11 June 2009 • Keindonesiaan, Keyakinan, Penerawangan, Penuturan • ardyansah

Seumpama Tuhan gemes kemudian mengutus malaikat untuk menjadi presiden di republik ini, belum tentu semua penyakit yang sudah kadung kronis menggerogoti tanah puing kemakmuran sejarah ini menjadi sembuh dan sehat kembali. Bahkan ilmuwan, kyai, dan jenderal -atau jika mereka bersekutu sekaligus- tak pernah benar-benar berhasil membangun kembali negara seperti sebelum dihajar krisis dan berbagai bencana.

Tetapi demokrasi tidak pernah melibatkan Tuhan, malaikat, nurani, dan hal-hal abstrak lainnya. Meskipun harus diakui, sebagai teori, demokrasi -yang konon dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat- itu juga tak pernah sepi dari ke-abstrakan. Terutama untuk urusan pelaksanaan yang jauh panggang dari api.

Juga tentang presiden. Siapa yang butuh pemimpin sempurna? Terserah dia mau jenderal, pengusaha, ekonom, atau ibu rumahtangga, asal dia manusia silahkan saja. Dengan menjadi manusia, seorang pemimpin tak perlu merendahkan lawan politiknya untuk merasa lebih tinggi. Dengan menjadi manusia, seorang (calon) presiden tak harus menyortir isu yang berpotensi menjadi komoditas pencitraan. Dengan menjadi manusia, seorang kandidat akan sangat konsisten memegang janji dan sumpah yang diboroskan menjelang pemilihan. Meskipun dengan menjadi manusia berarti seorang pemimpin juga bisa (baca: boleh) lupa dan -berhak- melakukan kesalahan. Adalah tugas dan kewajiban rakyat untuk menerima apa saja konsekuensi -baik dan buruk- untuk setiap pilihan.

Berdemokrasi bukan tanpa resiko -dan ongkos. Berdemokrasi -jika yang dimaksud adalah tentang pemilihan-pemilihan pelaku politik di berbagai level- tak ubahnya adalah perjudian. Ada ongkos yang harus dipertaruhkan, ada kekalahan yang menistakan, ada kemenangan yang tak selalu memuliakan. Sialnya, perjudian semacam ini terasa lebih adil daripada merelakan kekuasaan yang diwariskan. Meskipun demokrasi tak benar-benar menutup pintu untuk sebuah dinasti kekuasaan.

Pemilihan presiden semakin dekat. Para kontestan semakin jantungan, tim suksesnya semakin agresif, rakyat toh semakin acuh. Pertarungan neolib dan ekonomi kerakyatan segera akan teronggok di gudang sejarah. Klaim siapa yang lebih cepat dari siapa -entah apanya- akan segera menguap dalam dokumen-dokumen mati. Tentang isu-isu pelanggaran HAM yang tak tersentuh, -sepertinya- akan tetap tak tersentuh. Semua isu, klaim, komentar,  fitnah, dan segala hiruk pikuk akan dilupakan setelah dinyatakan sepasang pemenang. Dan kehidupan akan kembali berjalan seperti sebelumnya, seperti biasa, seperti pemilihan ini tak pernah terjadi. Sebab untuk mau mentas dari keterpurukan ini bukan cuma urusan pemimpin. Kita juga.

{ 21 Comments } to Demokrasi dan Pemilihan Presiden

  1. ajengkol

    Makanya jangan cari presiden tapi cari Khalifah … eh mana yah Khalifah Slamet ?

  2. pak dhe

    aduh presiden yah…milih presiden apa milih orang nih..pilah antara faktor like n dislike..

  3. Yari NK

    Buat saya sih… pilpres ataupun pemilu sebagai ajang untuk mentertawakan para politisi ketika mereka mati2an membela capres atau partainya walaupun jelas2 pandangan mereka tidak pernah konsisten dari waktu ke waktu.

    Btw… gambar di atas itu presiden dari republik kambing yang berjenggot?

    **kabur terheran2** :D

  4. DV

    Sepakat, tidak akan ada yang berubah …

    Anggap saja Pilpres adalah tontontan menarik setelah Piala dunia yang empat tahun sekali dan Piala Eropa yang dua tahun sekali :)

  5. mantan kyai

    @ajengkol: khalifah? hmmm… gimna kalau khalijaga saja??? :D
    @pak dhe: yah, sementara like dan dislike boleh juga… :D
    @yari: kalo gitu mari tertawa pak yari :) )
    @DV: sayangnya pilpres tidak pernah semenarik piala dunia… :D

  6. suryaden

    begitulah, sebaik-baiknya dan seburuk-buruknya berdemokrasi adalah sama saja dengan menuhankan ketidakpastian kasarnya, minimal kata halusnya adalah menjunjung tinggi ketidakpastian….

  7. ciwir

    dari rakyat oleh pengwasa untuk kroni2…
    itulah demokrasi sejati…

  8. aRai

    calon presidennya ga ada yg menarik … xixixi

  9. endar

    demokrasi memang mahal harganya.. tapi apakah benar-benar bermanfaat bagi rakyat? tanyakan saja pada rumput yang bergoyang

  10. Daniel Mahendra

    Bukankah kau pun tau: bahwa terkadang malaikat pun tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan…

    Jadi, memang bukan sekadar siapa pemimpinnya.

  11. marsudiyanto

    Balik wae dadi kerajaan…
    Dijamin rak perlu pemilihan umum sing ngentekke ragat trilyunan…

  12. gajah_pesing

    Untung saia bukan manusia jadi gak perlu ikod kan?

  13. zenteguh

    wah luar biasa tenan iki..mesti awakmu lulusan desain propaganda yo..kwkawa..

  14. arifudin

    bersiaplah para capres, untuk menjadi manusia setengah dewa dinegeri ini ;)

  15. crow poc

    kabeh siluman wis nyontreng..

    aku tok sing durung

  16. adipati kademangan

    saya siyap contreng jenggotnya. PILIH DOSA AKBAR, jangan yang lain.

  17. sawali tuhusetya

    semoga saja rakyat ndak salah pilih, mas ardy. yang pasti, aku sudah punya pilihan yang mantab utk saya centang saat 8 juli, wakaka ….

  18. Selamat Ulang Tahun untuk Pak Sawali | KECaKOT

    [...] para Siluman dari Jawi Wetan yang berbondong-bondong ngeluruk Tanah Sentral Jawi bersama Pasukan Gajah. Beliau inilah yang layak disebut “The Real Wali Blogger” karena (lagi-lagi [...]

  19. Andy MSE

    suwe rak mrene bingung arep komentar… sepurane kang!

  20. Selamat Ulang Tahun Pak Sawali | Situs Personal Frenavit Putra

    [...] menjadi hari paling bahagia buat Bapak Sawali Tuhusetya. Mungkin di antara sampeyan semua (Para siluman perkecualian) bertanya-tanya siapa beliau?? Beliau adalah seorang blogger dari kota Kendal Jawa [...]

  21. genthokelir

    arep milih po sisuk mas

Leave a Reply


1 June 2010 • Pekerjaan • ardyansah

Ketika mendengar “canting”, orang pasti terpikir perangkat mungil berbentuk cawan dengan pegangan dan ujung “pena” yang biasa digunakan oleh seniman batik untuk menggores dan memberi sentuhan akhir untuk karya-karyanya. Canting adalah simbol kesadaran untuk berkarya. Kecil, bersahaja, tetapi sangat besar peranannya. Barangkali filosofi inilah yang mendasari Derry Sunarso, sutradara rendah hati yang karyanya banyak terinspirasi kemegahan [...][...]

26 January 2010 • Ketertarikan, Pekerjaan, Penuturan • ardyansah

Menulis, -menurut saya- dalam banyak hal tak jauh berbeda dari mendesain. Sama-sama merancang, sama-sama mengandalkan ide sebagai ruh, sama-sama bekerja dengan imajinasi (dan atau fantasi), sama-sama membutuhkan kreativitas untuk mengemasnya menjadi sebuah entitas karya,  juga yang pasti sama-sama tak mudah mengerjakannya. Estetika dalam desain bisa dinilai dari bentuk, komposisi, warna, dan elemen-elemen visual lainnya. [...][...]