15 September 2008 • Keganjilan, Keseharian, Khayalan, Penerawangan, Renungan • ardyansah

blog indonesia, blog pemikiran, blog perenungan, blog imajinasi, blog mantan kyai, blog kyai, blog islam, blog islam-indonesia, blog menulis, blog non-doktrin, blog desain grafis, blog keragaman, blog indonesia, blog jawa timur, blog tuban, blog surabaya, blog kejawen, blog merdeka, blog sampahSemenjak saya sekolah mulai mengenakan celana merah sampai tidak bercelana celana abu-abu, dan sekaligus masih aktif sebagai santri, saya banyak bertanya -terutama- kepada diri saya sendiri tentang struktur peradaban dunia yang saya nilai tidak adil. Kenapa misalnya para nabi yang wajib saya percayai selalu “orang asing” dan tidak ada satupun yang sebangsa dengan saya? Pikiran dangkal dan dongkol saya berharap bisa menemukan Nabi Bambang, Nabi Tugiman, Nabi Dadang, Nabi Siregar, Nabi Cheung, atau Nabi Nyoman barangkali, dalam daftar Utusan Tuhan yang wajib saya imani. (Tapi ternyata beberapa tahun kemudian saya banyak melihat nabi dari negeri ini :D )

Pikiran kanak-kanak saya tidak habis pikir kenapa Tuhan begitu Timur Tengah-sentris dan seolah-olah hanya mempercayakan urusan perbaikan akhlak, moral, dan pengayoman kebajikan kepada ras tertentu. Lalu kenapa bangsa saya yang populasinya besar, memiliki potensi menjadi bijak dan luhur lebih dari bangsa manapun (kalau yang ini jelas saya tambahi sendiri:D), mempunyai derajat ke-istiqomah-an yang luar biasa (bahkan kita bisa ber-istiqomah dalam kebodohan dan kemelaratan sekaligus), dan se-abreg kekayaan bathiniyyah lainnya (hmmm…yang ini sepertinya juga sudah tidak kita miliki lagi), sama sekali tidak mendapatkan tempat untuk memimpin peradaban, bahkan tidak sekalipun Tuhan menyebut bangsa ini dalam ayat-ayatNya kecuali terlingkupi dalam sebutan “umat manusia”.

Itu hanyalah sebagian kecil dari pertanyaan kanak-kanak saya yang bodoh dan naïf. Terlalu banyak pertanyaan  yang pernah terlintas dan hilir mudik dalam lalu lintas sel-sel otak cemerlang saya pada waktu itu:D, termasuk saya berfikir betapa susahnya masuk surga ketika harus ada seleksi keahlian bahasa Arab, dimana yang tidak bagus bacaan kitabnya akan dipersulit masuk kesana. Yah, namanya juga anak kecil bengal, ada saja yang dipikirkan:D.

Sampai kemudian dalam sebuah pengembaraan spiritual saya di jagad inggil, saya bertemu dengan sosok Ki Purwo Jogo Angkoso, yang di kemudian hari menjadi mentor saya dan Kyai Slamet ketika sama-sama menimba ilmu di Pondok Pesantren Mbeling di Tuban. Di alam “lelembut” yang tak kasatmata itu kami kemudian mulai terlibat dalam pembicaraan yang Maha Berat seperti eksistensi dan wujud Tuhan, sampai yang remeh temeh weleh weleh semacam cara mencuci kelamin setelah berjima’/ bercintah:D.

blog indonesia, blog pemikiran, blog perenungan, blog imajinasi, blog mantan kyai, blog kyai, blog islam, blog islam-indonesia, blog menulis, blog non-doktrin, blog desain grafis, blog keragaman, blog indonesia, blog jawa timur, blog tuban, blog surabaya, blog kejawen, blog merdeka, blog sampahSaya mengikuti dengan penuh ta’zim setiap wejangan yang keluar dari bibir kyai mbeling yang pernah menjadi pujaan banyak perempuan ini, sehingga sampailah saya pada satu titik kesadaran dan kesimpulan bahwa kapasitas otak saya benar-benar terbatas.

Ada hal-hal yang memang bisa (baca:boleh) bahkan harus saya jangkau dengan logika, protes bahkan kritik dengan perantara akal fikiran saya, ini lebih sebagai hikmah atas penciptaan kepala saya yang berisi otak, bukan donat. Tetapi dalam lebih banyak hal, logika dan nalar saya harus bisa menahan diri untuk tak terlalu pongah mempertanyakan ilmunya Tuhan. Selama saya anggap itu baik bagi kehidupan saya,  dan tidak bersentuhan dengan pelanggaran hak-hak manusia lain, kenapa saya mesti memperdebatkan lagi? Ada saatnya untuk “sesekali” saya diam, pasrah dan ikhlas alias terima beres bin nrimo aturan-aturan Gusti Allah.

Seperti ketika pertemuan maya itu hampir berakhir, saya masih sempat ngeyel untuk bertanya, “Kenapa kalau kita batal wudhu gara-gara kentut di pantat kok yang di basuh muka dan kepala, Ki?”, Ki Purwo Jogo Angkoso lantas seketika berdiri berkacak pinggang sambil nunjuk-nunjuk ke muka saya,”Kalau gitu coba tanyaken sama pak mantri gemblung yang kemaren merawatku, kenapa waktu aku datang sambatan sakit kepala kok yang disuntik pantatku, hah?”.

***

Post inspired from: Ki Dheny Purwo (Bukan Blogger/ Pimpinan Theater Mbeling Tuban) | Foto Anak SD pinjam tanpa ijin disini

{ 44 Comments } to Mantan Kyai Manut : Kemerdekaan VS Keterbatasan Akal

  1. richard

    otak ini bagaikan gelas kecil yang tak mampu menampung pengetahuan-NYA yang bak air di lautan pasifik. makanya, kalo mentok mikir soal_NYA, ya otak saya ini ditaruh di pantat. pantatmologi itu nyatanya lebih mulia dibanding coba terus berfikir, yang ujung2nya nampak ingin menjadi setara dengan-NYA.

  2. abdigusti

    iya.. istri saya juga yg saya “suntik” bawahnya kok yg melendung perutnya hayoo..?

  3. emfajar

    ilmu yang dimiliki manusia tidak bisa dibandingkan dengan ilmunya Tuhan,, sudah selayaknya kita tidak berlaku sombong..

  4. Ahmad

    Pikiran kita kadang macet di tengah pusaran masalah yang rumit.

    Biarlah hati yang menyapa agar hidup terus berjalan.

  5. gajah_pesing

    Seperti ketika pertemuan maya itu hampir berakhir, saya masih sempat ngeyel untuk bertanya, “Kenapa kalau kita batal wudhu gara-gara kentut di pantat kok yang di basuh muka dan kepala, Ki?”, Ki Purwo Jogo Angkoso lantas seketika berdiri berkacak pinggang sambil nunjuk-nunjuk ke muka saya,”Kalau gitu coba tanyaken sama pak mantri gemblung yang kemaren merawatku, kenapa waktu aku datang sambatan sakit kepala kok yang disuntik pantatku, hah?”.
    huehuehueheuhueheu…. saia baru mudeng tulisan yang ini…

  6. herry setyono

    tidak salah untuk sekedar bertanya, asal jangan kebablasan dan ngeyel ajah… (kasihan kyainya punya santri mbeling)

  7. imfine

    *sialan* Hampir ketipu, kirain foto diatas adalah fotonya orang yg sering di tipi itu!! :-D

  8. Kang Nur

    saya ingat ada pelajaran ttg tingkat2 hidayah itu, kang. 1. hidayah indra 2. hidayah naluri 3. hidayah akal 4.hidayah diin dr wahyu. dr 1 ke 4, tingkatannya adalah meningkat dan meliputi di bawahnya.
    lalu ketika kita kentut, yang mendapat malu adalah muka kita, maka muka-lah yg kita basuh. coba misalkan ada cewek malu karena tak sengaja kentut dan bunyi; apa yg ia tutup adalah belahan pantatnya itu? yg ditutup mukanya, kan?
    :lol:

  9. ipam

    photonya kereen..kok nggak nglamar casting di tipi mas

  10. afwan auliyar

    wew… meamng begitulah pengetahuan yg dikasih ke kita nggak seberapa ….

    bnyak yg nggak bisa kita nalar dgn akal sendiri :)

  11. trendy

    saya juga dulu banyak pertanyaan konyol kayak gitu!
    wkekeekek!
    buset fotonya sangat amat menipu!

  12. grubik

    memang begitulah adanya otak kita yang terbatas mikirnya, seterbatas pandangan kita di tengah alam raya yang begitu luas ini..

  13. Donny Verdian

    Nabi dari sini namanya Nabirong, nafsu birahi merongrong..:)

  14. Yoyo

    Maha Benar Alloh, dengan segala Firman-Nya…… :)

  15. genthokelir

    eh lagi lagi perjalanan spritual yang menakjubkan tentunya.
    Pada paragraf awal tulisan saya sendiri juga kadang mempersoalkan nabi dengan kenapa….? lantas ini dan itu tapi kan kadng kita menghakiminya sendiri dan mengkambing hitamkan nya
    permusuhan antara logika matematika dengan logika keagamaan nggak pernah klop ya mas
    tapi iya deh pada paragraf terakhir tulisan anda menunjukkan kebenaran yang selama ini saya permasalahkan
    Islam memang sepertinya mudah tapi Iman itulah yang susah
    nggih Mbah

  16. SQ

    he..he..:lol: tapi jadi bodoh dan naif kadang mengasyikkan. Karena merasa penasaran “kenapa-dan-kenapa” membuat kita terus menerus mencari kebenaran, atau, setidaknya, mencari sesuatu yang dianggap benar :-)

  17. Qizink

    fotonya keren euy… kandidat lomba mirip aa

  18. Epat

    karena orang-orang timteng sana lebih rusak ketimbang manusia indonesia :-P

  19. yog@

    kirain saya yg difoto aa gym…. :P .mirip bgt

  20. mymoen

    Hehehe… kirain yang di foto ituh…. Capee deh..

  21. sawali tuhusetya

    sentilan ams ardy bener2 cerdas, sangat kuat kesan gugatannya terhadap melembaganya beragai macam dogma yang begitu kuat mengakar dalam sistem keagamaan.

  22. 1rw@n

    mantan kyai berdalil, sudah mau kembali kejalan yang benar :D

  23. tukang Nggunem

    Pertanyaan-pertanyaan mbeling sampeyan itu dulu juga pernah menghinggapi saya…knapa gak ada Nabi yang di utus dari tanah kelahiran saya di pelosok desa sana…

    Btw sampeyan kok pake nyamar jadi pangeran Diponegoro sgala knapa e??? *eh salah ya??

  24. gus

    kadang kembelingan Njenengan memaksa pemilik otak terbatas seperti saya ini harus banyak2 minum aspirin….

  25. gus

    Lho Kang. Baju dinasnya ko masih dipakai? hehehe

  26. Anang

    hai aak gim…

  27. peyek

    lah saya ditawari jadi wali malah saya tolak mentah-mentah

  28. norjik

    Jaman turunnya Al-Qur’an dulu blm ada mungkin Bangsa Indonesia :) he3x, tulisan yg bagus bro :) tp bikin penasaran :d he3x

  29. Dony

    Entah kenapa, setelah membaca posting ini, saya jadi ingat surat Muhammad ayat 7

  30. Jauhari

    Tobat Tobat Tobat…..

  31. edratna

    Saya geli baca paragraf akhir…yang pusing kepala kok yang disuntik pantat….hehehe

  32. rasyeed

    gambarnya bener2 mirip Aa’…*lost focus*

  33. adi isa

    “…akan datang suatu generasi dimasa yang akan datang yang sangat hebat dalam ketaqwaannya kepada Allah dan rasulnya, sedang mereka tidak pernah bertemu langsung denganku…”

    makanya nggak perlu ada tuh yang namanya nabi bambang,
    yang ada, hanya mas bambang..
    hehehehe

  34. Andy MSE

    Hua ha ha.. ini tulisan keren kang Mantan!.. Kyai buangets…
    Banyak hal saya juga tidak mudheng, tapi saya mencoba pasrah saja pada Gusti Allah…

    *kenapa dulu Adam tidak diturunkan di Jawa saja ya???

  35. Ersis Warmansyah Abbas

    Postingan Sampeyan selalu menarik untuk disimak. Salam.

  36. ngatini

    hahaha…lucu dan menarik banget..dasar kyai gemblung..
    ngatini juga krisis kepercayaan nih, sayangnya si om udah jadi mantan kyai..jadi gak jadi tanya2 ah..

  37. kyai slamet

    wah wis kasep…..
    maca thok wae lah….
    :D

  38. Lala

    asyik tuh analogi yang terakhir.. :D

  39. Sulaiman

    akal didewakan ketika tidak menemukan jawaban, lalu stress dan putus asa. otak masih dapat dikalahkan oleh hawa nafsu. akibatnya otaknya dan akalnya digunakan untuk melanggar hukum untuk menuruti nafsunya. apa ada nabi palsu yang bego, idiot, IQnya dibawah jongkok?

  40. nafuat

    jarene soale wong arab waktu iku pualing mokong cak… makane nabi diturunkan nang kono…
    nek wong jowo???
    di beri wali tok ae wis dadi islam kabeh penduduke…
    hehehe
    sing PENTING… ISLAM tidak sama dengan dengan ARAB!!!
    hidup SARUNG!!! hidup Songkok!!!
    Islam yang INDONESIA…

  41. Akmal

    ‘kenakalan’ akal lewat permainan logika empirik akan sampai pada batas dan menghantarkan kita pada pintu logika spiritual yang punya aturan tersendiri.
    sampai pada titik ini, hatilah yang akan mencerap kebenaran untuk kemudian diterjemahkan oleh akal, sesuai dengan set pemahaman yang telah dimiliki.
    proses ini terus berlangsung dinamis dan tidak mengenal kata akhir.

    salam,
    Akmal

  42. Hati « diluarbatasku

    [...] dari sini [...]

  43. bisot

    Kalau gitu coba tanyaken sama pak mantri gemblung yang kemaren merawatku, kenapa waktu aku datang sambatan sakit kepala kok yang disuntik pantatku, hah?”

    hahahaha parah…

    thx dagh seger dagh otak gw

  44. suryaden

    para nabi itu diturunkan di arab karena memang disana dibutuhkan nabi mas, biar orangnya sadar dan bisa masuk surga, bahkan mungkin banyak dan berkali-kali ada nabi disana, tapi hasilnya juga sama saja. Bahkan keluarga nabi ae banyak yang dihabisi oleh tetangganya sendiri itu.

    Bayangkan apalagi sekarang nggak ada nabi lagi, lha yang bisa boso arab yo orang sana je, nek disini kan paling ming manut-manut ae, dan nggak pernah urusan tuhan iku siapa, tuhan yo gusti allah, gusti allah ki sopo yo pengeran, titik.

    padahal nang ayat kitab iku yo ancen begitu kan, bahwa siapa membicarakan tuhan yo akhire ra ketemu wong diluar batas penalaran. malah bisa-bisa kafir.

    dari situ aja kan gampang, trus kalo urusan fikih yo serahkan ae sama yang paham, kalo nggak paham jelas penjelasannya akan mbulet mubeng-mubeng ra ketemu buntute.. jiahahaha

Leave a Reply


26 January 2010 • Ketertarikan, Pekerjaan, Penuturan • ardyansah

Menulis, -menurut saya- dalam banyak hal tak jauh berbeda dari mendesain. Sama-sama merancang, sama-sama mengandalkan ide sebagai ruh, sama-sama bekerja dengan imajinasi (dan atau fantasi), sama-sama membutuhkan kreativitas untuk mengemasnya menjadi sebuah entitas karya,  juga yang pasti sama-sama tak mudah mengerjakannya. Estetika dalam desain bisa dinilai dari bentuk, komposisi, warna, dan elemen-elemen visual lainnya. [...][...]

24 January 2010 • Remahan • ardyansah

Wah, wah, wah, lama juga rupanya blog ini tidak saya urus, tulisan terakhir di blog ini tertanggal 25 Oktober tahun lalu. Kemana saja saya 2-3 bulan ini??? Hahaha… mau tahu aja sih. Ya, sudahlah. Saya juga belum yang mood banget untuk nulis (selain juga belum punya bahan untuk dijadikan tulisan). Jadi, tulisan ini hanya [...][...]