Saya ini sebenarnya cuma rakyat kecil. Tetapi ketika suatu saat -karena sebuah anomali politik- saya diberi amanah untuk mengelola hajat hidup rakyat -yang kecil- itu, maka gugurlah sudah ke-rakyat kecil-an saya. Saat itu juga, saya merasa tidak lagi pantas menjadi bagian dari sebuah himpunan bernama rakyat, lebih-lebih untuk lancang dianggap kecil.
Rakyat kecil adalah mereka yang selalu minta dilayani tanpa pernah mau mengerti bahwa orang besar seperti saya juga sesekali (dan banyak kali) butuh istirahat setelah tiap harinya selalu disibukkan mengurusi kepentingan mereka yang kecil-kecil itu. Rakyat kecil adalah mereka yang selalu minta disuapi tanpa sekalipun bisa memahami bahwa perut seorang besar seperti saya sangat kurang jika harus diisi barang sebakul dua bakul nasi, bahkan jika seluruh sawah dan ladang penghasil beras, jagung, kedelai, batubara, gas, dan lain sebagainya yang ada di seluruh negeri ini disuapkan ke perut saya, maka -insya Allah- tetap tidak akan cukup untuk mengatasi rasa laparnya. Rakyat kecil adalah mereka yang selalu berisik menagih janji-janji politis yang dulu saya gembar-gemborkan tanpa pernah mau tahu keprihatinan saya akibat ditagih proyek oleh konglomerat-konglomerat yang dulu membantu membiayai kampanye saya. Ah, rakyat kecil memang tidak pernah mau memahami kesulitan-kesulitan orang besar…
Kalaupun ada yang menghibur saya adalah mereka sebagian rakyat kecil yang dengan ikhlas dan lapang dada menerima apa saja akibat dari kebijakan-kebijakan saya yang membingungkan, mereka yang diam saja ketika saya terus mendemonstrasikan kekhilafan yang terus menerus dan dibuat-buat, mereka yang -entah dengan segala keluasan batin atau kebodohannya- sangat membantu dalam bentuk kesediaan untuk ditipu, dipersulit dan sesekali disengsarakan. Mereka inilah rakyat kecil yang tahu diri dan tahu cara menyenangkan seorang besar.
Tetapi ketika atmosfer politik mulai terasa terik seperti hari-hari belakangan ini, jelas saya harus mengesampingkan seluruh sentimen tersebut. Saya sangat membutuhkan rakyat kecil untuk memayungi kepentingan dan ambisi politik saya agar tidak menguap tertelan angin begitu saja, saya sudah kadung invest teramat banyak untuk kompetisi yang entah apa relevansinya bagi peningkatan kesejahteraan rakyat kecil ini. Mereka sekali lagi harus membantu dengan mencontreng nama saya di dalam bilik-bilik suara kelak. Sebab kalau tidak, saya bangkrut.
Saya akan dengan sangat agresif mendekati mereka, menuliskan slogan-slogan yang seragam tentang kemakmuran rakyat (seolah saya yang paling tahu cara memakmurkan mereka), meneriakkan sekeras-kerasnya bahwa saya akan berbuat yang terbaik untuk mereka dan sangat mencintai mereka, saya akan melakukan apa saja untuk membahagiakan mereka, mengangkat derajat kehidupan mereka (sambil tak berkaca pada derajat kemanusiaan sebelah mana sebenarnya saya berada) dan akan saya tumpahkan segala janji yang membius yang biasa di bisikkan dengan penuh syahwat oleh seorang pemuda untuk mencuri barang paling berharga sekaligus paling nikmat dari seorang gadis. Hmmm…
Rakyat tidak mungkin memiliki hak untuk memajang fotonya di ruang publik seperti saya, rakyat tidak mungkin memiliki akses terhadap kekuasaan, rakyat tidak mungkin mengandalkan intelektualitas, rakyat tidak mungkin -katakanlah- anggota legislatif, sebab begitu diresmikan mereka serta merta akan berubah menjadi wakil rakyat yang terhormat, yang harus diperlakukan berbeda dari sebelumya ketika masih menjadi rakyat (saja). Kemudian secara gradual para wakil rakyat ini akan mengalami disorientasi, distorsi, sekaligus disfungi pengabdian terhadap yang mereka wakili. Toh, tak ada yang benar-benar tahu, siapa sebenarnya yang disebut rakyat kecil yang harus diwakili itu?
Anda punya jawaban???
February 28th, 2009 at 12:45 am
harus dipahami bahwa tuan di negeri ini adalah rakyat kecil yang selalu dihina, namun alangkah berbudi luhurnya mereka karena selalu menerima hinaan dan tipuan itu dengan lapang dada dan dendam…
February 28th, 2009 at 12:53 am
sindirane pas banget… hehe
February 28th, 2009 at 1:07 am
Rakyat Kecil memang selalu saja jadi objek kedzoliman duh…….
February 28th, 2009 at 2:34 am
wah ini kayanya si om udah ikut bursa pemilihan yap,soalnya bau-baunya udah mulai kampanya.eh tapi bener ga sih?daripada dijitak mendingan daku kaburrrrrrrrrrrrrrrr
February 28th, 2009 at 9:08 am
siapa memilih siapa…. hmmm
kenyangkan dulu, pasti gampang untuk dihasut.. *agree*
February 28th, 2009 at 10:36 am
BENAR-BENAR SATIRE YANG SANGAT MENGENA
February 28th, 2009 at 10:39 am
BENAR-BENAR SATIRE YANG SANGAT MENGENA. salam kreatif!
February 28th, 2009 at 10:47 am
Memang tragis. Udah kecil, rakyat lagi.
February 28th, 2009 at 11:21 am
kasihan sekali udah rakyat kecil lagi
February 28th, 2009 at 11:29 am
Sip.. Apalah arti rakyat buatmu..
*postingan seng uapik iki*
Hidup Revolusi
February 28th, 2009 at 11:39 am
ah…. pengen nyalon ga klakon….
February 28th, 2009 at 11:43 am
mantap raimu jeh!
February 28th, 2009 at 12:26 pm
yack,betul. saya juga punya hak untuk berbicara.
February 28th, 2009 at 12:47 pm
sbenernya xkh. ardiansyah sudah layak dan sangat layak maju menjadi wakil rakyat “kere” setelah beberapa saat yang lalu didapuk menjadi the most “kere” man of the year.
pemilu besok ini akan saya pilih sampean. gambar SBY jelas akan saya tempeli dengan wajah sampean. Aku tak ngeprint sik teko omah, lek wes nang bilik suara, tak tempelno wajah sampean dan tak contreng sampean. ojok kuatir.
February 28th, 2009 at 12:49 pm
tulisan sampean bener-bener apik. dalam hati menggerutu, kok bisa ya?!! aku kok ndak!!!?????? *mode iri on*
February 28th, 2009 at 2:15 pm
Kasihan rakyat kecil itu. Kita hanya bisa berbuat semmapunya. Rakyat kecil, dimana dirimu?
February 28th, 2009 at 2:57 pm
rakyat kecil?
perpektif sy dan anda tentunya berbeda. apalagi caleg.
February 28th, 2009 at 3:59 pm
Keren gitu loh!
February 28th, 2009 at 5:28 pm
bos,
ini nasionalis opo marhaenis….
he..
February 28th, 2009 at 9:52 pm
arep nyaleg po? mengko tak centang..
February 28th, 2009 at 11:09 pm
Rakyat kecil memang lagi ngetren
March 1st, 2009 at 1:37 am
Yah, begitulah dunia.
Kadang tanpa sadar kita telah menipu diri sendiri. Bahkan turut membiayainya.
Lihat saja dimedia.
Semua produsen berlomba lomba memasang iklan, merayu kita untuk memilihnya.
Biaya iklan yang cukup mahal tentu saja akan diselipkan dipos promosi yang ujungnya akan membebani cost produksi dan melambungkan harga jual.
Finally, kita sebagai konsumen yang akan ketiban sampur.
Dalam perspektif sebuah negara, potret semacam hubungan produsen-konsumen juga terjadi. Dan sang “produsen” tentu saja akan membebankan biaya promosi berupa pemasangan poster, sepanduk, bea mejeng di media juga ongkos “gizi” ke partainya kepada kita sebagai penghuni piramida terbawah.
Mungkin sebaiknya peran sebagai produsen itu di rolling saja……..so, wong sak Indonesia kebagian kesempatan nangkring di gedung dewan. Enak adil ! tapi apa mungkin yo ?
March 1st, 2009 at 6:07 am
Sindirane alus tur pedes. Jayalah negeri ini, jayalah negeri ini!
March 1st, 2009 at 1:35 pm
Seeeeeeeeepppp…
Sindiran untuk siapa aku tak tahu, yang jelas, mantaf, benar..
March 1st, 2009 at 2:22 pm
namanya aja kita ini rakyat kecil,wong cilik,suarane gak ada yang didengar….saake rek…
March 1st, 2009 at 7:09 pm
aku paling seneng dengan kata² ini “saya sudah kadung invest teramat banyak untuk kompetisi yang entah apa relevansinya bagi peningkatan kesejahteraan rakyat kecil ini.” (lmao)(lmao)(lmao)(lmao)
March 1st, 2009 at 8:15 pm
jangan nakut-nakuti rakyat to kyai.. mereka kan sdg euforia memilih bintangnya…
March 2nd, 2009 at 6:26 am
Sebenarnya masing2 punya kewajibannya sendiri2. Menjadi ‘rakyat besar’ ada kewajibannya, menjadi rakyat kecil ada juga kewajibannya.
Masing2 harus disiplin dalam menegakkan kewajibannya itu. Nah, bangsa kita ini (nggak semuanya lho) kebanyakan memang belum baik melaksanakan tugas2nya baik sebagai rakyat kecil maupun yang sebagai ‘rakyat besar’. Huehehe….
March 2nd, 2009 at 12:06 pm
Mungkin seperti saya yang kecil ini, Mas…
Tulisan ini apakah sebuah e-mail dari seorang pejabat besar yang dipublikasikan melalui blog ini?
March 3rd, 2009 at 6:33 pm
O sampeyan nyindir to?? nyindir sopo??? opo yakin saiki isih mempan do disindir?? lha di pisuhi langsung we isih gak bergeming kok…
*nb: fotomu njelehi…hahahaha
March 3rd, 2009 at 9:45 pm
humm… sing penting coblos jenggote..
aniwei.. tulisannya sangat bagus,,
sip..!!
March 3rd, 2009 at 11:58 pm
“suara rakyat adalah suara Tuhan”, begitulah ungkapan yang sering kita dengar. mestinya orang2 yang merasa dirinya paling elite mesti ingat ungkapan itu. kalau rakyat kecil sudah marah, jangan salahkan mereka kalau suatu ketika mereka bisa memberikan “azab” yang lebih pedih!
March 4th, 2009 at 3:46 am
Kupluke Pakdhe Karwo ndang balekke… Wonge nggoleki kae lho!
March 23rd, 2009 at 4:59 pm
Permisi…
Saya ingin menyampaikan pesan penting dari “orang besar” buat semua rakyat kecil :
Tanggal 9 April besok jangan lupa untuk datang ke TPS…
Gunakan hak pilih anda dengan baik dan benar…
Lalu, CONTRENG YANG TIDAK PERLU…!
Cheers…
April 9th, 2009 at 12:59 pm
waw, kenepa q ga bisa yang pertama……….