9 April 2009 • Keganjilan, Keindonesiaan, Pelampiasan, Penerawangan, Renungan • ardyansah

Kecuali kecenderungan mudah terhasut, mudah terprovokasi, mudah curiga, dan mudah diadu domba, sesungguhnya bangsa itu memiliki potensi keunggulan sumber daya manusia (dan kemanusiaan) yang luar biasa.

Bangsa itu telah banyak melahirkan manusia pilihan, tak terhitung jumlahnya. Jika hari ini seolah manusia-manusia pilihan itu tak pernah mereka miliki, barangkali karena kecenderungan bangsa itu memiliki pemimpin yang kurang mampu (dan mau) mengelola dan memberdayakan potensi hebat tersebut demi kesejahteraan khalayak dan lebih memilih menekan, menggusur, atau menyingkirkan manusia-manusia pilihan itu demi kepentingan-kepentingan politik (baca: kekuasaan) sesaat. Manusia pilihan tinggal menjadi mitos, pelengkap kisah sebelum tidur panjang anak-cucu mereka.

Tetapi hari ini bangsa itu akan menyelenggarakan sebuah pesta, konon adalah pesta demokrasi. Seluruh warga diundang untuk datang ke TPS-TPS untuk kemudian mulai belajar mencontreng manusia pilihannya di bilik-bilik suara, setelah sekian lama menggunakan paku atau rautan bambu untuk menyalurkan hak politiknya. Tak semua tahu apa yang dipilih, dan tak harus tahu, yang penting gembira. Sebab bukankah pesta hanya untuk yang gembira? Atau setidaknya tampak gembira.

Hari ini semua wajib gembira. Urusan biaya kebutuhan sehari-hari yang melambung, biaya sekolah anak yang mencekik, biaya pengobatan yang membunuh pelan-pelan, atau biaya administrasi ini-itu yang menampar terang-terangan, biarlah menjadi urusan besok dan lusa. Toh, bangsa itu sudah sangat terbiasa dengan berbagai biaya? Semboyan kuno bisa menjadi dalih: semua keberhasilan ada biayanya, Jer Basuki Mawa Bea?

Apapun komentar dan hasil dari pesta hari ini, diam-diam semua mulai berharap, manusia pilihan itu benar-benar ada. Cukup lama pemimpin bangsa itu tidak dilahirkan dari kearifan dan keluhuran, pemimpin lebih sering muncul karena kekuasaan, entah jabatan, silsilah, uang, atau apapun jenisnya. Terbukti kini semakin membaurnya arti kata memimpin dan menguasai.

Bangsa itu yang selalu kubanggakan sebagai bangsaku, sudah semestinya menjadi rumah bagi para ksatria, pejuang, pahlawan, patriot, atau manusia saja. Bukan rumah para pencoleng.

***

Everything’s gonna be alright boys
Help is on the way
Hold your head up high now
There’s no need to cry now
We’re not running anymore

Leave the politics behind boys
They’re not working anymore
There’s so much more at stake here
It’s make or break here
Haven’t we been here before
Tell me what we’re waiting for

You gotta remember
You don’t have to be afraid
You still have the freedom to learn
And say what you wanna say
You gotta remember
Don’t let ‘em take away
The land we call the home of the brave

Who sings the song of the people
You don’t hear it anymore
I heard it late last summer
To the beat of a different drummer
It never sounded quite like this before

So you’re trying to shake this feeling
That trouble’s right outside the door
You lie awake each dark night
Like a time bomb wound up too tight
A storm in waiting just offshore
Tell me what we’re waiting for

You gotta remember
You don’t have to be afraid
You still have the freedom to learn
And say what you wanna say
You gotta remember
Don’t let ‘em take away
The land we call the home of the brave

Home of the Brave – Toto

{ 30 Comments } to “Home of the Brave” dan Manusia Pilihan

  1. Novianto

    PERTAMAX !!!

    WAH AKU JADI MANUSIA PILIAHAN IKI

    TERPILIH MENJADI SALAH SATU YANG GEMUK, JARANG ADA ORANG SEGEMUK SAYA KAN… HAHAHAHA

  2. mantan kyai

    @novianto: yoh. kamu memang manusia pilihan untuk menggagalkan program swasembada beras pemerintah. berapa ton beras yang dibutuhkan untuk mencukupi kebutuhan perutmu seng sak lapangan iku he?? (lmao)

  3. lee

    siapa yang memilih manusia sehingga menjadi manusia pilihan? :P *beretorika*

  4. tunggul ametung

    haduh. komenk kena moderasi :(

  5. mrpall

    haloooo mas…mantan pa kabar..

  6. zenteguh

    bener2 nasionalis
    marhaen ta kang?? qiqiqi..

  7. ciwir

    bangsa ini memang bukan bangsa pencoleng, tpi bangsa pencontreng

  8. mantan kyai

    @lee: saya ini sedang beretorika kok di balas retorika :D
    @tunggul ametung: makanya imelnya jgn diganti gun :D
    @mrpall: kabar baik mister :D
    @zenteguh: sek tak golek ng kamus sek. artine marhaen :D
    @ciwir: sepakat wes !!!

  9. DV

    Setuju! Negara kita bukan negara pencoleng. Tapi sistem kadang menghendaki bahkan seorang baik pun bisa bermetamorfosa menjadi maling dan rampok, Bung! Merdekaaaa!!!!

  10. mantan kyai

    @DV: yah, apel segar lebih cepat membusuk jika diletakkan dalam keranjang yang berisi apel-apel busuk :D memang sulit mencari apel pilihan :D

  11. LuXsmaN

    Mari Kita Dukung Teruz…..

    LANJUtKAN…….

  12. mantan kyai

    @LuXsmaN: tak keplaki koen kampanye ng blogku … dasar arek wonocolo!!!

  13. Akhmad Guntar

    Senada dengan mas Novianto; intinya marilah berharap kita sendiri -kelak atau sejak sekarang- bersedia membayar harga untuk masuk dalam kategori orang2 pilihan :-P

  14. senoaji

    berharap tidak lagi ada bacokkan mencari merdeka sendiri dan kudeta demokratisasi, ditengkuk bangsa ini dari para kesatria yang merasa paling jago dikandang sendiri

  15. novi

    sayangnya manusia pilihan itu menurut riwayat akan datang dari khurazan.. (nah loh… :)

    sopo sidone perempuan pilihanmu, lek?

  16. Fenty

    Semoga yang terpilih, adalah yang terbaik untuk negri …

  17. aRai

    aku mah seh bangga jadi bangsa indonesia tapi ga pernah bangga ma pemimpin bangsa ini atau calon pemimping yg sekarang …. mungkin bisa jadi satu/dua taun kedepan adalah masa dimana masyarakat lagi emosi2nya …

    BTW kalo ada calon pemimpin yg mau mengorbankan materinya demi rakyat akan saya acungkan jempol … tapi mana ada seh orang yg mau rugi … hehe

  18. suryaden

    tentulah manusia pilihan tuhan, bukan manusia pilihan hasil contrengan, jiyakaka… mengapa demokrasi menjadi hal yang lucu karena mengangkat manusia pilihan dengan tools hasil rekayasa manusia itu sendiri… sehingga hasilnya adalah pilihan dari kompromi kepentingan yang sudah ada… (sad)

  19. denologis

    semua manusia itu pilihan lho….
    manusia yang berhasil keluar melewati liang rahim seorang wanita….
    manusia yang berhasil mengalahkan jutaan bakal manusia lainnya….
    manusia yang berhasil menemui sebuah sel dalam liang rahim seorang wanita….

  20. aziz

    pilihlah aku jadi manusia…. *sambil goyang2*

    saya yang akan memilih diri saya sendiri menjadi manusia pilihan, ‘pilihan diri sendiri’ tentunya…. heheheheh

  21. sawali tuhusetya

    semua caleg menahbiskan dirinya sebagai manusia pilihan, mas ardy, hehe .. jadi repot juga. mesti ikut nyontreng, waktu di blik saya tak inget lagi apa yangsaya lakukan saat itu, keke …

  22. Daniel Mahendra

    Caleg-caleg yang merasa dirinya manusia pilihan itu nyata-nyatanya tidak tau betul siapa yang mereka wakili. Wajahnya penuh dengan bedak dan gincu demokrasi. Tapi itu tak lama. Hanya berlangsung selama masa kampanye saja.

    Lalu, mengapa kita mesti bergembira di dalam pesta para penyamun?

  23. Frenavit Putra

    Semoga manusia pilihan itu bisa mengembang amanat dari orang-orang yang memilihnya…..

  24. gajah_pesing

    aku lelaki tak mungkin…
    menerimamu bila…
    ternyata kau menduwa…
    aku bukan PILIHAN…

  25. tukang Nggunem

    wasyuuuuu…pilihanku wingi ora dadi kayake….

  26. deBraveHendriken

    Semoga Indonesia tetap jadi rumah Cah Sholeh

  27. racheedus

    Ya, mudahan kita tidak memilih para pencoleng! Kalaupun akhirnya para pencoleng yang terpilih, tanggung jawabnya Mantan Kyai. Lho?

  28. kucluk

    hidup XKH!!!

  29. Dony Alfan

    Kalau tak terpilih, tentu sedih jadinya :P

  30. Daniel Mahendra

    Oalah… ternyata sudah di setiap tulisan aku komen. Hihihi.

Leave a Reply


1 June 2010 • Pekerjaan • ardyansah

Ketika mendengar “canting”, orang pasti terpikir perangkat mungil berbentuk cawan dengan pegangan dan ujung “pena” yang biasa digunakan oleh seniman batik untuk menggores dan memberi sentuhan akhir untuk karya-karyanya. Canting adalah simbol kesadaran untuk berkarya. Kecil, bersahaja, tetapi sangat besar peranannya. Barangkali filosofi inilah yang mendasari Derry Sunarso, sutradara rendah hati yang karyanya banyak terinspirasi kemegahan [...][...]

26 January 2010 • Ketertarikan, Pekerjaan, Penuturan • ardyansah

Menulis, -menurut saya- dalam banyak hal tak jauh berbeda dari mendesain. Sama-sama merancang, sama-sama mengandalkan ide sebagai ruh, sama-sama bekerja dengan imajinasi (dan atau fantasi), sama-sama membutuhkan kreativitas untuk mengemasnya menjadi sebuah entitas karya,  juga yang pasti sama-sama tak mudah mengerjakannya. Estetika dalam desain bisa dinilai dari bentuk, komposisi, warna, dan elemen-elemen visual lainnya. [...][...]