24 July 2008 • Keseharian, Penuturan • ardyansah

tuban, blogger, desain, grafis, blog inspirasi, blog muslim, blog desain grafis, blog indonesia, blog islam, blog

Suatu ketika saya, Kyai Slamet, dan 2 orang teman saya -terjebak- beristirahat di sebuah masjid di kota Bojonegoro setelah selama berjam-jam menempuh puluhan kilometer di dalam hutan jati yang gelap, berputar-putar mencari -nomer togel- lokasi -persembunyian- proyek salah satu teman kami tadi.

Waktu itu sudah mendekati Subuh, pintu masjid sudah dibuka, para penjaga masjid dan sebagian -kecil- warga sudah bersiap untuk menunaikan ibadah pagi tersebut, sementara kami berempat yang berjuang menahan pegal, kantuk dan dingin berusaha sekejap dua kejap mata untuk sekedar merem di serambi masjid. Tapi berhubung saat itu sudah sangat mendekati waktu sholat akhirnya saya putuskan untuk segera mengambil air wudhu dan duduk di antara para jamaah, yang ada dalam pikiran saya ketika itu supaya kami tidak disangka hanya numpang tidur di masjid, biar jamaah lain menyangka kami ke masjid memang niat mau sholat.

Awalnya upaya saya berhasil, terbukti beberapa jamaah memberikan respon yang baik dengan mengajak saya berjabat tangan, tanda “selamat datang”. Masalah muncul ketika adzan shubuh telah berkumandang, dan saya diminta membangunkan ketiga -begundal- teman saya yang masih bergelimpangan di teras masjid. Slamet dan rekan saya yang menjadi sumber segala kepegalan tulang belulang kami -malam- pagi itu segera bangun dan mengambil air wudhu, tetapi rekan saya yang satu lagi justru ngeloyor gontai sambil mengepulkan asap yang penuh nikotin meninggalkan masjid. Seorang jamaah -yang kemudian saya ketahui ternyata imam masjid itu- sontak heran dan bertanya kepada saya, “Lho temannya kok gak ikut sholat?”, saya yang sudah sangat kelelahan, dan mengalami DSSOSAKDKKMPPYM (disorganisasi sel-sel otak sementara akibat kebodohan dan ketololan karena mengikuti petunjuk petunjuk yang menyesatkan) menjawab sekenanya agar bapak imam masjid ini tidak meneruskan pertanyaannya tentang teman saya yang keturunan pengusaha dan -kyai- haji ternama di kota Tuban, supaya kita bisa segera sholat lalu kami bisa beristirahat dengan -sedikit- tenang. Awalnya saya ingin menjawab, “Oh teman saya sedang capek berat Pak”, tetapi saya yakin bukan jawaban seperti ini yang ingin mereka dengar, dan jawaban itu hanya akan membuahkan pertanyaan-pertanyaan lanjutan yang hanya akan menguras sisa-sisa energi saya, tetapi akhirnya jawaban ini terlintas dan spontan terlontar, “Ooooh, dia Kristen Pak”, … CASE CLOSED !!! Dan sepertinya itulah dosa pertama saya hari itu.

Pesan moral dari cerita ini:
1. Jangan pernah mau mengunjungi teman yang sedang bekerja di tengah hutan yang dia sendiri tidak tahu jalan masuk dan keluarnya, terlebih jika teman anda itu sok tahu dan sok ngerti.
2. Jangan pernah mengunjungi masjid jika anda tidak berniat melaksanakan sholat.
3. Jika anda sudah terlanjur berada di masjid dan ada teman anda yang -berniat- kabur dari ibadah, silahkan segera menghubungi FPI.
4. Jika anda sudah terlanjur kepepet dan harus memberikan jawaban agar pertanyaan seperti yang dilontarkan imam masjid tadi tidak berlarut-larut, selain Kristen anda boleh menjawab Katholik, Hindu, Budha, Konghucu, atau Tridharma, asal jangan sampai anda menjawab Ahmadiyah, sebab dikhawatirkan imam masjid tadi anggota FPI.

{ 33 Comments } to Mendadak Kristen

  1. Jauhari

    Jadi demikian adanya… karena itu……..

  2. sluman slumun slamet

    kalo teringat malam itu… rasanya saya mau
    NGAKAK….
    yah… mari kita rancang demo besar-besaran kepada honda dan yamaha. kenapa tidak dilengkapi dengan GPS

  3. Tukang Nggunem

    Wah..wah…bermain di area sensitip ini, hahaha…saya juga sering mendadak nasrani, kalo pas motret pemberkatan nikah di gereja, sering orang2 dan pendeta menyalami saya di kira juga umat gereja itu,hahaha…tapi it’s ok lah, bukankah semua umat manusia itu sama, gak peduli agama, ras, dll…hidup Indonesia!!!!!!!!

  4. ardyansah

    @ tukang gunem: ini bukan untuk menghina teman-teman kristen. cuma untuk mengingat2 kekonyolan kami aja menjawab pertanyaan imam masjid yang telak itu. kebetulan aja yang kepikiran kristen. soalnya teman saya yang kabur waktu sholat itu tidak ada tampang konghucu sama sekali :D . maafkan

  5. mr.bambang

    Jawaban yang cerdas, tapi mungkin agak berat pertanggung jawabannya. Jadi sebisa mungkin sih cari jawaban yang lain

  6. pramudyaputrautama

    Tego tenan sampeyan nang koncone sampeyan.
    Btw aku sapto darmo, cak ,piye iki oleh nang mesjid ?
    hehehe

  7. richard™

    oentoek point.4:

    FPI kan nggak maen di hutan? Soalnya di hutan kan nggak ada diskotek :)

    bentul ora ….

  8. Mendadak pindah agama… | Berpikir Merdeka

    [...] Vesi lain dapat disimak disini! [...]

  9. danu

    hhehehehehe….
    kacau… :P

  10. ardyansah

    @richard: berarti gak bisa ngajak pacar ke hutan lagi dong kalo ada fpi? hehe

  11. Anang

    parah

  12. Donny Verdian

    Meski saya Kristen, Katholik tepatnya, tapi saya sangat menikmati tulisan Anda.

    Lucu beneran, Mas! Hahahaha..

    Salam kenal

  13. anaketazman

    kyakakakakak! si tasman mang spesialis soal trik kayak gitu! coba tebak? Hahahaha…….TEPAT SEKALI! “HARI JUM’AT”

  14. Yeni Setiawan

    Saya juga pernah “mendadak kristen” Mas.

    Menjelang maghrib, ada seseorang dengan sorban dan celana di atas mata kaki sedang keliling keluar masuk kost2an untuk mengajak siapapun yang ditemuinya untuk berdebat dengan dia tentang agama Islam (dan ujung-ujungnya akan diajak gabung ke “aliran” dia).

    Ketika hendak mengetuk kamar saya, dari dalam kamar saya dengar teman saya di luar berteriak agar jangan mengetuk pintu saya karena saya Nasrani :D

  15. sluman slumun slamet

    @sandal
    kancamu pancen pinter kuwi….
    :D

  16. septy

    waks… doanya harus diperpanjang tuh, mohon ampunan :D

  17. paman tyo

    huahahahaa. guyon sara yang huahahahahaa… :D

  18. ardyansah

    @sandal: langkah yang bagus mas.
    @anaketazman : woi pelakune mampir

  19. keminisme

    Anake sopo seh kui kang

  20. dhany

    terims sarannya

  21. lady

    bilang aja kl temennya mgkn mau ke toilet dulu. kl ketinggalan sholat jamaah kan bisa dimaafkan :)

  22. Perikecil

    waaaa di bojonegoro ya mas..?
    laen kali mbok mampir :P

  23. bangsari

    untung saja ngga diajak berdebat soal trinitas. :) )

  24. Andi Eko

    He he he sekali 2x emang harus dibuat begitu biar gak “numani” ;)

  25. LeOden

    Mbok bilang aja, temen yang satu itu komunis… hix…

  26. torasham

    hahaha…
    saya persis mas tukanggunem…
    saya muslim, tp sering ke gereja acara shoting pemberkatan pernikahan…jadi kegiatan saya;
    1. Jum;at ke masjid
    2. sabtu-minggu ke gereja…

    seep dah…
    lam kenal

  27. papabonbon

    wakakakak .. caur juga. tapi lucu dan kena banget ..

  28. kang gery

    ha ha ha ha *maaf mas numpang ketawa*

  29. ashto

    Hua..ha..ha..ha.. lucu bgt mas..
    untung di sebelahnya ga ada gereja. kalo ada langsung di suruh kebaktian tuh..

  30. genthokelir

    gila kali kyai kok di kristenkan hahahaha

  31. blog mantan kyai

    [...] kabar, isu dan desas-desus tentang perempuan jomblo asli Bojonegoro (kota tempat terjadinya tragedi Mendadak Kristen) itu, sebelum kemudian -tanpa sengaja- bertemu beberapa kejap di Kodpar Massal 2008, itupun tanpa [...]

  32. alifahru

    kiraiin ada program xxxxxxxxxxx massal :) dan ardyansah promotornya… :)

  33. blog mantan kyai

    [...] sebuah post yang kebetulan dia ikut terlibat secara aktif didalam ceritanya. Ah, jadi menertawakan insiden Bojonegoro itu [...]

Leave a Reply


1 June 2010 • Pekerjaan • ardyansah

Ketika mendengar “canting”, orang pasti terpikir perangkat mungil berbentuk cawan dengan pegangan dan ujung “pena” yang biasa digunakan oleh seniman batik untuk menggores dan memberi sentuhan akhir untuk karya-karyanya. Canting adalah simbol kesadaran untuk berkarya. Kecil, bersahaja, tetapi sangat besar peranannya. Barangkali filosofi inilah yang mendasari Derry Sunarso, sutradara rendah hati yang karyanya banyak terinspirasi kemegahan [...][...]

26 January 2010 • Ketertarikan, Pekerjaan, Penuturan • ardyansah

Menulis, -menurut saya- dalam banyak hal tak jauh berbeda dari mendesain. Sama-sama merancang, sama-sama mengandalkan ide sebagai ruh, sama-sama bekerja dengan imajinasi (dan atau fantasi), sama-sama membutuhkan kreativitas untuk mengemasnya menjadi sebuah entitas karya,  juga yang pasti sama-sama tak mudah mengerjakannya. Estetika dalam desain bisa dinilai dari bentuk, komposisi, warna, dan elemen-elemen visual lainnya. [...][...]