Seorang lelaki bertubuh papan mengabarkan sesuatu tentang Jakarta. Dia bukan siapa-siapa, hanya sekian dari begitu banyak orang yang pernah berani bermimpi bisa memetik sebiji cahaya -ya, sebiji saja- diantara kerumunan bintang yang berserakan di ladang sejuta harapan itu. Sayang, dikemudian hari lelaki itu sadar, bahwa tak semua yang berpijar di udara yang disangkanya bintang itu adalah bintang, terkadang tak lebih hanyalah cahaya artifisial yang menyesatkan.
Lelaki -yang bukan siapa-siapa- itu kemudian bercerita awal mula menjejakkan kaki di tanah Jakarta yang panas. Dengan beberapa kali tarikan nafas panjang dia mengisahkan tentang kehidupan yang melarat di kampung halamannya, tentang seorang tetangga yang mengajaknya merantau ke Jakarta saat usianya masih belasan, tentang sang tetangga yang kemudian meninggal dan meninggalkannya dalam kepanikan menghadapi rimba kota seorang diri, tentang todongan senjata ketika dia menagih uang atas jasanya kepada seorang majikan, tentang poporan senapan aparat akibat saat hiruk pikuk peristiwa Malari dia berkeliaran menjajakan dagangannya, tentang bangku kayu yang dihantamkan ke mukanya sehingga patah tulang hidungnya, tentang mimpi-mimpi yang urung dicapainya, dan akhirnya tentang perjalanan pulang ke kampung halamannya, sebagai orang kalah.
Tentu ini hanya satu cerita, bukan kesimpulan. Tiap orang boleh memiliki akhir kisah yang berbeda, ada yang gagal, ada yang yang tidak terlalu gagal, ada pula yang (jika ukurannya materi) justru sukses bukan kepalang. Tetapi satu hal, “Apapun hasil perjuangan dan pengorbanan itu nantinya, kamu tidak boleh berfikir untuk berhenti bertarung”, demikian lelaki berkulit kayu itu pernah membisiki saya suatu hari.
“Dan sudah menjadi kehendak alam, keburukan datang selalu bersama kebaikannya, penyakit turun selalu bersama obatnya, masalah muncul selalu bersama solusinya”, demikian lelaki berurat gelondongan itu kini melanjutkan kata-katanya. “Bukan karena Jakarta kemudian masalahmu menjadi lebih besar (atau lebih kecil), tetapi setiap apa yang datang padamu sesungguhnya adalah pilihan yang disodorkan langsung oleh tangan Tuhan. Kamu boleh memilih untuk tak mendatangi Jakarta, si liang masalah, tetapi ingat, disaat yang sama kamu akan kehilangan kesempatan untuk meng-eksplorasi liang peluang yang -barangkali- tersembunyi disana. Yang sekarang kamu butuhkan hanyalah ketetapan hati dan kebulatan tekad. Atau, yah, tidak terlalu bulat juga tak mengapa, yang penting tekad”.
Saya tak membantah satupun yang disampaikan lelaki beraroma serbuk kayu itu. Tidak seperti dia yang dulu datang tanpa kenal seorangpun di belantara ibukota, Jakarta -betapapun misteriusnya- bukan tempat yang sepenuhnya asing bagi saya. Orang-orang dari masa silam (dan barangkali juga masa depan) saya banyak yang berserakan dan -sepertinya- telah berhasil menaklukkan -atau setidaknya menjinakkan- kerasnya kehidupan kota yang penuh persaingan itu. Ah, mereka biasa-biasa saja menjalani hidupnya disana, atau barangkali kisah lelaki kayu itu yang membuat saya menjadi phobia, kemudian hiperbolis? Entahlah, toh saya juga belum tahu kapan mesti berangkat ke Jakarta …
***
Nantikan lanjutan kisahnya
February 26th, 2009 at 1:47 am
pertamax sik
February 26th, 2009 at 1:52 am
waduh jangan pernah bermimpi jakarta menajajikan gemerlapan cahaya …
serta segarnya air
yang ada hanya kumuh hiruk pikuk bercampur debu dan asap polusi
wahai lelaki bertubuh dedaunan pulanglah ke kandang tengoklah kambingmu dan gembalakan.
busur panah akan menarikmu mundur sesaat kemudian melesat secepat kilat
ke jakartalah sekedar mengambil tagihan hahahahaha
February 26th, 2009 at 2:13 am
stereo dong tuhan kalo memberi masalah dan solusinya =D
February 26th, 2009 at 3:33 am
ada yang bilang, jakarta itu kota yang kejam. duh, sebenarnya yang kejam itu kotanya atau penghuninya sih, mas ardy?
February 26th, 2009 at 4:48 am
Sebenernya semuanya itu adalah kabeh!
Eh salah, maksudku, sebenarnya ketika kita sepakat melangkah ke Jakarta, ada banyak yang harus kita pertimbangkan untuk kita lepaskan yaitu kerugian waktu, kemanusiawian kita yang terkikis serta stress yang meningkat, sementara yang kita dapat, ah apalagi kalau bukan uang, uang dan uang…
February 26th, 2009 at 5:43 am
SEBUAH CERITA YANG SANGAT KREATIF. LELAKI BERAROMA SERBUK KAYU, BISA JADI KARENA DIA BERKECIMPUNG DENGAN KAYU, BISA JADI KERANA MEMAKAI WEWANGIAN BERAROMA KAYU YANG KINI MENJADI TREND BAGI LELAKI :d
February 26th, 2009 at 6:41 am
selamat datang jakarta, siyap-siyap terjadi perubahan besar-besaran pada anda!….
February 26th, 2009 at 8:10 am
Ke Jakarta aku kan kembali..ii.. Walau apapun yang kan terjadi..
Riuh pikuk, desah nafas yang buruk dari bagian Jakarta masih memiki pikat daya tarik bagi smua insan..
February 26th, 2009 at 9:09 am
sep…fotone…
February 26th, 2009 at 11:00 am
jakarta oh jakarta … wis ojo budhal mendingan nang gunung kelir ae ternak kambing etawa toh wis ampir mirip (lmao) *lirik genthokelir*
February 26th, 2009 at 11:03 am
Apapun hasil perjuangan dan pengorbanan itu nantinya, kamu tidak boleh berfikir untuk berhenti bertarung <== daku setuju dengan ini om.betul banget
February 26th, 2009 at 11:06 am
Jakarta,…
gak banyangin mo hidup dan tinggal disono
February 26th, 2009 at 11:14 am
Apapun yang ada didunia ini memang diciptakan secara berpasangan, ada siang ada malam, ada sakit ada sehat, ada besar ada kecil.
February 26th, 2009 at 5:52 pm
Fotonya keren kalee bos…
ajarin dunk… hehe..
)
February 26th, 2009 at 6:21 pm
nek sido, mampir nang bonjer
alias kebon jeruk boss..
February 26th, 2009 at 8:11 pm
Setiap kali saya datang ke Jakarta, selalu terpampang di depan mata saya kemacetan yang betul-betul nyaris merontokkan kesabaran. Entah aku termasuk orang kalah atau tidak di mata Mas Ardy. Setelah dua tahun mengais rezeki di Jakarta sebagai buruk pabrik, akhirnya saya pulang kampung tanpa membawa apa-apa kecuali pengalaman yang amat berharga. Sungguh, Jakarta tidak ramah!
February 27th, 2009 at 2:48 am
Yang jelas, ibu kota pasti lebih kejam daripada ibu tiri ataupun ibu jari, walau mereka sesama ibu-ibu. Hehehe…salam kenal mas!
February 27th, 2009 at 1:47 pm
Weh, sepertinya ada yang mau berangkat ke Jakarta dalam rangka mencari segenggam berlian nih.
Semoga sukses Mas, bulatkan tekat, kalaupun tidak bulat yang penting kenceng…
February 27th, 2009 at 3:35 pm
Waaah,……bagus ceritannya,, pun blognyaaa….
ditunggu cerita sambungannya..
salam knal ^^
February 27th, 2009 at 3:52 pm
mas ar…maen dwong ke blogku!!
kucing lagi pengen banyak kosultasi neeh ma mantan kyai!!
February 28th, 2009 at 12:54 am
Rasakno Jakarta!… aku wegah..
February 28th, 2009 at 12:54 pm
siap-siap teralienasi….
mempersiapkan diri membentuk barisan anti-jakarta. hahahahahha
February 28th, 2009 at 11:12 pm
Ke jakarta ku kan kembali
March 1st, 2009 at 2:16 am
Setiap orang pasti pernah bermimpi. Yang membedakan satu sama lain adalah sebagian lebih suka dalam situasi mimpi mode on sementara sisanya lebih suka mewujudkan mimpinya menjadi nyata.
Seindah indahnya sebuah mimpi, ia takkan pernah bisa disentuh dan seburuk buruknya sebuah kenyataan, ia bisa dirasakan, dinikmati sebagai sebuah sensasi.
Mimpi indah tentang sebuah cahaya, tentang gemerlap Jakarta adalah sebuah hal yang alamiah.
Bila sukses mewujudkannya adalah sebuah anugrah tapi seandainya gagal menjadi petarung yang baik, mungkin bisa dibisikkan sebuah pesan lama………..beda orang miskin dan orang kaya adalah 500 tahun.
March 1st, 2009 at 6:14 am
Jakarta pancen jancuk!
March 1st, 2009 at 7:58 pm
humm.. aku aja kemaren diajak pindah ke jakarta wegah.. hidup disana lebih “WAH” daripada di surabaya.. hihihihihi
March 1st, 2009 at 8:21 pm
betapa besarnya jakarta sampai di posting khusus.
padahal jakarta biasa saja…
wes ndang budhalll ;D
March 4th, 2009 at 8:42 pm
Mari ngene aku balik maneh ning jakarta (dohhh)
March 27th, 2009 at 3:32 pm
kayaknya q telat mulu deh kalo ngomen.