26 January 2010 • Ketertarikan, Pekerjaan, Penuturan • ardyansah

Menulis, -menurut saya- dalam banyak hal tak jauh berbeda dari mendesain. Sama-sama merancang, sama-sama mengandalkan ide sebagai ruh, sama-sama bekerja dengan imajinasi (dan atau fantasi), sama-sama membutuhkan kreativitas untuk mengemasnya menjadi sebuah entitas karya,  juga yang pasti sama-sama tak mudah mengerjakannya. :D

Estetika dalam desain bisa dinilai dari bentuk, komposisi, warna, dan elemen-elemen visual lainnya. Sementara estetika dalam menulis -barangkali- sangat bergantung pada pemilihan kata, penyusunan kalimat, atau permainan alur/ plot. Tetapi lebih dari itu semua, sebagai media penyampaian gagasan, karya desain atau karya penulisan yang berhasil adalah yang mampu membawakan pesan, mengajak berfikir, menggugah, termasuk mempengaruhi dan membujuk.

Sebuah karya desain sebagus apapun, tanpa terselip pesan hanya akan berakhir sebagai tumpukan portofolio yang hanya berdampak pada si desainer tanpa memberi kontribusi apa-apa bagi lingkungannya. Karya yang muncul hanya untuk dilupakan.

Menulis, -entah itu esai, berita, atau apapun saja- yang terbaik adalah yang mampu mengkonversi gagasan menjadi pesan, sesuatu yang dapat dinikmati secara batiniyah. Tak harus selalu gamblang, tetapi bukan yang  semata-mata kaya akan keelokan majas atau kegenitan menggunakan bahasa asing, yang justru seringkali hanya berujung pada terputusnya pesan dan maksud yang ingin disampaikan penulis.

Mendesain dan menulis seringkali sesederhana berbicara… mengkomunikasikan pesan.

{ 13 Comments } to Menulis, Mendesain, dan Kesederhanaan Pesan

  1. suryaden

    iya, cukup rumit karena tak ada colokan USB di kepala kita.. :D

  2. Jidat

    Sebenarnya menulis dan mendesain sama sama menguras otak. . kalo mendesain harus punya banyak inopasi. . . he

  3. antyo rentjoko

    Setuju saya. Betul sekali Pak Mantan Kyai…

  4. omagus

    tapi butuh kecemerlangan otak untuk dapat bener-bener bisa menyampaikan pesan dalam tulisan atau desain apapun yang kita buat..!
    yang ini nggak semua orang bisa kang..!
    ajarin saya dung.. :D

  5. Fenty

    bener juga ya ^^

  6. Tomy Meilando

    Menulis & Mendesain = Penyampaian Pesan :)
    Salam kenal, ilmu yang bermanfaat..terima kasih

  7. shafira

    :) . setuju…
    menulis = merancang abjad -abjad
    (meski saya belum bisa menuliskan tulisan dengan pesan2 yang mudah ditangkap)

  8. dani

    Mungkin bedanya: ada yang berhenti saat berprinsip “yang penting pesannya tersampaikan.” Lainnya ada yang masih berkreasi dengan segala cita rasanya untuk tidak sekadar “pesan tersampaikan”. :)

  9. dloen

    maz,,,
    masih boleh kan wat q mengunjungi blog mu,,,,

  10. antown

    dalem kang tulisannya.
    betapa postingan ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua…

    btw, pakabar nih

  11. hanif IM

    desain menurutku, imaginasi yg tertumpah dalam bentuk campuran warna hingga abstrak, biasanya sangat mengagumkan jika dilihat, sedangkan menulis, akan menjadi kekaguman saat kita tak mampu berhenti membayangkan apa yg telah di tuliskan, tak mampu berhenti membacanya, dan, tentu keduanya hal yang sangat kompleks. hehe

  12. zenteguh

    Dan tulisan-tulisan seperti ini yang selalu ditunggu para pembaca…..mari kita menulis. (simplicity article but many message. top)

  13. ALRIS

    Kata teman, tulis aja, tulis, tulis….

Leave a Reply


1 June 2010 • Pekerjaan • ardyansah

Ketika mendengar “canting”, orang pasti terpikir perangkat mungil berbentuk cawan dengan pegangan dan ujung “pena” yang biasa digunakan oleh seniman batik untuk menggores dan memberi sentuhan akhir untuk karya-karyanya. Canting adalah simbol kesadaran untuk berkarya. Kecil, bersahaja, tetapi sangat besar peranannya. Barangkali filosofi inilah yang mendasari Derry Sunarso, sutradara rendah hati yang karyanya banyak terinspirasi kemegahan [...][...]

26 January 2010 • Ketertarikan, Pekerjaan, Penuturan • ardyansah

Menulis, -menurut saya- dalam banyak hal tak jauh berbeda dari mendesain. Sama-sama merancang, sama-sama mengandalkan ide sebagai ruh, sama-sama bekerja dengan imajinasi (dan atau fantasi), sama-sama membutuhkan kreativitas untuk mengemasnya menjadi sebuah entitas karya,  juga yang pasti sama-sama tak mudah mengerjakannya. Estetika dalam desain bisa dinilai dari bentuk, komposisi, warna, dan elemen-elemen visual lainnya. [...][...]