Semenjak saya sekolah mulai mengenakan celana merah sampai tidak bercelana celana abu-abu, dan sekaligus masih aktif sebagai santri, saya banyak bertanya -terutama- kepada diri saya sendiri tentang struktur peradaban dunia yang saya nilai tidak adil. Kenapa misalnya para nabi yang wajib saya percayai selalu “orang asing” dan tidak ada satupun yang sebangsa dengan saya? Pikiran dangkal dan dongkol saya berharap bisa menemukan Nabi Bambang, Nabi Tugiman, Nabi Dadang, Nabi Siregar, Nabi Cheung, atau Nabi Nyoman barangkali, dalam daftar Utusan Tuhan yang wajib saya imani. (Tapi ternyata beberapa tahun kemudian saya banyak melihat nabi dari negeri ini
)
Pikiran kanak-kanak saya tidak habis pikir kenapa Tuhan begitu Timur Tengah-sentris dan seolah-olah hanya mempercayakan urusan perbaikan akhlak, moral, dan pengayoman kebajikan kepada ras tertentu. Lalu kenapa bangsa saya yang populasinya besar, memiliki potensi menjadi bijak dan luhur lebih dari bangsa manapun (kalau yang ini jelas saya tambahi sendiri:D), mempunyai derajat ke-istiqomah-an yang luar biasa (bahkan kita bisa ber-istiqomah dalam kebodohan dan kemelaratan sekaligus), dan se-abreg kekayaan bathiniyyah lainnya (hmmm…yang ini sepertinya juga sudah tidak kita miliki lagi), sama sekali tidak mendapatkan tempat untuk memimpin peradaban, bahkan tidak sekalipun Tuhan menyebut bangsa ini dalam ayat-ayatNya kecuali terlingkupi dalam sebutan “umat manusia”.
Itu hanyalah sebagian kecil dari pertanyaan kanak-kanak saya yang bodoh dan naïf. Terlalu banyak pertanyaan yang pernah terlintas dan hilir mudik dalam lalu lintas sel-sel otak cemerlang saya pada waktu itu:D, termasuk saya berfikir betapa susahnya masuk surga ketika harus ada seleksi keahlian bahasa Arab, dimana yang tidak bagus bacaan kitabnya akan dipersulit masuk kesana. Yah, namanya juga anak kecil bengal, ada saja yang dipikirkan:D.
Sampai kemudian dalam sebuah pengembaraan spiritual saya di jagad inggil, saya bertemu dengan sosok Ki Purwo Jogo Angkoso, yang di kemudian hari menjadi mentor saya dan Kyai Slamet ketika sama-sama menimba ilmu di Pondok Pesantren Mbeling di Tuban. Di alam “lelembut” yang tak kasatmata itu kami kemudian mulai terlibat dalam pembicaraan yang Maha Berat seperti eksistensi dan wujud Tuhan, sampai yang remeh temeh weleh weleh semacam cara mencuci kelamin setelah berjima’/ bercintah:D.
Saya mengikuti dengan penuh ta’zim setiap wejangan yang keluar dari bibir kyai mbeling yang pernah menjadi pujaan banyak perempuan ini, sehingga sampailah saya pada satu titik kesadaran dan kesimpulan bahwa kapasitas otak saya benar-benar terbatas.
Ada hal-hal yang memang bisa (baca:boleh) bahkan harus saya jangkau dengan logika, protes bahkan kritik dengan perantara akal fikiran saya, ini lebih sebagai hikmah atas penciptaan kepala saya yang berisi otak, bukan donat. Tetapi dalam lebih banyak hal, logika dan nalar saya harus bisa menahan diri untuk tak terlalu pongah mempertanyakan ilmunya Tuhan. Selama saya anggap itu baik bagi kehidupan saya, dan tidak bersentuhan dengan pelanggaran hak-hak manusia lain, kenapa saya mesti memperdebatkan lagi? Ada saatnya untuk “sesekali” saya diam, pasrah dan ikhlas alias terima beres bin nrimo aturan-aturan Gusti Allah.
Seperti ketika pertemuan maya itu hampir berakhir, saya masih sempat ngeyel untuk bertanya, “Kenapa kalau kita batal wudhu gara-gara kentut di pantat kok yang di basuh muka dan kepala, Ki?”, Ki Purwo Jogo Angkoso lantas seketika berdiri berkacak pinggang sambil nunjuk-nunjuk ke muka saya,”Kalau gitu coba tanyaken sama pak mantri gemblung yang kemaren merawatku, kenapa waktu aku datang sambatan sakit kepala kok yang disuntik pantatku, hah?”.
***
Post inspired from: Ki Dheny Purwo (Bukan Blogger/ Pimpinan Theater Mbeling Tuban) | Foto Anak SD pinjam tanpa ijin disini
September 15th, 2008 at 8:27 pm
otak ini bagaikan gelas kecil yang tak mampu menampung pengetahuan-NYA yang bak air di lautan pasifik. makanya, kalo mentok mikir soal_NYA, ya otak saya ini ditaruh di pantat. pantatmologi itu nyatanya lebih mulia dibanding coba terus berfikir, yang ujung2nya nampak ingin menjadi setara dengan-NYA.
September 16th, 2008 at 2:10 am
iya.. istri saya juga yg saya “suntik” bawahnya kok yg melendung perutnya hayoo..?
September 16th, 2008 at 4:54 am
ilmu yang dimiliki manusia tidak bisa dibandingkan dengan ilmunya Tuhan,, sudah selayaknya kita tidak berlaku sombong..
September 16th, 2008 at 5:37 am
Pikiran kita kadang macet di tengah pusaran masalah yang rumit.
Biarlah hati yang menyapa agar hidup terus berjalan.
September 16th, 2008 at 5:49 am
Seperti ketika pertemuan maya itu hampir berakhir, saya masih sempat ngeyel untuk bertanya, “Kenapa kalau kita batal wudhu gara-gara kentut di pantat kok yang di basuh muka dan kepala, Ki?”, Ki Purwo Jogo Angkoso lantas seketika berdiri berkacak pinggang sambil nunjuk-nunjuk ke muka saya,”Kalau gitu coba tanyaken sama pak mantri gemblung yang kemaren merawatku, kenapa waktu aku datang sambatan sakit kepala kok yang disuntik pantatku, hah?”.
huehuehueheuhueheu…. saia baru mudeng tulisan yang ini…
September 16th, 2008 at 6:36 am
tidak salah untuk sekedar bertanya, asal jangan kebablasan dan ngeyel ajah… (kasihan kyainya punya santri mbeling)
September 16th, 2008 at 6:53 am
*sialan* Hampir ketipu, kirain foto diatas adalah fotonya orang yg sering di tipi itu!!
September 16th, 2008 at 7:25 am
saya ingat ada pelajaran ttg tingkat2 hidayah itu, kang. 1. hidayah indra 2. hidayah naluri 3. hidayah akal 4.hidayah diin dr wahyu. dr 1 ke 4, tingkatannya adalah meningkat dan meliputi di bawahnya.
lalu ketika kita kentut, yang mendapat malu adalah muka kita, maka muka-lah yg kita basuh. coba misalkan ada cewek malu karena tak sengaja kentut dan bunyi; apa yg ia tutup adalah belahan pantatnya itu? yg ditutup mukanya, kan?
September 16th, 2008 at 9:02 am
photonya kereen..kok nggak nglamar casting di tipi mas
September 16th, 2008 at 9:15 am
wew… meamng begitulah pengetahuan yg dikasih ke kita nggak seberapa ….
bnyak yg nggak bisa kita nalar dgn akal sendiri
September 16th, 2008 at 9:18 am
saya juga dulu banyak pertanyaan konyol kayak gitu!
wkekeekek!
buset fotonya sangat amat menipu!
September 16th, 2008 at 9:33 am
memang begitulah adanya otak kita yang terbatas mikirnya, seterbatas pandangan kita di tengah alam raya yang begitu luas ini..
September 16th, 2008 at 11:39 am
Nabi dari sini namanya Nabirong, nafsu birahi merongrong..:)
September 16th, 2008 at 11:49 am
Maha Benar Alloh, dengan segala Firman-Nya……
September 17th, 2008 at 12:31 am
eh lagi lagi perjalanan spritual yang menakjubkan tentunya.
Pada paragraf awal tulisan saya sendiri juga kadang mempersoalkan nabi dengan kenapa….? lantas ini dan itu tapi kan kadng kita menghakiminya sendiri dan mengkambing hitamkan nya
permusuhan antara logika matematika dengan logika keagamaan nggak pernah klop ya mas
tapi iya deh pada paragraf terakhir tulisan anda menunjukkan kebenaran yang selama ini saya permasalahkan
Islam memang sepertinya mudah tapi Iman itulah yang susah
nggih Mbah
September 17th, 2008 at 3:04 am
he..he..:lol: tapi jadi bodoh dan naif kadang mengasyikkan. Karena merasa penasaran “kenapa-dan-kenapa” membuat kita terus menerus mencari kebenaran, atau, setidaknya, mencari sesuatu yang dianggap benar
September 17th, 2008 at 6:36 am
fotonya keren euy… kandidat lomba mirip aa
September 17th, 2008 at 7:42 am
karena orang-orang timteng sana lebih rusak ketimbang manusia indonesia
September 17th, 2008 at 8:07 am
kirain saya yg difoto aa gym….
.mirip bgt
September 17th, 2008 at 9:41 am
Hehehe… kirain yang di foto ituh…. Capee deh..
September 17th, 2008 at 2:12 pm
sentilan ams ardy bener2 cerdas, sangat kuat kesan gugatannya terhadap melembaganya beragai macam dogma yang begitu kuat mengakar dalam sistem keagamaan.
September 17th, 2008 at 3:36 pm
mantan kyai berdalil, sudah mau kembali kejalan yang benar
September 17th, 2008 at 7:33 pm
Pertanyaan-pertanyaan mbeling sampeyan itu dulu juga pernah menghinggapi saya…knapa gak ada Nabi yang di utus dari tanah kelahiran saya di pelosok desa sana…
Btw sampeyan kok pake nyamar jadi pangeran Diponegoro sgala knapa e??? *eh salah ya??
September 18th, 2008 at 6:04 am
kadang kembelingan Njenengan memaksa pemilik otak terbatas seperti saya ini harus banyak2 minum aspirin….
September 18th, 2008 at 6:06 am
Lho Kang. Baju dinasnya ko masih dipakai? hehehe
September 18th, 2008 at 11:49 am
hai aak gim…
September 18th, 2008 at 1:03 pm
lah saya ditawari jadi wali malah saya tolak mentah-mentah
September 19th, 2008 at 12:21 pm
Jaman turunnya Al-Qur’an dulu blm ada mungkin Bangsa Indonesia
he3x, tulisan yg bagus bro
tp bikin penasaran :d he3x
September 19th, 2008 at 7:21 pm
Entah kenapa, setelah membaca posting ini, saya jadi ingat surat Muhammad ayat 7
September 19th, 2008 at 9:22 pm
Tobat Tobat Tobat…..
September 20th, 2008 at 2:08 am
Saya geli baca paragraf akhir…yang pusing kepala kok yang disuntik pantat….hehehe
September 20th, 2008 at 5:59 am
gambarnya bener2 mirip Aa’…*lost focus*
September 20th, 2008 at 3:14 pm
“…akan datang suatu generasi dimasa yang akan datang yang sangat hebat dalam ketaqwaannya kepada Allah dan rasulnya, sedang mereka tidak pernah bertemu langsung denganku…”
makanya nggak perlu ada tuh yang namanya nabi bambang,
yang ada, hanya mas bambang..
hehehehe
September 20th, 2008 at 8:31 pm
Hua ha ha.. ini tulisan keren kang Mantan!.. Kyai buangets…
Banyak hal saya juga tidak mudheng, tapi saya mencoba pasrah saja pada Gusti Allah…
*kenapa dulu Adam tidak diturunkan di Jawa saja ya???
September 20th, 2008 at 8:50 pm
Postingan Sampeyan selalu menarik untuk disimak. Salam.
September 21st, 2008 at 3:36 am
hahaha…lucu dan menarik banget..dasar kyai gemblung..
ngatini juga krisis kepercayaan nih, sayangnya si om udah jadi mantan kyai..jadi gak jadi tanya2 ah..
September 21st, 2008 at 4:40 pm
wah wis kasep…..
maca thok wae lah….
September 22nd, 2008 at 4:37 am
asyik tuh analogi yang terakhir..
September 24th, 2008 at 2:15 am
akal didewakan ketika tidak menemukan jawaban, lalu stress dan putus asa. otak masih dapat dikalahkan oleh hawa nafsu. akibatnya otaknya dan akalnya digunakan untuk melanggar hukum untuk menuruti nafsunya. apa ada nabi palsu yang bego, idiot, IQnya dibawah jongkok?
October 8th, 2008 at 2:40 am
jarene soale wong arab waktu iku pualing mokong cak… makane nabi diturunkan nang kono…
nek wong jowo???
di beri wali tok ae wis dadi islam kabeh penduduke…
hehehe
sing PENTING… ISLAM tidak sama dengan dengan ARAB!!!
hidup SARUNG!!! hidup Songkok!!!
Islam yang INDONESIA…
October 14th, 2008 at 4:09 am
‘kenakalan’ akal lewat permainan logika empirik akan sampai pada batas dan menghantarkan kita pada pintu logika spiritual yang punya aturan tersendiri.
sampai pada titik ini, hatilah yang akan mencerap kebenaran untuk kemudian diterjemahkan oleh akal, sesuai dengan set pemahaman yang telah dimiliki.
proses ini terus berlangsung dinamis dan tidak mengenal kata akhir.
salam,
Akmal
October 15th, 2008 at 4:20 am
[...] dari sini [...]
October 15th, 2008 at 6:06 am
Kalau gitu coba tanyaken sama pak mantri gemblung yang kemaren merawatku, kenapa waktu aku datang sambatan sakit kepala kok yang disuntik pantatku, hah?”
hahahaha parah…
thx dagh seger dagh otak gw
January 22nd, 2010 at 1:40 pm
para nabi itu diturunkan di arab karena memang disana dibutuhkan nabi mas, biar orangnya sadar dan bisa masuk surga, bahkan mungkin banyak dan berkali-kali ada nabi disana, tapi hasilnya juga sama saja. Bahkan keluarga nabi ae banyak yang dihabisi oleh tetangganya sendiri itu.
Bayangkan apalagi sekarang nggak ada nabi lagi, lha yang bisa boso arab yo orang sana je, nek disini kan paling ming manut-manut ae, dan nggak pernah urusan tuhan iku siapa, tuhan yo gusti allah, gusti allah ki sopo yo pengeran, titik.
padahal nang ayat kitab iku yo ancen begitu kan, bahwa siapa membicarakan tuhan yo akhire ra ketemu wong diluar batas penalaran. malah bisa-bisa kafir.
dari situ aja kan gampang, trus kalo urusan fikih yo serahkan ae sama yang paham, kalo nggak paham jelas penjelasannya akan mbulet mubeng-mubeng ra ketemu buntute.. jiahahaha