Suatu ketika seorang kawan meyakinkan kepada saya bahwa kawan yang lain tak lebih adalah benalu (jika tak boleh disebut duri dalam daging) dalam persekutuan yang sama-sama kami bangun. Begitu luar biasa pengaruh si kawan, sehingga saat si benalu ini ditendang keluar lingkaran saya tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan kemudian oleh si benalu saya lebih dianggap sebagai garda depan yang mengamini pendepakan dirinya dari komitmen.
Waktu berjalan. Si benalu terus berkembang menjadi akar yang kuat dan perlahan bertumbuh menjadi pohon yang kokoh dan matang. Sementara saya tetap bertahan di dalam lingkaran.
Sampai suatu pagi saya tak bisa menemukan meja kerja saya. Berikut komputer, buku-buku, identitas, pekerjaan, gaji, komisi, teman-teman, respect, cinta dan seluruh kepercayaan yang mendadak dibawa pergi ke sebuah tempat baru yang sama sekali menolak saya, tanpa pernah diajak berunding sepatah katapun. Ya, sepatah katapun.
Itu bukan pengkhianatan katamu kawan, hanya barangkali kita tidak berjodoh. Indah betul kalimat yang mengalir dari bibirmu saudaraku, akupun menerima apa saja. Bahkan sendawa dan muntahanmu pun telah rela kubasuhkan keseluruh wajahku. Tapi tolong, sekali lagi tolong, jangan sekali-kali kau katakan aku membawa sesuatu dari persekutuan yang kau bawa lari, jangan kau kabarkan kepada dunia seolah-olah ada yang kumaling dari kantong celanamu.
Bukan aku yang tak bisa dikontak selama masa-masa status quo, bukan aku yang tak bisa ditemui entah karena kesibukan apa, bukan aku yang pergi tanpa permisi, dan kamu pasti tahu itu.
Aku sebenarnya tak ingin membicarakan ini kawan, aku tetap ingin suatu saat kita bertemu sambil sama-sama membawa cerita bahagia, bukan pertentangan apalagi permusuhan. Kamu masih saudaraku, dan kuharap kau tahu saudara tak pernah memakan bangkai saudaranya sendiri. Kecuali kamu memang tak pernah menganggapku sebagai saudara.
January 6th, 2009 at 11:11 am
pertamax nggak yah
January 6th, 2009 at 11:20 am
ketika kita sama sama miskin masing masing akan rela berbagi sesuap nasi dalam sepiring ,
namun ingat jika teman sudah di kaburkan masalah materi terpaksa bangkai kawan sendiri pun di makan
Hidup adalah panas perih kawan
jika harus memilih pastilah kita tidak kan mau di khianati
Tapi kawan jangan sampai terjebak oleh literatur itu
Setiap jenjang pasti di uji
biar saja karma kita terbeli
jangan pernah berhenti untuk bekerja sama lantaran masalah ini
hari kemarin kita luka parah tentu besok tentu dapat pengobatnya.
JIKA KAU YAKINI PILIHAN TUHAN
maka kamu akan di pertemukan pada sesuatu yang lebih baik ,yakini bahwa itu yang terbaik menurut Allah SWT.
Buang saja itu sebagai keluhan
” AKUPUN TAK JAUH BEDA DARIMU”
mungkin jika peristiwa yang menimpa dirimu itu tidak terjadi kita takkan dipertemukan
oke kepanjangan yoben
January 6th, 2009 at 11:44 am
Wah turut prihatin mas….
ini kendala komunikasi atau apa mas?
semoga permasalahannya segera selesai.
semoga mendapatkan tempat dan teman baru yang lebih bisa setia kawan
January 6th, 2009 at 11:47 am
Hmm mas sabar mas… Itulah rahasia hidup… Tetep Semangat mas….
January 6th, 2009 at 11:50 am
Banyak kejadian, saat awal memulai sesuatu, semua terlihat kompak…dan saat ini demi pertemanan, ada hal yang terlupakan, yaitu tata tertib dan aturan main.
Semakin kuat suatu usaha dan makin menguntungkan, terlihatkan masing-masing kepentingan pribadinya. Kita bersyukur jika usaha yang dijalankan terus tumbuh berkembang, namun jika tak berhasil, anggaplah itu suatu pembelajaran.
January 6th, 2009 at 11:55 am
sopo seng nggarai dirimu cak? podo2 mangan segone ae kok koyo ngunuw, emosimu podo karo emosiku..koen dudu wong liyo neng raiku, tapi dolorku..panas atiku moco tulisanmu..
January 6th, 2009 at 11:57 am
sakit rasana bila dikianati…
*haduh ojok ngomong khianat2 ngono ta!!
January 6th, 2009 at 12:21 pm
tetep semangat ae om.. haks
January 6th, 2009 at 12:41 pm
Mungkin sekarang tak ada lagi kawan yang abadi, karena yang ada tinggal seteru abadi
January 6th, 2009 at 12:43 pm
Ketemu sumanto kah?
January 6th, 2009 at 1:18 pm
Bukan kawan bila tak lagi berbagi, bukan kawan bila tak lagi saling memahami dan bukan pula kawan bila berkianat. Kadang berkawan hanya karena keadaan dan kebutuhan. Selepas itu adakah manfaat kawan ? Malas pula aku berkawan dengan perihal tersebut hehehe… mbuhlah
January 6th, 2009 at 2:00 pm
@genthokelir: matur nuwun kang gentho. saya sedang menuruti nasihat sampean. menulislah agar emosimu terkendali






*oops*
@aRuL: kalian blogger teman baruku
@Frenavit Putra: maturnuwun
@edratna: injih bu endratna. kulo manut
@gajah_pesing: maturnuwun dulur
@kucluk: iki dudu masalah cewek cluk. dasar kucluk tenanan kowe tibake
@Anang: ah niru pak sawali
@Dony Alfan: hohoho. mangkane ati2 kekancan karo panjul
@Kyai slamet: ketemu su******
@cak Dh1k4: lho kok mbuh. btw matur tengkiuh
January 6th, 2009 at 3:57 pm
byuh byuh… jan ndak sopan kalo begitu itu. tidak salah ada pepatah arab: cintai apa yang kamu cintai sekedarnya saja, bencilah apa yang kamu benci sekedarnya saja. karena bisa saja akan terjadi kebalikannya…
[doh nyambung ndak ya ini?]
January 6th, 2009 at 4:04 pm
ini true story ?? wah.. kejam sekali tuh kawan
January 6th, 2009 at 4:45 pm
panase mowo geni iso kalah karo panase pikir nanging yen di pikir pikir ngopo kok panas?? halah..
January 6th, 2009 at 4:46 pm
Tenang aja, masih banyak kawan2 baru yang siap menyambut sampeyan dengan hangat…
January 6th, 2009 at 5:27 pm
Semoga yang terjadi pada Mas, bisa segera terselesaikan dan mendapat sebuah jalan untuk kebaikan bagi semua…
Sabar, Mas…
January 6th, 2009 at 6:57 pm
sabar aja deh om.dan tetap semangat yap
January 6th, 2009 at 7:24 pm
sabar mas…
Allah pasti akan memberikan balasan yang setimpal…
Amiiinnn
Tetep semangat…!!!
January 6th, 2009 at 7:51 pm
orang sabar disayang tuhan lho:D
January 6th, 2009 at 9:10 pm
walaupun kamu bukan saudaraku, aku tetep tidak mau makan bangkai…
ora enak ngerti ra…
January 6th, 2009 at 11:01 pm
aku ra melu-melu.. Tak ndelik ae
January 7th, 2009 at 6:03 am
Darah itu merah jendral *srettt-srett* suara pisau silet dibesut anggota Gerwani ke wajah si jenderal….
January 7th, 2009 at 6:38 am
Hallah², lagek pertama melbu kene kok wes moco seng koyo ngene tho yo??
Yang ikhlas ya mas, biar kata dia ga nganggep sodara lagi. masih banyak sodara laen yang pastinya lebih respect, ya tho?
January 7th, 2009 at 8:12 am
Persis… hampir persis… saya mengalaminya baru-baru saja… ah.. sudahlah…
January 7th, 2009 at 10:54 am
Wah, gimana kabar hari ini, Mas?
Apakah masih ada pengkhianatan lagi, atau sedang menyembuhkan luka dari pengkhianatan tersebut?
January 7th, 2009 at 11:17 am
tetap smangat mas
January 7th, 2009 at 2:19 pm
Paling nggak senang kalau ada kawan yang menkhianati
January 7th, 2009 at 3:17 pm
ndak nyangka org seceria itu.. org serame itu.. org yg ndak pernah serius bisa nulis kayak gini.. hihihihi…
sabar ae mas..
emang namanya juga manusia.. saia pun pernah mengalami hal yg serupa..
dan emang bener2 gak enak..
yah… sementara itu.. halah
*seng penting mah Rock* hahahahah
January 7th, 2009 at 5:14 pm
wah om ardy lagi kesel yak di khianati.. sabar yak om
January 7th, 2009 at 6:30 pm
ati-ati mas..ntar di cap plagiator….
khan ada tuh lagu dangdutnya pagar makan tanaman…hikss
January 7th, 2009 at 7:15 pm
sabar sah.. sabar sah.. sabar sah..
January 8th, 2009 at 2:56 am
semoga persahabatan yang indah tetep terjaga sepanjang masa.
January 8th, 2009 at 4:15 am
jenenge menungso lek kumpul iku mesti onok perkorone… seng penting ngopi bareng sek enak
January 16th, 2009 at 11:54 pm
Itulah pernak pernik kehidupan, ada yang pergi sambil membawa dendam, ada pula yg pergi sambil menghapus persaudaraan.
Kata seorang tokoh di film kartun kesukaanku, kehidupan ini takkan pernah sama……………
Yah, terlampau banyak variabel didalamnya. Dan karena variabel itulah, selalu ada harapan “si ayam akan pulang kekandang”.
Menurut dunia sufiisme, kita adalah makhluk “pekerja borongan” dan munculnya musibah ditanggapi sebagai sebuah tambahan pekerjaan dari langit yang nantinya bisa menambah “penghasilan”.
Tentang benar tidaknya ya wallahu a’lam bish shawab.
January 17th, 2009 at 11:06 am
Namanya mantan kyai, paling2 seterunya ya kyai
,
January 19th, 2009 at 9:30 am
Penghianatan versus persahabatan ?
January 19th, 2009 at 8:34 pm
Yang sabar ya mas… kita do’akan saja dia disadarkan… sukses selalu buat mas ardyan..
March 24th, 2009 at 5:06 am
[...] beberapa bulan lalu peristiwa ini sempat saya anggap sebagai bala, belakangan justru saya bisa mengatakan itu hikmah. Memang, [...]
March 24th, 2009 at 11:02 am
hanya waktu yang akhirnya bisa membedakan mana pasir mana suwasa..
keep on the track…
August 26th, 2009 at 11:25 pm
[...] cerita keperihan pengalaman seorang sahabat baik saya ,saya jadi haru becampur di dalam rongga pikiran saya [...]