7 March 2009 • Keindonesiaan, Penerawangan, Renungan • ardyansah

blog mantan kiai, blog hitam, blog mantan santri, blog santri, blog demokrasi, blog indonesia, blog pemikiran, blog perenungan, blog imajinasi, blog mantan kyai, blog kyai, blog islam, blog islam-indonesia, blog menulis, blog non-doktrin, blog desain grafis, blog keragaman, blog indonesia, blog jawa timur, blog tuban, blog surabaya, blog kejawen, blog merdeka, blog sampah, blog kyai tuban, blog kyai surabaya, blog ronggolawe, blog kyai indonesia, blog kiaiSeorang sahabat mengabarkan kepada saya bahwa dirinya baru saja didapuk sebagai ketua RT di lingkungan tempat tinggalnya. Hasil voting menyatakan sahabat saya ini mendapat dukungan sekitar 45% dari segenap warga yang hadir dan menggunakan hak pilihnya, atau yang tertinggi mengungguli 3 kandidat lainnya. Dari raut mukanya saya belum berani menerka, ini sebenarnya kabar baik atau kabar buruk buat dirinya :D

Ketua RT sama sekali bukan jabatan yang elit secara struktural birokratis, bukan pula jabatan komersil yang menguntungkan jika dilihat dari sudut pandang ekonomi, tetapi toh -secara administratif- kehadirannya wajib ada di tengah lingkungan masyarakat. Dan sepertinya sahabat saya ini sedang “dikorbankan” untuk memikul “pekerjaan” yang tanpa tunjangan dan komisi ini. Tetapi dari senyumnya kemudian saya tahu dia ikhlas menjalani peran barunya.

Untuk menjadi ketua RT tidak menuntut syarat yang ketat, kandidat tidak mesti berpengalaman, tidak harus pengusaha yang pragmatis, tak wajib memiliki karier militer moncer, tak peduli anak bekas RT atau bekas preman, tak penting juga kyai atau mantan kyai. Memilih ketua RT tak serumit memilih presiden :D Yang penting mau dan mampu.

Entah kenapa tiba-tiba terlintas pertanyaan di benak saya, benarkah menjadi ketua RT kalah mulia jika dibandingkan dengan -katakanlah- seorang presiden? Benarkah peluang untuk menjadi terhormat itu hanya bisa ditemukan ketika memenangkan pemilu?. Dari ketua RT sahabat saya ini saya mendapatkan isyarat, bahwa kemuliaan dan kehormatan tidak melulu dibangun dengan hamparan vinil bertuliskan pesan palsu di pinggir-pinggir jalan, podium-podium sandiwara, orasi yang meluap-luap, atau biaya kampanye yang kalap. Tetapi selalu diawali oleh keikhlasan.

{ 28 Comments } to Ilmu Ikhlas Pak RT

  1. gajah_pesing

    Ikhlas mengabdi dan ikhlas menjalani..
    *susah*

  2. mbah sangkil

    memberi untuk merugi, melayani dan bukan untuk dilayani.

    *ikut prinsip semar*

  3. ajengkol

    Ilmu Ikhlas koyo tukang parkir . . Ilmu Ikhlas menerima ketetapan Allah

  4. Novianto

    Suatu kata yang mudah diucap tapi sulit dilakukan, Ikhlas….

  5. Epat

    tumben nggenah dalan pikirane?
    wekeke

  6. sawali tuhusetya

    ketua RT itu jabatan sosial, mas ardy. banyak orang yang berupaya menghindarinya, sehingga voting menjadi jalan terakhir utk memaksa seseorang agar tidak menolaknya. beda dg caleg atau jabatan karier lainnya. mereka rela menggunakan uang pelicin utk memuluskan jalan meraih impiannya, hehe ….

  7. Ikhsan

    Tidak semua RT punya sifat ikhlas apalagi RT di kota,boro2 ikhlas wong mau bikin ktp aja harus mbayar padahal sm tetangganya sendiri

  8. mantan kyai

    @ikhsan: koreksi yang fair. memang tidak semua ikhlas. yang kurang ajar juga banyak. dan saya juga sudah mengalamai berurusan dengan rt brengsek. tapi untuk tulisan ini, that’s not the point

  9. -GoenRock-

    Sampeyan milih dadi pak RT opo presiden?

  10. marsudiyanto

    Yang komentar di sini ada yg Ketua RT?.
    Kalau saya paling pol jadi Sekretarisnya…

  11. mantan kyai

    @-GoenRock- : saya milih jadi drummer aja :D

  12. mantan kyai

    @marsudiyanto: jangan2 sampean kurang ikhlas pak mar. makanya gak bisa naik jadi RT .. hehehe

  13. zenteguh

    selamat bertugas Pak RT
    Ingat, ngurus KTP gratis lo ya..:D

  14. Andy MSE

    Misakne kancane pean… Ketua RT itu tidak hanya ujung tombak, juga ujung tombok…

  15. aRai

    RT brengsek? weleh … pengen di pecat dadi warga arek iki yo (angry)

  16. elly.s

    kami punya RT yang baiiik banget …
    ya ikhlas…walo beliao sendiri sibuk…
    honor? malah2 uangnya kepake mulu utk ini itu…
    doaku moga Allah murahkan rezekinya…

  17. suryaden

    semoga menjadi ketua RT yang baik, bukan untuk memata-matai warganya saja…

  18. kyai slamet

    aku pengen jadi ketua RT di nDOLLY…

  19. DV

    Lagi nggenah, postingnya serius kali ini..
    Apik, apik!

  20. kacrut

    yang penting mah ikhlas.. mau jadi apa aja asal ikhlas ya mulia..

    -sayang aku masih blom ikhlas kerja di kantor- [masa oloh]

  21. Fenty

    Jadi inget bapak saya … hehehehe …

  22. s4ndy

    mantab nui… gambarnya lucu juga..

  23. genthokelir

    lha saya RT

  24. goenoeng

    ketua RT, dipilih untuk dijadikan bahan paidho.
    hidup Pak RT !

  25. k.u.c.l.u.k

    sing penting gelem di tunjuk, ngono ae wes dadi RT

  26. cebong ipiet

    potomu ngganteng kang..pantes dadi Pak RT

  27. fithraw

    bedane RT sama Presiden ya bayarane kang… :D
    Tapi RT ndak banyak omong daripada capres2 yang banyak omong di panggung2 sandiwara, seperti yg sampeyan bilang… :D

  28. tukang Nggunem

    menjadi seorang yang terhormat dan mulia itu tidak akan bisa dicari, namun akan datang dengan sendirinya seiring dengan tindak tanduk dan tingkah laku kita…

Leave a Reply


1 June 2010 • Pekerjaan • ardyansah

Ketika mendengar “canting”, orang pasti terpikir perangkat mungil berbentuk cawan dengan pegangan dan ujung “pena” yang biasa digunakan oleh seniman batik untuk menggores dan memberi sentuhan akhir untuk karya-karyanya. Canting adalah simbol kesadaran untuk berkarya. Kecil, bersahaja, tetapi sangat besar peranannya. Barangkali filosofi inilah yang mendasari Derry Sunarso, sutradara rendah hati yang karyanya banyak terinspirasi kemegahan [...][...]

26 January 2010 • Ketertarikan, Pekerjaan, Penuturan • ardyansah

Menulis, -menurut saya- dalam banyak hal tak jauh berbeda dari mendesain. Sama-sama merancang, sama-sama mengandalkan ide sebagai ruh, sama-sama bekerja dengan imajinasi (dan atau fantasi), sama-sama membutuhkan kreativitas untuk mengemasnya menjadi sebuah entitas karya,  juga yang pasti sama-sama tak mudah mengerjakannya. Estetika dalam desain bisa dinilai dari bentuk, komposisi, warna, dan elemen-elemen visual lainnya. [...][...]