24 March 2009 • Keyakinan, Pekerjaan, Pelampiasan, Penuturan, Renungan • ardyansah

Life is about change. Sometimes it’s painful, Sometimes it’s beautiful. But most of the time it’s both

Berapa banyak waktu yang kita miliki untuk apa yang disebut hidup ini? Menikmati apa yang kita ingini, mempertahankan apa yang kita yakini, melewatkan hidup demi sebuah arti, atau apalah? Seratus tahun?

Kita acap menduga bahwa belulang yang kukuh menyangga tubuh ini adalah permanen, kita kerap mengigau mampu menundukkan keriput atau varian gejala penuaan dengan berbagai ramuan anti aging, kita bahkan gemar berkhayal mampu melestarikan kecerdasan otak dengan suplemen-suplemen kimia. Kita sering lupa, waktu tetap akan mengikis habis apa yang kita sangka bisa kita pertahankan itu.

Usia manusia teramat singkat jika dibandingkan tahayul tentang keperkasaan, kecantikan, kemudaan,  kecerdasan, dan kehidupan manusia itu sendiri. Tubuh-tubuh itu akan tumbang, tulang-tulang itu akan ditimbun, sementara inti jiwa manusia akan melayang-layang di udara, begitu katanya.

Tulisan ini tentu bukan saya maksudkan untuk menakut-nakuti mereka yang sudah uzur, sebab terbukti tidak ada korelasinya antara umur seseorang dan kapan kontrak hidupnya di dunia ini selesai, tetapi lebih pada upaya untuk merangsang (bukan mengocok) diri sendiri agar tidak berlarut-larut dalam kelenaan yang ter…la…lu (soneta banget) :D

Seorang kawan menasihati saya bahwa hidup itu harus dinikmati, dalam keadaan apapun, dimanapun, bersama siapapun, jika kita bisa menikmati, maka tak ada yang perlu dirisaukan, satu kemenangan telah diraih. Meskipun harus diakui, menikmati sesuatu yang tidak kita sukai bukanlah perkara mudah, tetapi bukankah hidup memang tidak pernah mudah?

Jika beberapa bulan lalu peristiwa ini sempat saya anggap sebagai bala, belakangan justru saya bisa mengatakan itu hikmah. Memang, kesadaran itu tidak semata-mata muncul dari kemampuan internal saya menikmati keadaan. Selain kenyataan bahwa waktu adalah penyembuh luka yang terbaik, sahabat dan lingkungan eksternal yang luar biasa juga punya kadar pengaruh yang tidak bisa dianggap sepele atas resureksi semangat tempur saya, dan tentu saja yang tidak mungkin saya nafikan: faktor-x yang biasa saya panggil “Tuhan”.

Hidup itu cuma masalah perspektif“, begitu yang saya dengar dari seorang tua, dan entah kenapa diam-diam saya mulai mempercayai ucapan orang tua pemabuk ini. “Kadang kita harus mundur beberapa langkah kebelakang supaya bisa melihat alam pemikiran kita secara lebih luas dan holistik (berfikir ekstensif), tetapi sekali waktu kita juga harus berani menceburkan diri sekaligus menyelami samudera pemikiran kita sendiri untuk mencerap detail dari inti suatu hikmah (berfikir intensif)”, demikian kurang dan lebih yang ingin disampaikan petua (lawan pemuda) pembual itu :D

Pepatah Arab mengatakan: “Al-Waqt ka al-saif. Fa in lam taqtha’hu qath’aka” (Waktu itu seperti pedang, jika kamu tidak bisa memanfaatkannya maka ia yang akan membinasakanmu). Anda tentu boleh tidak sependapat, tetapi untuk saat ini saya percaya, sebab yang saya maklumi pedang itu telah hampir menetak leher saya. Saya cuma beruntung bisa bertahan dalam situasi yang kritis dan dikelilingi sahabat-sahabat yang sigap. Tetapi, ancaman pedang itu tidak pernah surut, dia terus bergerak …

***

100 Years by Five for Fighting

I’m 15 for a moment
Caught in between 10 and 20
And I’m just dreaming
Counting the ways to where you are

I’m 22 for a moment
She feels better than ever
And we’re on fire
Making our way back from Mars

15 there’s still time for you
Time to buy and time to lose
15, there’s never a wish better than this
When you only got 100 years to live

I’m 33 for a moment
Still the man, but you see I’m a they
A kid on the way
A family on my mind

I’m 45 for a moment
The sea is high
And I’m heading into a crisis
Chasing the years of my life

15 there’s still time for you
Time to buy, Time to lose yourself
Within a morning star

15 I’m all right with you
15, there’s never a wish better than this
When you only got 100 years to live

Half time goes by
Suddenly you’re wise
Another blink of an eye
67 is gone
The sun is getting high
We’re moving on…

I’m 99 for a moment
Dying for just another moment
And I’m just dreaming
Counting the ways to where you are

15 there’s still time for you
22 I feel her too
33 you’re on your way
Every day’s a new day…

15 there’s still time for you
Time to buy and time to choose
Hey 15, there’s never a wish better than this
When you only got 100 years to live

{ 24 Comments } to Hikmah Waktu

  1. Daniel Mahendra

    Membaca rawian ini, aku jadi ingat dan setuju pada ungkapan latin: Carpe Diem, yang secara harfiah dapatlah kita artikan ‘hiduplah hari ini’.

    Bukankah tak ada yang abadi? Semua pasti terkikis, sekuat dan sehebat apa pun kita. Maka jalan penyelamatan adalah: ya bersungguh-sungguh pada hari ini.

    Aku jadi setuju: “Hidup itu cuma masalah perspektif“.

    Mantap, Cak janggut!

  2. DETEKSI

    orang tua pamebuk atau siapapun, jangan lihat dari siapa dia, tapi lihatlah dari apa yang diucapkan…

    undzur maa qola, walaa tandzur man qola

  3. ajengkol

    Andai waktu bisa kuputar kembali ? Insya Allah kita menjadi orang yang bersyukur menikmati waktu

  4. Rizal

    Tulisannya bagus sekali..memberikan pemikiran dan pemahaman bagi saya..makasih.

  5. LuxsMan

    Just Do It……..

    (pesan sponsor NIKE)

  6. DV

    Hmmm, sakjane nek sampeyan nulis yang beginian ini terus menerus, penggemarmu nggak hanya cuman si Ngatiyem aja:)

  7. gajah_pesing

    Bersyukur akan menikmati waktu suatu karunia, cuma sayangnya aku termasuk kaum yang lalai..

  8. suryaden

    @ gajah_pesing: lali opo belalai (lmao)

    pepatah jawa juga mengatakan “urip iku wang sinawang”, tergantung persepsi cara pandang juga, mari bertulung tinulung sebagai sesama.

  9. marsudiyanto

    Hikmah = nama perempuan
    Waktu = uang
    Hikmah Waktu = untuk mendapatkan perempuan, perlu waktu dan uang.

  10. aRai

    Masa lalu adalah sejarah … Masa depan adalah misteri .. Masa sekarang adalah anugerah

  11. Daniel Mahendra

    Ngakak mbaca komen Pak Marsudiyanto.
    Ha-ha!

  12. gadis rantau

    nonton pidione dadi lali moco tulisane,wkeee..waktu yang kupunya sangat terbatas.untuk ngeblog 3 jam dalam 24 jam..

  13. ipanks

    wah ini curahan hati yang paling dalam nih kayanya.hmmmm sebenarnya kita cuma punya waktu 24 jam ajah om

  14. galih

    waktu adalah uang sepertinya salah!
    waktu adalah pedang…
    heheheheh

  15. gum

    pepatah latin: “memento mori”. bisa diterjemahkan sebagai “Remember that you are mortal” atau “Remember you will die”.

    pepatah jawa (versi kartolo): “urip iku mung sepisan, sing gelek-o utang” :) )

    jiaan… postingan2 nang blog iki adoh tenan karo postingan2 nang plurk :) )

  16. abang

    Ngeri kalo bicara soal waktu mas …

  17. racheedus

    Wah, ini baru postingan kyai beneran, bukan mantan kyai.
    Nyuwun sewu, al-waqt itu perasaan mudzakkar, deh, bukan muannats. Jadi,taqtha’hu, bukan taqtha’haa. Lho, kok, jadi membahas nahwu? Mohon diluruskan kalau saya yang salah.

  18. mantan kyai

    @racheedus: terimakasih koreksinya mas !!!

  19. Novianto

    Tidak ada kisah kalo ALLAH itu tidak sayang pada hambaNYA, hanya kitalah yang tidak yakin dan percaya itu, walaupun kita tau ilmu tentang itu semua

  20. Ria

    kemarin adalah masa lalu
    hari ini adalah anugerah
    dan hari besok adalah keajaiban

    semuanya bermain2 di waktu kan mas?
    cuman Allah yg tau seperti apa waktu :)

    *lagu ini aku suka bgt loh…kadang kalo lagi kesel sudha menghabiskan waktu lama di duri dikellingin hutan dan kota kecil aku suka dengerin lagu ini dan lagu “home” nya michael buble :D *

  21. azaxs

    wah.. setuju kang… dan waktu terus berlalu….

    100 Years by Five for Fighting… my favorite song… :)

  22. Dony Alfan

    Baca posting ini, aku langsung ingat film The Curious Case of Benjamin Button. Lahir tua, mati muda, tapi jiwa yang ada di dalamnya tetaplah berjalan sesuai kehendak alam :D

  23. kezedot

    selamat malam sahabat
    aku suka dan senang banget dapatkan postingan seperti ini. keren dan nice
    salam hangat dalam dua musimnya blue

  24. hadits-hadist

    Mantap artikelnya dan lebih mantap lagi video youtubenya…dari smallvile (Superboy) khan…

    Hehehe..jadi rindu mau nonton smallvile

Leave a Reply


1 June 2010 • Pekerjaan • ardyansah

Ketika mendengar “canting”, orang pasti terpikir perangkat mungil berbentuk cawan dengan pegangan dan ujung “pena” yang biasa digunakan oleh seniman batik untuk menggores dan memberi sentuhan akhir untuk karya-karyanya. Canting adalah simbol kesadaran untuk berkarya. Kecil, bersahaja, tetapi sangat besar peranannya. Barangkali filosofi inilah yang mendasari Derry Sunarso, sutradara rendah hati yang karyanya banyak terinspirasi kemegahan [...][...]

26 January 2010 • Ketertarikan, Pekerjaan, Penuturan • ardyansah

Menulis, -menurut saya- dalam banyak hal tak jauh berbeda dari mendesain. Sama-sama merancang, sama-sama mengandalkan ide sebagai ruh, sama-sama bekerja dengan imajinasi (dan atau fantasi), sama-sama membutuhkan kreativitas untuk mengemasnya menjadi sebuah entitas karya,  juga yang pasti sama-sama tak mudah mengerjakannya. Estetika dalam desain bisa dinilai dari bentuk, komposisi, warna, dan elemen-elemen visual lainnya. [...][...]