Ketika mendengar “canting”, orang pasti terpikir perangkat mungil berbentuk cawan dengan pegangan dan ujung “pena” yang biasa digunakan oleh seniman batik untuk menggores dan memberi sentuhan akhir untuk karya-karyanya.
Canting adalah simbol kesadaran untuk berkarya. Kecil, bersahaja, tetapi sangat besar peranannya. Barangkali filosofi inilah yang mendasari Derry Sunarso, sutradara rendah hati yang karyanya banyak terinspirasi kemegahan [...][...]
Menulis, -menurut saya- dalam banyak hal tak jauh berbeda dari mendesain. Sama-sama merancang, sama-sama mengandalkan ide sebagai ruh, sama-sama bekerja dengan imajinasi (dan atau fantasi), sama-sama membutuhkan kreativitas untuk mengemasnya menjadi sebuah entitas karya, juga yang pasti sama-sama tak mudah mengerjakannya.
Estetika dalam desain bisa dinilai dari bentuk, komposisi, warna, dan elemen-elemen visual lainnya. [...][...]
Simply interested in Computer Graphic Art, Multimedia Application, History of Culture, and Religion Contemplation. I believe in one supreme Allah, but I hate doctrine.
Mengaku mantan kyai, mantan desainer, dan mantan jenius yang belum menjadi mantan manusia. Sehari-hari bercumbu dengan anak cucu turunan Microsoft, Google, Adobe, dan AutoDesk, demi mencari sesuap nasi dan sekeranjang berlian. Menikmati [...][...]