27 February 2009 • Keganjilan, Keindonesiaan, Pelampiasan, Penerawangan, Penuturan, Renungan • ardyansah

blog mantan kiai, blog hitam, blog mantan santri, blog santri, blog demokrasi, blog indonesia, blog pemikiran, blog perenungan, blog imajinasi, blog mantan kyai, blog kyai, blog islam, blog islam-indonesia, blog menulis, blog non-doktrin, blog desain grafis, blog keragaman, blog indonesia, blog jawa timur, blog tuban, blog surabaya, blog kejawen, blog merdeka, blog sampah, blog kyai tuban, blog kyai surabaya, blog ronggolawe, blog kyai indonesia, blog kiaiSaya ini sebenarnya cuma rakyat kecil. Tetapi ketika suatu saat -karena sebuah anomali politik- saya diberi amanah untuk mengelola hajat hidup rakyat -yang kecil- itu, maka gugurlah sudah ke-rakyat kecil-an saya. Saat itu juga, saya merasa tidak lagi pantas menjadi bagian dari sebuah himpunan bernama rakyat, lebih-lebih untuk lancang dianggap kecil.

Rakyat kecil adalah mereka yang selalu minta dilayani tanpa pernah mau mengerti bahwa orang besar seperti saya juga sesekali (dan banyak kali) butuh istirahat setelah tiap harinya selalu disibukkan mengurusi kepentingan mereka yang kecil-kecil itu. Rakyat kecil adalah mereka yang selalu minta disuapi tanpa sekalipun bisa memahami bahwa perut seorang besar seperti saya sangat kurang jika harus diisi barang sebakul dua bakul nasi, bahkan jika seluruh sawah dan ladang penghasil beras, jagung, kedelai, batubara, gas, dan lain sebagainya yang ada di seluruh negeri ini disuapkan ke perut saya, maka -insya Allah- tetap tidak akan cukup untuk mengatasi rasa laparnya. Rakyat kecil adalah mereka yang selalu berisik menagih janji-janji politis yang dulu saya gembar-gemborkan tanpa pernah mau tahu keprihatinan saya akibat ditagih proyek oleh konglomerat-konglomerat yang dulu membantu membiayai kampanye saya. Ah, rakyat kecil memang tidak pernah mau memahami kesulitan-kesulitan orang besar…

Kalaupun ada yang menghibur saya adalah mereka sebagian rakyat kecil yang dengan ikhlas dan lapang dada menerima apa saja akibat dari kebijakan-kebijakan saya yang membingungkan, mereka yang diam saja ketika saya terus mendemonstrasikan kekhilafan yang terus menerus dan dibuat-buat, mereka yang -entah dengan segala keluasan batin atau kebodohannya- sangat membantu dalam bentuk kesediaan untuk ditipu, dipersulit dan sesekali disengsarakan. Mereka inilah rakyat kecil yang tahu diri dan tahu cara menyenangkan seorang besar.

Tetapi ketika atmosfer politik mulai terasa terik seperti hari-hari belakangan ini, jelas saya harus mengesampingkan seluruh sentimen tersebut. Saya sangat membutuhkan rakyat kecil untuk memayungi kepentingan dan ambisi politik saya agar tidak menguap tertelan angin begitu saja, saya sudah kadung invest teramat banyak untuk kompetisi yang entah apa relevansinya bagi peningkatan kesejahteraan rakyat kecil ini. Mereka sekali lagi harus membantu dengan mencontreng nama saya di dalam bilik-bilik suara kelak. Sebab kalau tidak, saya bangkrut.

Saya akan dengan sangat agresif mendekati mereka, menuliskan slogan-slogan yang seragam tentang kemakmuran rakyat (seolah saya yang paling tahu cara memakmurkan mereka), meneriakkan sekeras-kerasnya bahwa saya akan berbuat yang terbaik untuk mereka dan sangat mencintai mereka, saya akan melakukan apa saja untuk membahagiakan mereka, mengangkat derajat kehidupan mereka (sambil tak berkaca pada derajat kemanusiaan sebelah mana sebenarnya saya berada) dan akan saya tumpahkan segala janji yang membius yang biasa di bisikkan dengan penuh syahwat oleh seorang pemuda untuk mencuri barang paling berharga sekaligus paling nikmat dari seorang gadis. Hmmm…

Rakyat tidak mungkin memiliki hak untuk memajang fotonya di ruang publik seperti saya, rakyat tidak mungkin memiliki akses terhadap kekuasaan, rakyat tidak mungkin mengandalkan intelektualitas, rakyat tidak mungkin -katakanlah- anggota legislatif, sebab begitu diresmikan mereka serta merta akan berubah menjadi wakil rakyat yang terhormat, yang harus diperlakukan berbeda dari sebelumya ketika masih menjadi rakyat (saja). Kemudian secara gradual para wakil rakyat ini akan mengalami disorientasi, distorsi, sekaligus disfungi pengabdian terhadap yang mereka wakili. Toh, tak ada yang benar-benar tahu, siapa sebenarnya yang disebut rakyat kecil yang harus diwakili itu?

Anda punya jawaban???

{ 35 Comments } to Balada Rakyat Kecil. Siapakah Mereka???

  1. suryaden

    harus dipahami bahwa tuan di negeri ini adalah rakyat kecil yang selalu dihina, namun alangkah berbudi luhurnya mereka karena selalu menerima hinaan dan tipuan itu dengan lapang dada dan dendam…

  2. Andy MSE

    sindirane pas banget… hehe

  3. Novianto

    Rakyat Kecil memang selalu saja jadi objek kedzoliman duh…….

  4. ipanks

    wah ini kayanya si om udah ikut bursa pemilihan yap,soalnya bau-baunya udah mulai kampanya.eh tapi bener ga sih?daripada dijitak mendingan daku kaburrrrrrrrrrrrrrrr

  5. Kardjo

    siapa memilih siapa…. hmmm
    kenyangkan dulu, pasti gampang untuk dihasut.. *agree*

  6. SURABAYA KREATIF

    BENAR-BENAR SATIRE YANG SANGAT MENGENA

  7. SURABAYA KREATIF

    BENAR-BENAR SATIRE YANG SANGAT MENGENA. salam kreatif!

  8. bewe

    Memang tragis. Udah kecil, rakyat lagi.

  9. meylya

    kasihan sekali udah rakyat kecil lagi

  10. gajah_pesing

    Sip.. Apalah arti rakyat buatmu..
    *postingan seng uapik iki*
    Hidup Revolusi

  11. vika

    ah…. pengen nyalon ga klakon….

  12. gempur

    mantap raimu jeh!

  13. gadis rantau

    yack,betul. saya juga punya hak untuk berbicara.

  14. gempur

    sbenernya xkh. ardiansyah sudah layak dan sangat layak maju menjadi wakil rakyat “kere” setelah beberapa saat yang lalu didapuk menjadi the most “kere” man of the year.

    pemilu besok ini akan saya pilih sampean. gambar SBY jelas akan saya tempeli dengan wajah sampean. Aku tak ngeprint sik teko omah, lek wes nang bilik suara, tak tempelno wajah sampean dan tak contreng sampean. ojok kuatir.

  15. gempur

    tulisan sampean bener-bener apik. dalam hati menggerutu, kok bisa ya?!! aku kok ndak!!!?????? *mode iri on*

  16. Caleg

    Kasihan rakyat kecil itu. Kita hanya bisa berbuat semmapunya. Rakyat kecil, dimana dirimu?

  17. aRuL

    rakyat kecil?
    perpektif sy dan anda tentunya berbeda. apalagi caleg.

  18. Edi Psw

    Keren gitu loh!

  19. zenteguh

    bos,
    ini nasionalis opo marhaenis….
    he..

  20. endar

    arep nyaleg po? mengko tak centang..

  21. Ikhsan

    Rakyat kecil memang lagi ngetren

  22. mudz069

    Yah, begitulah dunia.
    Kadang tanpa sadar kita telah menipu diri sendiri. Bahkan turut membiayainya.
    Lihat saja dimedia.
    Semua produsen berlomba lomba memasang iklan, merayu kita untuk memilihnya.
    Biaya iklan yang cukup mahal tentu saja akan diselipkan dipos promosi yang ujungnya akan membebani cost produksi dan melambungkan harga jual.
    Finally, kita sebagai konsumen yang akan ketiban sampur.

    Dalam perspektif sebuah negara, potret semacam hubungan produsen-konsumen juga terjadi. Dan sang “produsen” tentu saja akan membebankan biaya promosi berupa pemasangan poster, sepanduk, bea mejeng di media juga ongkos “gizi” ke partainya kepada kita sebagai penghuni piramida terbawah.
    Mungkin sebaiknya peran sebagai produsen itu di rolling saja……..so, wong sak Indonesia kebagian kesempatan nangkring di gedung dewan. Enak adil ! tapi apa mungkin yo ?

  23. Dony Alfan

    Sindirane alus tur pedes. Jayalah negeri ini, jayalah negeri ini!

  24. aCist`

    Seeeeeeeeepppp…

    Sindiran untuk siapa aku tak tahu, yang jelas, mantaf, benar..

  25. mama icel

    namanya aja kita ini rakyat kecil,wong cilik,suarane gak ada yang didengar….saake rek…

  26. aRai

    aku paling seneng dengan kata² ini “saya sudah kadung invest teramat banyak untuk kompetisi yang entah apa relevansinya bagi peningkatan kesejahteraan rakyat kecil ini.” (lmao)(lmao)(lmao)(lmao)

  27. novi

    jangan nakut-nakuti rakyat to kyai.. mereka kan sdg euforia memilih bintangnya…

  28. Yari NK

    Sebenarnya masing2 punya kewajibannya sendiri2. Menjadi ‘rakyat besar’ ada kewajibannya, menjadi rakyat kecil ada juga kewajibannya.

    Masing2 harus disiplin dalam menegakkan kewajibannya itu. Nah, bangsa kita ini (nggak semuanya lho) kebanyakan memang belum baik melaksanakan tugas2nya baik sebagai rakyat kecil maupun yang sebagai ‘rakyat besar’. Huehehe….

  29. sapimoto

    Mungkin seperti saya yang kecil ini, Mas…
    Tulisan ini apakah sebuah e-mail dari seorang pejabat besar yang dipublikasikan melalui blog ini? :lol:

  30. tukang Nggunem

    O sampeyan nyindir to?? nyindir sopo??? opo yakin saiki isih mempan do disindir?? lha di pisuhi langsung we isih gak bergeming kok…

    *nb: fotomu njelehi…hahahaha

  31. kacrut

    humm… sing penting coblos jenggote..

    aniwei.. tulisannya sangat bagus,,

    sip..!!

  32. sawali tuhusetya

    “suara rakyat adalah suara Tuhan”, begitulah ungkapan yang sering kita dengar. mestinya orang2 yang merasa dirinya paling elite mesti ingat ungkapan itu. kalau rakyat kecil sudah marah, jangan salahkan mereka kalau suatu ketika mereka bisa memberikan “azab” yang lebih pedih!

  33. Kyai slamet

    Kupluke Pakdhe Karwo ndang balekke… Wonge nggoleki kae lho!

  34. Opiniherry

    Permisi…
    Saya ingin menyampaikan pesan penting dari “orang besar” buat semua rakyat kecil :
    Tanggal 9 April besok jangan lupa untuk datang ke TPS…
    Gunakan hak pilih anda dengan baik dan benar…
    Lalu, CONTRENG YANG TIDAK PERLU…!
    Cheers…

  35. dloen

    waw, kenepa q ga bisa yang pertama……….

Leave a Reply


1 June 2010 • Pekerjaan • ardyansah

Ketika mendengar “canting”, orang pasti terpikir perangkat mungil berbentuk cawan dengan pegangan dan ujung “pena” yang biasa digunakan oleh seniman batik untuk menggores dan memberi sentuhan akhir untuk karya-karyanya. Canting adalah simbol kesadaran untuk berkarya. Kecil, bersahaja, tetapi sangat besar peranannya. Barangkali filosofi inilah yang mendasari Derry Sunarso, sutradara rendah hati yang karyanya banyak terinspirasi kemegahan [...][...]

26 January 2010 • Ketertarikan, Pekerjaan, Penuturan • ardyansah

Menulis, -menurut saya- dalam banyak hal tak jauh berbeda dari mendesain. Sama-sama merancang, sama-sama mengandalkan ide sebagai ruh, sama-sama bekerja dengan imajinasi (dan atau fantasi), sama-sama membutuhkan kreativitas untuk mengemasnya menjadi sebuah entitas karya,  juga yang pasti sama-sama tak mudah mengerjakannya. Estetika dalam desain bisa dinilai dari bentuk, komposisi, warna, dan elemen-elemen visual lainnya. [...][...]