiri kami (bersama istri) yang jatuh dari sepeda karena jalan yang menurun tajam.

    padahal saat itu istri sedang hamil 5 bulan.

  33. cebong ipiet

    injih kang, diriku setuju kok sama dirimu, nek kasus e pecicilan paling tak tulung tapi tak omeli, bonus deh gyahayaa

    sing luwih parah, nonton sisan nyopet jian kebangeten

  34. emfajar

    mungkin karena di indonesia banyak orang yang stress jadi apa aja jd tontonan..

  35. genthokelir

    barang siapa suka menolong maka dia akan ditolong juga begitulah kira kira hukumnya yah maas

  36. sawali tuhusetya

    mas ardy seperti mengingatkan kecelakaan yang menimpa saya sekitar 7 tahun yang lalu. antara sadar dan tidak, saya masih inget diberi seteguk air. duh, ternyata memang benar, sekecil apa pun bantuan, akan memberikan dorongan moral kepada korban. semoga lekas fresh, mas.

  37. marsudiyanto

    Terkadang sebuah musibah dijadikan berkah bagi sebagian orang.
    Adik saya pernah jadi korban kecelakaan (sampai meninggal). Uang hasil jerih payahnya berbulan2 + surat kendaraan lenyap entah kemana.
    Akibatnya klaim asuransi & urusan polisi nyaris gagal. Beruntung arsip di kantor polisi bisa dilacak.

  38. kyai slamet

    Jek urip peno? Wis ayo syukuran, mangan-mangan! Mulane ta, sholat!

  39. racheedus

    Saya juga pernah hendak menolong orang yang kecelakaan motor karena menabrak median jalan. Ia pun menggelepar, berdarah-darah, dan nyaris mati. Ketika aku hendak menolong,seorang lelaki bilang, “Biarin aja, orang mabok! Dari mulutnya bau minuman! Biar mati sekalian.” Sungguh sadis!

  40. ericova

    betul mas..orang sekarang sudah malas menolong apalagi jika g kenal..pasti pura2 tidak tahu n acuh..bener kata mas..orang g mau ikut2 ribut n kena hukum2 sgala..

Leave a Reply


26 January 2010 • Ketertarikan, Pekerjaan, Penuturan • ardyansah

Menulis, -menurut saya- dalam banyak hal tak jauh berbeda dari mendesain. Sama-sama merancang, sama-sama mengandalkan ide sebagai ruh, sama-sama bekerja dengan imajinasi (dan atau fantasi), sama-sama membutuhkan kreativitas untuk mengemasnya menjadi sebuah entitas karya,  juga yang pasti sama-sama tak mudah mengerjakannya. Estetika dalam desain bisa dinilai dari bentuk, komposisi, warna, dan elemen-elemen visual lainnya. [...][...]

24 January 2010 • Remahan • ardyansah

Wah, wah, wah, lama juga rupanya blog ini tidak saya urus, tulisan terakhir di blog ini tertanggal 25 Oktober tahun lalu. Kemana saja saya 2-3 bulan ini??? Hahaha… mau tahu aja sih. Ya, sudahlah. Saya juga belum yang mood banget untuk nulis (selain juga belum punya bahan untuk dijadikan tulisan). Jadi, tulisan ini hanya [...][...]