22 March 2009 • Keindonesiaan, Pelampiasan, Penerawangan, Penuturan • ardyansah

Urusan makan saya jagonya, makanan apapun dan dalam porsi sebesar gajah manapun pasti akan saya lahap dengan suka cita. Itu berlaku baik ketika makan dirumah, maupun ketika makan diluar, entah di warung atau dalam suatu perjamuan. Mungkin karena kebiasaan itulah yang membuat saya mendapat gelar kehormatan dari kawan-kawan saya waktu itu, nggragas!!!

Perjalanan usia tak membuat nafsu makan saya berkurang, bahkan semakin gila. Semasa SMA, tiga piring nasi yang hampir sebesar baskom wajib mengisi perut saya tiap hari hanya demi mengejar kenikmatan sesaat bernama kenyang. Berlebih-lebihan kata ustad saya, improporsional kata dokter, merusak anggaran belanja rumah tangga kata ibu saya :D

Meskipun banyak yang menyindir dan mencibir, tetapi saya justru mensyukuri ketertarikan yang berlebih terhadap makanan ketika itu. Bukan apa-apa, jika sebaya saya banyak yang mulai addict terhadap nikotin, alkohol, atau megadon, di saat yang sama saya justru ketagihan nasi (doh)

Itu dulu, masa-masa sebelum hasil diagnosa dokter spesialis kandungan penyakit dalam menyatakan bahwa saya harus mengurangi konsumsi makanan pedas, asam, dan berlemak yang berlebihan. Demi alasan kelangsungan hidup, maka saya memilih berdamai dengan otot-otot pencernaan yang barangkali sudah tak seliat masa muda dulu, sayapun kemudian harus membiasakan diri memakan biak (bukan biawak) dengan porsi yang lebih “manusiawi” :(

blog mantan kiai, blog hitam, blog mantan santri, blog santri, blog demokrasi, blog indonesia, blog pemikiran, blog perenungan, blog imajinasi, blog mantan kyai, blog kyai, blog islam, blog islam-indonesia, blog menulis, blog non-doktrin, blog desain grafis, blog keragaman, blog indonesia, blog jawa timur, blog tuban, blog surabaya, blog kejawen, blog merdeka, blog sampah, blog kyai tuban, blog kyai surabaya, blog ronggolawe, blog kyai indonesia, blog kiaiTetapi malam ini saya tergoda. Melihat satwa langka ini makan dengan segala nafsu birahinya, sayapun latah ikut memesan dua porsi makanan dan dua porsi minuman. Pikir saya, kalau makhluk aneh ini bisa melahap dua porsi (rawon+pecel) sekaligus, kenapa saya tidak? Toh dulu saya juga se-nggragas itu. Dan hasilnya? Saya mesti buru-buru pulang karena ada sinyal pembuangan yang mendesak untuk dikeluarkan dari perut saya :D

Manusia terus berubah, atau setidaknya bergerak. Bahkan perubahan hal yang sepele -seperti pola makan- pun, bisa menjadi bahan renungan bahwa hidup tak selamanya boleh dihambur-hamburkan, termasuk -misalnya- untuk penyelenggaraan pemilu yang menelan biaya dalam jumlah yang spektakuler, juga janji-janji di masa kampanye yang hanya akan menyebabkan perut mual, iritasi gendang telinga, bahkan serangan jantung dan impotensi. Tak ada hasil baik dari sesuatu yang diproses secara berlebih-lebihan, kecuali yang hanya pantas diekskresikan sebagai sampah.

Tiba-tiba saya terngiang apa yang dulu biasa dinasihatkan orang-orang tua disekitar saya ketika dulu masih bocah, “Anakku, makanlah hanya jika perutmu lapar, bukan matamu“. Saya jadi berfikir, apa yang dilaparkan oleh pemimpin-pemimpin yang hanya memiliki perut tapi tak memiliki mata.

{ 33 Comments } to Blog Hitam Tentang Makan Berlebihan

  1. senoaji

    “Anakku, makanlah hanya jika perutmu lapar, bukan matamu“

    jadi sampe sekarang pak mantan kyai ini makan pake mata ya?????

  2. Nopy

    PERTAMAX

    MAKAN YANG BANYAK WAJIB HUKUMNYA BAGI NOPY

  3. suryaden

    haa.. jelas lebih nggragas…, semen dan aspal saja dimakan, apalagi cuma honda Jazz…

  4. mantan kyai

    @senoaji: lha apa kamu pakai perut (doh)
    @nopy: sak karepmu. no komen aku nek kowe seng komen :D
    @suryaden: bhuahaha. sampean nyindir senoaji kan (lmao)

  5. genthokelir

    maaf saya lupa nggak bawa dompet tolong bayarin makan dulu yah

  6. ikhsan

    Ngumpul ra ngumpul sing penting mangan :-P

  7. sawali tuhusetya

    makan yang banyak itu termasuk salah satu cita2 saya, mas ardy, hehehe … tapi hingga sekarang ndak kesampaian juga, hiks. saya sering iri menyaksikan temen2 yang bisa lahap memakan apa saja, hehe ….

  8. DETEKSI

    *makan rawon sekenyang-kenyangnya. nambah*

    *naruh uang 5000*

    :mrgreen:

  9. d3ptzz

    kalau menurut saya, makan adalah hal yang ke sekian, makanya badan kurus kering begini. Hehe.

  10. ajengkol

    Makanlah sebelum Lapar Berhentilah Makan Sebelum Kenyang

    Tap kalau digratisi makan RAWON saya nambah ya

  11. Andy MSE

    makanlah yang banyak dan bergizi, yang halal dan thoyib.. begitu kata guruku

  12. santai sejenak

    makanlah selagi ada makanan…..

    minumlah selagi ada es kelapa muda…

    dan nyatelah selagi ada sate kambing…

    wkwkwkwkwkwkwk

  13. ario saja

    Indonesia yang lebih berwarna … emang Ti Pi

  14. Fenty

    lah makan banyak itu enak’e mas :p

  15. syamsu

    wogh.. fotonya keren..
    obsesi caleg tah ?? :D

  16. Suster Gila

    Eh ada yang bilang bisa makan aspal to??
    Iki jaman edan, ora edan ora keduman

  17. grubik

    Saya mbaca postingan iki sambil makan mi goreng di warung, tenan setenan tenannya

  18. aRai

    kok ada tulisan impotensi ya … curhat?

    wetengmu kie ancen aneh .. moso naek bus ae mesti kebelet (lmao)

  19. mantan kyai

    @arai: impotensi? maaf kalo nyindir (lmao)

  20. DV

    Hehehe kupikir arep crito bab mangan, jebul lari2nya ke pulitik:)

    Caleg itu juga orang-orang lapar, Pakdhe.. bahkan lebih lapar dari kita, lha wong katanya banyak caleg yang pengangguran juga jhe:)

  21. Yari NK

    Nah…. yang makan nggak kenyang2 itu pasti dibantu cacingnya di dalam perutnya huehehehe….

    Sementara itu kalau pemimpin2 yang ‘lapar’ terus itu pasti dibantu oleh istrinya (yang bertindak sebagai cacing) yang manas2in suaminya agar cepat kaya dalam waktu pintas. Eh, nggak semuanya gitu ya?? :P

  22. gempur

    ah, saya hanya lapar dan haus kekuasaan ajah kok mas, ndak lebih dari itu. hehehe

  23. Daniel Mahendra

    Great! Mau jujur nih ya: Sampeyan kalo nulis selalu ciamik. Ini bukan dalam rangka puja-puji lho ya. Tapi adalah betul, dari tema sederhana bisa dioseng jadi sajian yang lezat (dan nggragas) untuk disantap.

    Banyak kosakata yang Sampeyan kuasai. Bumbunya humor, jadi enak buat dikunyah. Meski temanya serius, bahkan sangat serius, tapi tetap bisa disuguhkan dengan renyah.

    Aku selalu suka tulisan-tulisan Sampeyan. Sekali lagi ini bukan dalam rangka puja-puji lho ya (aku jarang muji soalnya, he-he). Tapi ini memang yang selalu kudapatkan setiap membaca tulisan Sampeyan.

    D’oh, akhirnya kesampaian juga komen kayak gini.
    (Mangkane wingi ning GK kethok sing paling nggragas. Haha!).

    Mantap Sampeyan, Cak!

  24. gajah_pesing

    sopo kesindir impotensi?
    *asli ngakak*

  25. zenteguh

    “Anakku, makanlah hanya jika perutmu lapar,”

    aku heran bos, masio mari mangan yo sik tetep laper. Dadi petuah itu selalu berlaku setiap saat….:D

  26. arifudin

    mari kita contreng jenggotnya :lol:

  27. Seng Ndhuwe jeneng satwa langka

    Wehehehehehehe… Wes talah kang… ojo tiru2 bedho awak ndewes iki… wekekekekekekekeke…

  28. Daniel Mahendra

    Tiba-tiba saya terngiang apa yang dulu biasa dinasihatkan orang-orang tua di sekitar saya ketika dulu masih bocah, “Anakku, makanlah hanya jika perutmu lapar, bukan matamu“.

    Lho lha piye, wong perutnya lapar terus. Dengan rumus itu, ya jadi makan terus. Hihihi.

    Begitu pun pemimpin-pemimpin atau calon (yang nekat jadi) pemimpin? Weh… :D

  29. marshmallow

    jadi sampeyan pemakan segala tho, mas? omnivora dunk? tapi memang mendingan, mas, mengingat zaman sekarang banyak orang yang anoreksia. dengan sampeyan nggragas, jadinya kan ada keseimbangan, dialektika gitu. huehehe…

  30. ipanks

    tiga piring nasi yang hampir sebesar baskom wajib mengisi perut saya tiap hari <=== ediannn buto cakil tenan jebule si om ini hihihi

  31. kucluk

    owala ngoten to!!

    mangkane iso gelis gede..

  32. byme

    yang makan makan nih yang gwa suka
    byme

  33. Dony Alfan

    Maklumlah, saat kuliah dulu kan dirimu sering kelaparan. Ya, bacalah kembali posting Balada Tepung Goreng itu, haha.
    Syukurlah, sekarang dirimu sudah makmur, jadi bisa makan enak, tapi jangan berlebihan yak :lol:

Leave a Reply


1 June 2010 • Pekerjaan • ardyansah

Ketika mendengar “canting”, orang pasti terpikir perangkat mungil berbentuk cawan dengan pegangan dan ujung “pena” yang biasa digunakan oleh seniman batik untuk menggores dan memberi sentuhan akhir untuk karya-karyanya. Canting adalah simbol kesadaran untuk berkarya. Kecil, bersahaja, tetapi sangat besar peranannya. Barangkali filosofi inilah yang mendasari Derry Sunarso, sutradara rendah hati yang karyanya banyak terinspirasi kemegahan [...][...]

26 January 2010 • Ketertarikan, Pekerjaan, Penuturan • ardyansah

Menulis, -menurut saya- dalam banyak hal tak jauh berbeda dari mendesain. Sama-sama merancang, sama-sama mengandalkan ide sebagai ruh, sama-sama bekerja dengan imajinasi (dan atau fantasi), sama-sama membutuhkan kreativitas untuk mengemasnya menjadi sebuah entitas karya,  juga yang pasti sama-sama tak mudah mengerjakannya. Estetika dalam desain bisa dinilai dari bentuk, komposisi, warna, dan elemen-elemen visual lainnya. [...][...]