Seumpama Tuhan gemes kemudian mengutus malaikat untuk menjadi presiden di republik ini, belum tentu semua penyakit yang sudah kadung kronis menggerogoti tanah puing kemakmuran sejarah ini menjadi sembuh dan sehat kembali. Bahkan ilmuwan, kyai, dan jenderal -atau jika mereka bersekutu sekaligus- tak pernah benar-benar berhasil membangun kembali negara seperti sebelum dihajar krisis dan berbagai bencana.
Tetapi demokrasi tidak pernah melibatkan Tuhan, malaikat, nurani, dan hal-hal abstrak lainnya. Meskipun harus diakui, sebagai teori, demokrasi -yang konon dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat- itu juga tak pernah sepi dari ke-abstrakan. Terutama untuk urusan pelaksanaan yang jauh panggang dari api.
Juga tentang presiden. Siapa yang butuh pemimpin sempurna? Terserah dia mau jenderal, pengusaha, ekonom, atau ibu rumahtangga, asal dia manusia silahkan saja. Dengan menjadi manusia, seorang pemimpin tak perlu merendahkan lawan politiknya untuk merasa lebih tinggi. Dengan menjadi manusia, seorang (calon) presiden tak harus menyortir isu yang berpotensi menjadi komoditas pencitraan. Dengan menjadi manusia, seorang kandidat akan sangat konsisten memegang janji dan sumpah yang diboroskan menjelang pemilihan. Meskipun dengan menjadi manusia berarti seorang pemimpin juga bisa (baca: boleh) lupa dan -berhak- melakukan kesalahan. Adalah tugas dan kewajiban rakyat untuk menerima apa saja konsekuensi -baik dan buruk- untuk setiap pilihan.
Berdemokrasi bukan tanpa resiko -dan ongkos. Berdemokrasi -jika yang dimaksud adalah tentang pemilihan-pemilihan pelaku politik di berbagai level- tak ubahnya adalah perjudian. Ada ongkos yang harus dipertaruhkan, ada kekalahan yang menistakan, ada kemenangan yang tak selalu memuliakan. Sialnya, perjudian semacam ini terasa lebih adil daripada merelakan kekuasaan yang diwariskan. Meskipun demokrasi tak benar-benar menutup pintu untuk sebuah dinasti kekuasaan.
Pemilihan presiden semakin dekat. Para kontestan semakin jantungan, tim suksesnya semakin agresif, rakyat toh semakin acuh. Pertarungan neolib dan ekonomi kerakyatan segera akan teronggok di gudang sejarah. Klaim siapa yang lebih cepat dari siapa -entah apanya- akan segera menguap dalam dokumen-dokumen mati. Tentang isu-isu pelanggaran HAM yang tak tersentuh, -sepertinya- akan tetap tak tersentuh. Semua isu, klaim, komentar, fitnah, dan segala hiruk pikuk akan dilupakan setelah dinyatakan sepasang pemenang. Dan kehidupan akan kembali berjalan seperti sebelumnya, seperti biasa, seperti pemilihan ini tak pernah terjadi. Sebab untuk mau mentas dari keterpurukan ini bukan cuma urusan pemimpin. Kita juga.
June 11th, 2009 at 11:57 am
Makanya jangan cari presiden tapi cari Khalifah … eh mana yah Khalifah Slamet ?
June 11th, 2009 at 12:07 pm
aduh presiden yah…milih presiden apa milih orang nih..pilah antara faktor like n dislike..
June 11th, 2009 at 12:22 pm
Buat saya sih… pilpres ataupun pemilu sebagai ajang untuk mentertawakan para politisi ketika mereka mati2an membela capres atau partainya walaupun jelas2 pandangan mereka tidak pernah konsisten dari waktu ke waktu.
Btw… gambar di atas itu presiden dari republik kambing
yang berjenggot?**kabur terheran2**
June 11th, 2009 at 1:42 pm
Sepakat, tidak akan ada yang berubah …
Anggap saja Pilpres adalah tontontan menarik setelah Piala dunia yang empat tahun sekali dan Piala Eropa yang dua tahun sekali
June 11th, 2009 at 2:14 pm
@ajengkol: khalifah? hmmm… gimna kalau khalijaga saja???

)
@pak dhe: yah, sementara like dan dislike boleh juga…
@yari: kalo gitu mari tertawa pak yari
@DV: sayangnya pilpres tidak pernah semenarik piala dunia…
June 11th, 2009 at 2:29 pm
begitulah, sebaik-baiknya dan seburuk-buruknya berdemokrasi adalah sama saja dengan menuhankan ketidakpastian kasarnya, minimal kata halusnya adalah menjunjung tinggi ketidakpastian….
June 11th, 2009 at 3:22 pm
dari rakyat oleh pengwasa untuk kroni2…
itulah demokrasi sejati…
June 11th, 2009 at 4:17 pm
calon presidennya ga ada yg menarik … xixixi
June 11th, 2009 at 4:45 pm
demokrasi memang mahal harganya.. tapi apakah benar-benar bermanfaat bagi rakyat? tanyakan saja pada rumput yang bergoyang
June 11th, 2009 at 7:45 pm
Bukankah kau pun tau: bahwa terkadang malaikat pun tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan…
Jadi, memang bukan sekadar siapa pemimpinnya.
June 11th, 2009 at 9:44 pm
Balik wae dadi kerajaan…
Dijamin rak perlu pemilihan umum sing ngentekke ragat trilyunan…
June 11th, 2009 at 9:58 pm
Untung saia bukan manusia jadi gak perlu ikod kan?
June 11th, 2009 at 11:53 pm
wah luar biasa tenan iki..mesti awakmu lulusan desain propaganda yo..kwkawa..
June 12th, 2009 at 2:11 am
bersiaplah para capres, untuk menjadi manusia setengah dewa dinegeri ini
June 12th, 2009 at 9:17 am
kabeh siluman wis nyontreng..
aku tok sing durung
June 12th, 2009 at 10:12 am
saya siyap contreng jenggotnya. PILIH DOSA AKBAR, jangan yang lain.
June 13th, 2009 at 10:53 pm
semoga saja rakyat ndak salah pilih, mas ardy. yang pasti, aku sudah punya pilihan yang mantab utk saya centang saat 8 juli, wakaka ….
June 19th, 2009 at 5:59 am
[...] para Siluman dari Jawi Wetan yang berbondong-bondong ngeluruk Tanah Sentral Jawi bersama Pasukan Gajah. Beliau inilah yang layak disebut “The Real Wali Blogger” karena (lagi-lagi [...]
June 19th, 2009 at 6:05 am
suwe rak mrene bingung arep komentar… sepurane kang!
June 19th, 2009 at 11:55 am
[...] menjadi hari paling bahagia buat Bapak Sawali Tuhusetya. Mungkin di antara sampeyan semua (Para siluman perkecualian) bertanya-tanya siapa beliau?? Beliau adalah seorang blogger dari kota Kendal Jawa [...]
June 23rd, 2009 at 3:19 am
arep milih po sisuk mas