Urusan makan saya jagonya, makanan apapun dan dalam porsi sebesar gajah manapun pasti akan saya lahap dengan suka cita. Itu berlaku baik ketika makan dirumah, maupun ketika makan diluar, entah di warung atau dalam suatu perjamuan. Mungkin karena kebiasaan itulah yang membuat saya mendapat gelar kehormatan dari kawan-kawan saya waktu itu, nggragas!!!
Perjalanan usia tak membuat nafsu makan saya berkurang, bahkan semakin gila. Semasa SMA, tiga piring nasi yang hampir sebesar baskom wajib mengisi perut saya tiap hari hanya demi mengejar kenikmatan sesaat bernama kenyang. Berlebih-lebihan kata ustad saya, improporsional kata dokter, merusak anggaran belanja rumah tangga kata ibu saya
Meskipun banyak yang menyindir dan mencibir, tetapi saya justru mensyukuri ketertarikan yang berlebih terhadap makanan ketika itu. Bukan apa-apa, jika sebaya saya banyak yang mulai addict terhadap nikotin, alkohol, atau megadon, di saat yang sama saya justru ketagihan nasi (doh)
Itu dulu, masa-masa sebelum hasil diagnosa dokter spesialis kandungan penyakit dalam menyatakan bahwa saya harus mengurangi konsumsi makanan pedas, asam, dan berlemak yang berlebihan. Demi alasan kelangsungan hidup, maka saya memilih berdamai dengan otot-otot pencernaan yang barangkali sudah tak seliat masa muda dulu, sayapun kemudian harus membiasakan diri memakan biak (bukan biawak) dengan porsi yang lebih “manusiawi”
Tetapi malam ini saya tergoda. Melihat satwa langka ini makan dengan segala nafsu birahinya, sayapun latah ikut memesan dua porsi makanan dan dua porsi minuman. Pikir saya, kalau makhluk aneh ini bisa melahap dua porsi (rawon+pecel) sekaligus, kenapa saya tidak? Toh dulu saya juga se-nggragas itu. Dan hasilnya? Saya mesti buru-buru pulang karena ada sinyal pembuangan yang mendesak untuk dikeluarkan dari perut saya
Manusia terus berubah, atau setidaknya bergerak. Bahkan perubahan hal yang sepele -seperti pola makan- pun, bisa menjadi bahan renungan bahwa hidup tak selamanya boleh dihambur-hamburkan, termasuk -misalnya- untuk penyelenggaraan pemilu yang menelan biaya dalam jumlah yang spektakuler, juga janji-janji di masa kampanye yang hanya akan menyebabkan perut mual, iritasi gendang telinga, bahkan serangan jantung dan impotensi. Tak ada hasil baik dari sesuatu yang diproses secara berlebih-lebihan, kecuali yang hanya pantas diekskresikan sebagai sampah.
Tiba-tiba saya terngiang apa yang dulu biasa dinasihatkan orang-orang tua disekitar saya ketika dulu masih bocah, “Anakku, makanlah hanya jika perutmu lapar, bukan matamu“. Saya jadi berfikir, apa yang dilaparkan oleh pemimpin-pemimpin yang hanya memiliki perut tapi tak memiliki mata.
March 22nd, 2009 at 1:02 am
“Anakku, makanlah hanya jika perutmu lapar, bukan matamu“
jadi sampe sekarang pak mantan kyai ini makan pake mata ya?????
March 22nd, 2009 at 1:04 am
PERTAMAX
MAKAN YANG BANYAK WAJIB HUKUMNYA BAGI NOPY
March 22nd, 2009 at 1:05 am
haa.. jelas lebih nggragas…, semen dan aspal saja dimakan, apalagi cuma honda Jazz…
March 22nd, 2009 at 1:12 am
@senoaji: lha apa kamu pakai perut (doh)
@nopy: sak karepmu. no komen aku nek kowe seng komen
@suryaden: bhuahaha. sampean nyindir senoaji kan (lmao)
March 22nd, 2009 at 1:12 am
maaf saya lupa nggak bawa dompet tolong bayarin makan dulu yah
March 22nd, 2009 at 2:39 am
Ngumpul ra ngumpul sing penting mangan
March 22nd, 2009 at 4:55 am
makan yang banyak itu termasuk salah satu cita2 saya, mas ardy, hehehe … tapi hingga sekarang ndak kesampaian juga, hiks. saya sering iri menyaksikan temen2 yang bisa lahap memakan apa saja, hehe ….
March 22nd, 2009 at 6:06 am
*makan rawon sekenyang-kenyangnya. nambah*
*naruh uang 5000*
March 22nd, 2009 at 6:08 am
kalau menurut saya, makan adalah hal yang ke sekian, makanya badan kurus kering begini. Hehe.
March 22nd, 2009 at 7:05 am
Makanlah sebelum Lapar Berhentilah Makan Sebelum Kenyang
Tap kalau digratisi makan RAWON saya nambah ya
March 22nd, 2009 at 7:32 am
makanlah yang banyak dan bergizi, yang halal dan thoyib.. begitu kata guruku
March 22nd, 2009 at 8:20 am
makanlah selagi ada makanan…..
minumlah selagi ada es kelapa muda…
dan nyatelah selagi ada sate kambing…
wkwkwkwkwkwkwk
March 22nd, 2009 at 8:26 am
Indonesia yang lebih berwarna … emang Ti Pi
March 22nd, 2009 at 8:47 am
lah makan banyak itu enak’e mas :p
March 22nd, 2009 at 9:44 am
wogh.. fotonya keren..
obsesi caleg tah ??
March 22nd, 2009 at 9:52 am
Eh ada yang bilang bisa makan aspal to??
Iki jaman edan, ora edan ora keduman
March 22nd, 2009 at 3:51 pm
Saya mbaca postingan iki sambil makan mi goreng di warung, tenan setenan tenannya
March 22nd, 2009 at 4:48 pm
kok ada tulisan impotensi ya … curhat?
wetengmu kie ancen aneh .. moso naek bus ae mesti kebelet (lmao)
March 22nd, 2009 at 5:22 pm
@arai: impotensi? maaf kalo nyindir (lmao)
March 23rd, 2009 at 4:41 am
Hehehe kupikir arep crito bab mangan, jebul lari2nya ke pulitik:)
Caleg itu juga orang-orang lapar, Pakdhe.. bahkan lebih lapar dari kita, lha wong katanya banyak caleg yang pengangguran juga jhe:)
March 23rd, 2009 at 9:13 am
Nah…. yang makan nggak kenyang2 itu pasti dibantu cacingnya di dalam perutnya huehehehe….
Sementara itu kalau pemimpin2 yang ‘lapar’ terus itu pasti dibantu oleh istrinya (yang bertindak sebagai cacing) yang manas2in suaminya agar cepat kaya dalam waktu pintas. Eh, nggak semuanya gitu ya??
March 23rd, 2009 at 10:00 am
ah, saya hanya lapar dan haus kekuasaan ajah kok mas, ndak lebih dari itu. hehehe
March 23rd, 2009 at 1:53 pm
Great! Mau jujur nih ya: Sampeyan kalo nulis selalu ciamik. Ini bukan dalam rangka puja-puji lho ya. Tapi adalah betul, dari tema sederhana bisa dioseng jadi sajian yang lezat (dan nggragas) untuk disantap.
Banyak kosakata yang Sampeyan kuasai. Bumbunya humor, jadi enak buat dikunyah. Meski temanya serius, bahkan sangat serius, tapi tetap bisa disuguhkan dengan renyah.
Aku selalu suka tulisan-tulisan Sampeyan. Sekali lagi ini bukan dalam rangka puja-puji lho ya (aku jarang muji soalnya, he-he). Tapi ini memang yang selalu kudapatkan setiap membaca tulisan Sampeyan.
D’oh, akhirnya kesampaian juga komen kayak gini.
(Mangkane wingi ning GK kethok sing paling nggragas. Haha!).
Mantap Sampeyan, Cak!
March 23rd, 2009 at 2:02 pm
sopo kesindir impotensi?
*asli ngakak*
March 23rd, 2009 at 3:08 pm
“Anakku, makanlah hanya jika perutmu lapar,”
aku heran bos, masio mari mangan yo sik tetep laper. Dadi petuah itu selalu berlaku setiap saat….:D
March 23rd, 2009 at 3:13 pm
mari kita contreng jenggotnya
March 23rd, 2009 at 5:07 pm
Wehehehehehehe… Wes talah kang… ojo tiru2 bedho awak ndewes iki… wekekekekekekekeke…
March 23rd, 2009 at 6:43 pm
Tiba-tiba saya terngiang apa yang dulu biasa dinasihatkan orang-orang tua di sekitar saya ketika dulu masih bocah, “Anakku, makanlah hanya jika perutmu lapar, bukan matamu“.
Lho lha piye, wong perutnya lapar terus. Dengan rumus itu, ya jadi makan terus. Hihihi.
Begitu pun pemimpin-pemimpin atau calon (yang nekat jadi) pemimpin? Weh…
March 23rd, 2009 at 7:26 pm
jadi sampeyan pemakan segala tho, mas? omnivora dunk? tapi memang mendingan, mas, mengingat zaman sekarang banyak orang yang anoreksia. dengan sampeyan nggragas, jadinya kan ada keseimbangan, dialektika gitu. huehehe…
March 24th, 2009 at 4:13 pm
tiga piring nasi yang hampir sebesar baskom wajib mengisi perut saya tiap hari <=== ediannn buto cakil tenan jebule si om ini hihihi
March 25th, 2009 at 7:53 am
owala ngoten to!!
mangkane iso gelis gede..
March 26th, 2009 at 9:48 am
yang makan makan nih yang gwa suka
byme
March 31st, 2009 at 3:24 am
Maklumlah, saat kuliah dulu kan dirimu sering kelaparan. Ya, bacalah kembali posting Balada Tepung Goreng itu, haha.
Syukurlah, sekarang dirimu sudah makmur, jadi bisa makan enak, tapi jangan berlebihan yak