Suatu ketika saya, Kyai Slamet, dan 2 orang teman saya -terjebak- beristirahat di sebuah masjid di kota Bojonegoro setelah selama berjam-jam menempuh puluhan kilometer di dalam hutan jati yang gelap, berputar-putar mencari -nomer togel- lokasi -persembunyian- proyek salah satu teman kami tadi.
Waktu itu sudah mendekati Subuh, pintu masjid sudah dibuka, para penjaga masjid dan sebagian -kecil- warga sudah bersiap untuk menunaikan ibadah pagi tersebut, sementara kami berempat yang berjuang menahan pegal, kantuk dan dingin berusaha sekejap dua kejap mata untuk sekedar merem di serambi masjid. Tapi berhubung saat itu sudah sangat mendekati waktu sholat akhirnya saya putuskan untuk segera mengambil air wudhu dan duduk di antara para jamaah, yang ada dalam pikiran saya ketika itu supaya kami tidak disangka hanya numpang tidur di masjid, biar jamaah lain menyangka kami ke masjid memang niat mau sholat.
Awalnya upaya saya berhasil, terbukti beberapa jamaah memberikan respon yang baik dengan mengajak saya berjabat tangan, tanda “selamat datang”. Masalah muncul ketika adzan shubuh telah berkumandang, dan saya diminta membangunkan ketiga -begundal- teman saya yang masih bergelimpangan di teras masjid. Slamet dan rekan saya yang menjadi sumber segala kepegalan tulang belulang kami -malam- pagi itu segera bangun dan mengambil air wudhu, tetapi rekan saya yang satu lagi justru ngeloyor gontai sambil mengepulkan asap yang penuh nikotin meninggalkan masjid. Seorang jamaah -yang kemudian saya ketahui ternyata imam masjid itu- sontak heran dan bertanya kepada saya, “Lho temannya kok gak ikut sholat?”, saya yang sudah sangat kelelahan, dan mengalami DSSOSAKDKKMPPYM (disorganisasi sel-sel otak sementara akibat kebodohan dan ketololan karena mengikuti petunjuk petunjuk yang menyesatkan) menjawab sekenanya agar bapak imam masjid ini tidak meneruskan pertanyaannya tentang teman saya yang keturunan pengusaha dan -kyai- haji ternama di kota Tuban, supaya kita bisa segera sholat lalu kami bisa beristirahat dengan -sedikit- tenang. Awalnya saya ingin menjawab, “Oh teman saya sedang capek berat Pak”, tetapi saya yakin bukan jawaban seperti ini yang ingin mereka dengar, dan jawaban itu hanya akan membuahkan pertanyaan-pertanyaan lanjutan yang hanya akan menguras sisa-sisa energi saya, tetapi akhirnya jawaban ini terlintas dan spontan terlontar, “Ooooh, dia Kristen Pak”, … CASE CLOSED !!! Dan sepertinya itulah dosa pertama saya hari itu.
Pesan moral dari cerita ini:
1. Jangan pernah mau mengunjungi teman yang sedang bekerja di tengah hutan yang dia sendiri tidak tahu jalan masuk dan keluarnya, terlebih jika teman anda itu sok tahu dan sok ngerti.
2. Jangan pernah mengunjungi masjid jika anda tidak berniat melaksanakan sholat.
3. Jika anda sudah terlanjur berada di masjid dan ada teman anda yang -berniat- kabur dari ibadah, silahkan segera menghubungi FPI.
4. Jika anda sudah terlanjur kepepet dan harus memberikan jawaban agar pertanyaan seperti yang dilontarkan imam masjid tadi tidak berlarut-larut, selain Kristen anda boleh menjawab Katholik, Hindu, Budha, Konghucu, atau Tridharma, asal jangan sampai anda menjawab Ahmadiyah, sebab dikhawatirkan imam masjid tadi anggota FPI.
July 24th, 2008 at 4:34 am
Jadi demikian adanya… karena itu……..
July 24th, 2008 at 5:12 am
kalo teringat malam itu… rasanya saya mau
NGAKAK….
yah… mari kita rancang demo besar-besaran kepada honda dan yamaha. kenapa tidak dilengkapi dengan GPS
July 24th, 2008 at 7:00 am
Wah..wah…bermain di area sensitip ini, hahaha…saya juga sering mendadak nasrani, kalo pas motret pemberkatan nikah di gereja, sering orang2 dan pendeta menyalami saya di kira juga umat gereja itu,hahaha…tapi it’s ok lah, bukankah semua umat manusia itu sama, gak peduli agama, ras, dll…hidup Indonesia!!!!!!!!
July 24th, 2008 at 7:20 am
@ tukang gunem: ini bukan untuk menghina teman-teman kristen. cuma untuk mengingat2 kekonyolan kami aja menjawab pertanyaan imam masjid yang telak itu. kebetulan aja yang kepikiran kristen. soalnya teman saya yang kabur waktu sholat itu tidak ada tampang konghucu sama sekali
. maafkan
July 24th, 2008 at 11:11 am
Jawaban yang cerdas, tapi mungkin agak berat pertanggung jawabannya. Jadi sebisa mungkin sih cari jawaban yang lain
July 25th, 2008 at 6:51 am
Tego tenan sampeyan nang koncone sampeyan.
Btw aku sapto darmo, cak ,piye iki oleh nang mesjid ?
hehehe
July 25th, 2008 at 12:19 pm
oentoek point.4:
FPI kan nggak maen di hutan? Soalnya di hutan kan nggak ada diskotek
bentul ora ….
July 25th, 2008 at 6:24 pm
[...] Vesi lain dapat disimak disini! [...]
July 26th, 2008 at 12:38 am
hhehehehehe….
kacau…
July 26th, 2008 at 12:45 am
@richard: berarti gak bisa ngajak pacar ke hutan lagi dong kalo ada fpi? hehe
July 26th, 2008 at 2:12 am
parah
July 26th, 2008 at 4:39 am
Meski saya Kristen, Katholik tepatnya, tapi saya sangat menikmati tulisan Anda.
Lucu beneran, Mas! Hahahaha..
Salam kenal
July 26th, 2008 at 2:00 pm
kyakakakakak! si tasman mang spesialis soal trik kayak gitu! coba tebak? Hahahaha…….TEPAT SEKALI! “HARI JUM’AT”
July 26th, 2008 at 11:19 pm
Saya juga pernah “mendadak kristen” Mas.
Menjelang maghrib, ada seseorang dengan sorban dan celana di atas mata kaki sedang keliling keluar masuk kost2an untuk mengajak siapapun yang ditemuinya untuk berdebat dengan dia tentang agama Islam (dan ujung-ujungnya akan diajak gabung ke “aliran” dia).
Ketika hendak mengetuk kamar saya, dari dalam kamar saya dengar teman saya di luar berteriak agar jangan mengetuk pintu saya karena saya Nasrani
July 27th, 2008 at 3:04 am
@sandal
kancamu pancen pinter kuwi….
July 27th, 2008 at 7:04 am
waks… doanya harus diperpanjang tuh, mohon ampunan
July 27th, 2008 at 4:50 pm
huahahahaa. guyon sara yang huahahahahaa…
July 28th, 2008 at 1:23 am
@sandal: langkah yang bagus mas.
@anaketazman : woi pelakune mampir
July 28th, 2008 at 10:36 am
Anake sopo seh kui kang
July 29th, 2008 at 4:07 am
terims sarannya
July 29th, 2008 at 9:17 am
bilang aja kl temennya mgkn mau ke toilet dulu. kl ketinggalan sholat jamaah kan bisa dimaafkan
July 31st, 2008 at 9:58 am
waaaa di bojonegoro ya mas..?
laen kali mbok mampir
August 1st, 2008 at 6:14 am
untung saja ngga diajak berdebat soal trinitas.
)
August 1st, 2008 at 9:53 am
He he he sekali 2x emang harus dibuat begitu biar gak “numani”
August 2nd, 2008 at 6:44 am
Mbok bilang aja, temen yang satu itu komunis… hix…
August 2nd, 2008 at 10:33 am
hahaha…
saya persis mas tukanggunem…
saya muslim, tp sering ke gereja acara shoting pemberkatan pernikahan…jadi kegiatan saya;
1. Jum;at ke masjid
2. sabtu-minggu ke gereja…
seep dah…
lam kenal
August 6th, 2008 at 4:27 am
wakakakak .. caur juga. tapi lucu dan kena banget ..
August 9th, 2008 at 7:31 am
ha ha ha ha *maaf mas numpang ketawa*
August 12th, 2008 at 11:36 am
Hua..ha..ha..ha.. lucu bgt mas..
untung di sebelahnya ga ada gereja. kalo ada langsung di suruh kebaktian tuh..
October 26th, 2008 at 1:33 pm
gila kali kyai kok di kristenkan hahahaha
December 17th, 2008 at 3:25 am
[...] kabar, isu dan desas-desus tentang perempuan jomblo asli Bojonegoro (kota tempat terjadinya tragedi Mendadak Kristen) itu, sebelum kemudian -tanpa sengaja- bertemu beberapa kejap di Kodpar Massal 2008, itupun tanpa [...]
December 17th, 2008 at 8:56 pm
kiraiin ada program xxxxxxxxxxx massal
dan ardyansah promotornya…
December 24th, 2008 at 6:38 am
[...] sebuah post yang kebetulan dia ikut terlibat secara aktif didalam ceritanya. Ah, jadi menertawakan insiden Bojonegoro itu [...]